Ini dulu tanggapan terhadap tulisan yang diforward
Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> dari milis
tetangga. 

Kalau saya hanya hendak menanggapi apa yang dikatakan
NH Dini.

Sastra ganjil
Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH
Dini menyatakan, saat ini memang ada yang ganjil dalam
dunia sastra. Entah mengapa tiba-tiba ada sekelompok
penulis perempuan yang giat menulis cerita bergaya
pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu.
Entah sengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan
erotisme menjadi sama saja dengan pronografi.

Komentar saya: apa bedanya novel PADA SEBUAH KAPAL
yang ditulis "sastrawati beken" ini dengan novel-novel
yang dia anggap sebagai "pornografi"? Saya yakin kalau
orang-orang MUI, MMI dan sebangsanya membaca novel
yang barangkali dielu-elukan oleh konco-nya Taufik
Ismail sebagai "novel sastra" itu, buya-buya MUI dan
MMI tersebut serempak akan mengatakan: CABUL. 
---------------

To:     [email protected]
From:   "Dana Pamilih" <[EMAIL PROTECTED]>  
Date:   Fri, 22 Dec 2006 15:00:03 -0000
Subject: [wanita-muslimah] Re: Fw: [surau] Gerakan
Syahwat Merdeka Mengepung Indonesia

Harus dapat membedakan antara erotisme dan pornografi.
Tidak semua yang berurusan dengan syahwat itu kotor,
kriminal dan dosa.

Erotisme adalah bentuk seni yang merangsang syahwat
dengan indah. Sedangkan pornografi tidak mengandung
unsur seni.

Erotisme jika dinikmati oleh pasangan suami istri,
tidak ada salahnya, malah menambah kenikmatan hidup.

Ekivalen dengan alkohol, kalau dipakai mabuk2an enggak
keruan itu bahaya tapi kalau dalam bentuk wine
appreciation itu bentuk seni yang intelek.

Budaya primitif yang jahiliyah biasanya tidak dapat
membedakan antara seni dengan ekses.

--- In wanita-muslimah@ yahoogroups. com, "H. M. Nur
Abdurrahman" <mnabdurrahman@ ...> wrote:

Jumat, 22 Desember 2006
Gerakan Syahwat Merdeka Mengepung Indonesia

Seorang bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar
ruangan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM),
Cikini Raya, Jakarta Pusat. Langkahnya acuh saja.
Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati penyair
Taufiq Ismail yang tengah dirubung banyak orang.
Setelah sampai di dekat Taufiq, ia menyalaminya.

''Selamat ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali.
Tapi ingat, media massa Indonesia juga banyak
sampahnya. Lihat siaran televisi Anda. Bayangkan kalau
di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00 pagi,
di sini malah diputar pada prime time,'' kata si bule
sembari memegang tangan Taufiq. Yang disalaminya pun
membalas dengan senyum simpul. ''Terima kasih
Tuchrello. Memang demikian adanya. Maaf, kalau banyak
mengambil contoh negara Anda,'' jawab Taufiq.

Sesaat dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah
Will Tuchrello, direktur Perpustakaan Kongres AS
Perwakilan Indonesia . ''Bayangkan, mereka saja resah
atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu. Tapi,
kok kita tidak ya?'' ujar penulis lirik lagu-lagu hits
Bimbo ini.

Taufiq, Rabu (20/12) malam, melalui pidato
kebudayaannya di depan kalangan Akademi Jakarta
mengguncangkan kesadaran publik untuk kembali menengok
nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia .
Bahkan, Taufiq lugas menyebutkan hilangnya rasa malu
itu telah mulai meruntuhkan bangunan bangsa.

Tagihan rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata
mahal sekali. Indonesia dikepung gerakan 'Syahwat
Merdeka'! ''Gerakan syahwat merdeka ini tak bersosok
organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri.
Tapi, bekerja sama bahu-membahu melalui jaringan
mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi
gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa
cetak dan eletronik menjadi pengeras suaranya,'' kata
Taufiq dalam pidatonya.

Ketika mendengar 'kesaksian' Taufiq, sesaat ruangan
Teater Kecil yang penuh dipadati puluhan pengunjung
mendadak berubah. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din
Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil yang
memuat pidato Taufiq Ismail.

Dari arah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan
panjang. Seorang ibu berguman. Penulis skenario film
senior, Misbach Yusa Biran, menggeleng-gelangka n
kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul Syukur
tepekur di kursinya.

Ruangan teater pun terus senyap. Suhu udara
berpendingin kini mulai terasa merambahi kulit. Taufiq
kemudian meneruskan pidatonya dengan menjelaskan
mengenai siapa saja yang menjadi komponen 'syahwat
merdeka' itu.

Paling tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung
fanatik gerakan ini. Pertama adalah praktisi
sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas
hetero dan homo, terang-terangan dan
sembunyi-sembunyi. Kedua, para penerbit majalah dan
tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya
SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan
televisi.

''Semua orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar
kaca. Setiap tayangan televisi rata-rata 170 juta
pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia 4,2 juta di
dunia dan 100 ribu di internet Indonesia . Untuk
mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya
dilakukan baik dari San Fransisco, maupun Klaten,''
tegasnya.

Pendukung keempat adalah penulis, penerbit, dan
propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra. Di
Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya
adalah penulis pria. Di Indonesia sebaliknya. Penulis
yang asyik menulis wilayah 'selangkangan dan
sekitarnya' mayoritas perempuan. ''Dalam hal ini ada
kritikus Malaysia berkata, 'Wah Pak Taufiq, pengarang
Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu?''
ungkap Taufiq Ismail.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam,
produsen VCD/DVD porno. Ketujuh, pabrikan alkohol.
Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba.
Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok.
Hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat
permisif, interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin
akrab sekali. Sukar dipisahkan.

Selanjutnya, komponen ke-10 adalah para pengiklan
perempuan dan laki-laki panggilan. Ke-11, germo dan
pelanggan prostitusi. Ke-12 adalah dukun dan dokter
praktisi aborsi.

''Bayangkan data menunjukan angka aborsi di Indonesia
mencapai 2,2 juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik
seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita
meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau
gabungan faktor-faktor di atas,'' tandas Taufiq
Ismail.

Menurut Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu
kemudian tecermin dalam gemuruh gelombang penolakan
RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini adalah pihak ke-13.
Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah satu
kekurangan RUU ini, yang perlu ditambah dan
disempurnakan adalah perlindungan terhadap anak-anak
yang jumlahnya 60 juta.

Perbandingannya, kalau di Indonesia masih nihil
perundangan perlindungan anak, di AS anak-anak di sana
paling tidak kini dilindungi enam undang-undang.

Sastra ganjil
Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH
Dini menyatakan, saat ini memang ada yang ganjil dalam
dunia sastra. Entah mengapa tiba-tiba ada sekelompok
penulis perempuan yang giat menulis cerita bergaya
pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu.
Entah sengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan
erotisme menjadi sama saja dengan pronografi.

''Beberapa waktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya
dikirimi mendiang Ramadhan KH sebuah novel Indonesia
yang mendapat penghargaan karya sastra. Ramadhan,
karena tidak 'kuat' membaca, meminta saya membaca
novel tersebut. Dan benar, saya hanya kuat baca
beberapa lembar saja.'' ''Saya kemudian berpikir, apa
bagusnya novel ini, kok sampai mendapat penghargaan?
Malah lebih terkejut lagi, ketika bertemu dengan
seorang rohaniwan, dia malah memuji novel itu.
Akhirnya, saya semakin tidak mengerti,'' tutur NH
Dini.

Budayawan Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang
dikatakan Taufiq itu memang kenyataan yang kini
terjadi. Beberapa penulis memang menghasilkan karya
yang 'tidak masuk akal' karena hanya membahas soal
selangkangan. Dominasi ide hanya memaparkan idealisme
hedonis. Realitas kehidupan rakyat yang berbudi
diabaikan.

''Entah apa yang dipikirkan generasi hedonis itu.
Mutunya sangat jauh bila dibanding karya Pramudya
Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi penurunan mutu
karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang
kini mengepung kita,'' tandas Al Azhar.

( muhammad subarkah )
http://www.republik a.co.id/koran_ detail.asp?
id=276485& kat_id=3

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke