Mbak Odilia, 

Bagus sekali ceritanya dan sangat menyentuh.
Lebih menarik lagi bagaimana si kecil Gagas 
bisa lebih peka daripada kita yg dewasa terhadap
sesamanya ?
Mungkin kita2 sudah lebih kebal dengan berita2
sedih tentang bencana atau juga sudah jenuh.

Selamat Natal juga pada semua yang merayakannya..

Salam , martin - jakarta



----- Original Message ----
From: odilia winneke <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, December 23, 2006 11:06:07 AM
Subject: [Jalansutra] Sega Aking

Sega Aking

Teman-teman JS,

Sudah seminggu ini Gagas, si kecilku setiap pulang sekolah selalu 
mengajakku berdiskusi, tepatnya menghujaniku dengan pertanyaan. Aku 
maklum karena dia sedang getol membaca koran Berani (koran khusus 
anak-anak) di sekolah. Dia merasa sok tahu untuk semua urusan, dari 
penjahat, film sampai issue politik yang tidak dimengerti. Yang 
belakangan selalu ditanya adalah soal Nasi Aking (yang dalam bhs. 
Jawa disebut 'sega aking'). 'Apa sih nasi aking itu?'. 'Kenapa orang 
di desa banyak yang makan nasi aking ya ma?', 'Kenapa kok berasnya 
nggak ada?', 'Pak SBY makan nasi aking nggak ma di istana?', 'Mama 
bisa nggak masak nasi aking?'. Aku berusaha sabar dan memberi 
pengertian secara bertahap. Sampai akhirnya suatu malam dia melihat 
tayangan sebuah berita soal nasi aking. Tiba-tiba dia diam tanpa 
komentar saat melihat 2 orang anak seusianya makan sepiring nasi 
aking dibagi berdua dengan lauk kerupuk kanji. 'Ma, kita punya beras 
berapa ya?'. Secara berbisik dia mengutarakan keinginannya untuk 
mengirim beras ke desa mereka. 
Kejadian itu mengingatkanku pada puluhan tahun silam saat aku hampir 
seusianya (8 tahun), menginap di sebuah panti asuhan. Selama 2 hari 
menginap, aku bersama sejumlah teman-temanku ikut makan dan bekerja 
seperti anak lain. Makan siang kami berupa sepiring nasi yang 
ditaruh di piring plastik, sepotong kecil tempe dan semangkuk sayur 
labu. Aku agak kaget melihat warna nasi yang agak kekuningan, saat 
masuk ke mulut dan mengunyah, terasa sangat 'pera', kering dan agak 
liat. Anak-anak panti itu mengajariku untuk menuang sayur ke atas 
nasi. Setelah diaduk-aduk barulah nasi terasa agak lunak dan bisa 
ditelan. Melalui ibuku aku akhirnya aku tahu kalau nasi yang kumakan 
adalah nasi aking. Menjemur nasi yang tak habis dimakan memang 
sering dilakukan ibuku. Setelah kering barulah dicampur dengan biji 
jagung dan dedak dan sedikit air untuk pakan ayam dan bebek 
peliharaan kami. 
Setelah sekian puluh tahun tiba-tiba nasi aking menjadi populer. 
Harganya per liter Rp. 2.500,00 dan banyak diburu orang karena 
mereka tak mampu membeli beras. Membayangkan rasa hambar, alot 
dengan rasa 'ngletis' keras dan aroma yang asam (kecut), benar-benar 
membuat aku prihatin. Apalagi di sebuah seminar tentang gizi anak, 
Prof. Sukirman menyatakan bahwa kita menghadapi kasus serius soal 
gizi seimbang. Jumlah anak yang kurang gizi sama banyaknya dengan 
jumlah anak yang kelebihan gizi (overweight dan obesitas). Bagaimana 
nasib bangsa ini kalau sebagian besar anak-anak hanya dijejali 4 
suap nasi aking per hari? 
Untuk memberi gambaran tentang rasa nasi aking, pagi tadi aku 
membuat nasi goreng buat si kecil, dengan api agak besar sehingga 
nasi sebagian mengering dan keras. Si kecilku protes karena nasi 
gorengnya keras. Setelah aku jelaskan bahwa itu mirip nasi aking, 
dia menangis. Dia mulai mengerti, nasi gorengpun licin tandas 
dimakannya!
Semoga keprihatinan panjang yang dialami bangsa ini cepat berakhir. 
Kita bisa mulai berhemat untuk setiap butiran nasi yang masuk ke 
dalam mulut. Makan nasi yang kita ambil atau kita pesan saat makan 
di restoran, sampai habis. Menanak nasi secukupnya. Sambil mengingat 
masih banyak mulut-mulut kecil yang merindukan butiran nasi setiap 
hari. Tuhan pasti tak tinggal diam!

"Selamat Natal 2006"

Odilia
Ciniru




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke