Turut sedih dan mikir.
KEPADA KITA SEMUA: maka aktiflah mencari bakat-bakat
terpendam, dan jadilah produser atau paling tidak
fasilitator untuk penerbitan buku dlsb. Jadi, selain
bertahan dari '-' dengan a.l. catatan penilaian,
jugalah maju terus mempersembahkan '+' lebih banyak
dan gencar.

Bagaimana dengan 'cerpen pendek' saya (maaf) berjudul
LAMUNANKU pada 2 Desember baru lalu di milis ini,
adakah termasuk 'sastra ganjil'? Mohon informasi.
Ataukah harusnya dipanjangkan dan/atau di perbaiki
dulu dikit lagi?

Lebih dari itu, saya berkeinginan pula untuk dapat
menjelaskan dengan cara lain di luar yang ada selama
ini masalah isi dan makna Pancasila, dan tentang tata
negara dalam masalah peradaban. Tidak aneh kan?.
Terima kasih.

Tabik,
HI - Jkt.

--- Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Jumat, 22 Desember 2006
> 
> Gerakan Syahwat Merdeka Mengepung Indonesia 
> 
> Seorang bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar
> ruangan Teater Kecil
> Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta
> Pusat. Langkahnya acuh
> saja. Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati
> penyair Taufiq Ismail
> yang tengah dirubung banyak orang. Setelah sampai di
> dekat Taufiq, ia
> menyalaminya.
> 
> ''Selamat ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali.
> Tapi ingat, media massa
> Indonesia juga banyak sampahnya. Lihat siaran
> televisi Anda. Bayangkan kalau
> di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00
> pagi, di sini malah diputar
> pada prime time,'' kata si bule sembari memegang
> tangan Taufiq. Yang
> disalaminya pun membalas dengan senyum simpul.
> ''Terima kasih Tuchrello.
> Memang demikian adanya. Maaf, kalau banyak mengambil
> contoh negara Anda,''
> jawab Taufiq.
> 
> Sesaat dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah
> Will Tuchrello, direktur
> Perpustakaan Kongres AS Perwakilan Indonesia.
> ''Bayangkan, mereka saja resah
> atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu.
> Tapi, kok kita tidak ya?''
> ujar penulis lirik lagu-lagu hits Bimbo ini.
> 
> Taufiq, Rabu (20/12) malam, melalui pidato
> kebudayaannya di depan kalangan
> Akademi Jakarta mengguncangkan kesadaran publik
> untuk kembali menengok
> nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia.
> Bahkan, Taufiq lugas
> menyebutkan hilangnya rasa malu itu telah mulai
> meruntuhkan bangunan bangsa.
> 
> Tagihan rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata
> mahal sekali. Indonesia
> dikepung gerakan 'Syahwat Merdeka'! ''Gerakan
> syahwat merdeka ini tak
> bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri
> sendiri. Tapi, bekerja
> sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan
> kapital raksasa
> mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya,
> dan banyak media massa
> cetak dan eletronik menjadi pengeras suaranya,''
> kata Taufiq dalam
> pidatonya.
> 
> Ketika mendengar 'kesaksian' Taufiq, sesaat ruangan
> Teater Kecil yang penuh
> dipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua
> Umum PP Muhammadiyah,
> Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil
> yang memuat pidato
> Taufiq Ismail.
> 
> Dari arah bangku belakang, kemudian terdengar
> lenguhan panjang. Seorang ibu
> berguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa
> Biran,
> menggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer
> Slamet Abdul Syukur tepekur
> di kursinya.
> 
> Ruangan teater pun terus senyap. Suhu udara
> berpendingin kini mulai terasa
> merambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan
> pidatonya dengan menjelaskan
> mengenai siapa saja yang menjadi komponen 'syahwat
> merdeka' itu.
> 
> Paling tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung
> fanatik gerakan ini.
> Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan
> pribadi dan kelompok seks
> bebas hetero dan homo, terang-terangan dan
> sembunyi-sembunyi. Kedua, para
> penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah
> menikmati tiada perlunya
> SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan
> pengiklan televisi.
> 
> ''Semua orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh
> layar kaca. Setiap tayangan
> televisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs
> porno kini tersedia 4,2
> juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia.
> Untuk mengaksesnya malah
> tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San
> Fransisco, maupun
> Klaten,'' tegasnya.
> 
> Pendukung keempat adalah penulis, penerbit, dan
> propagandanis buku-buku
> sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang
> mencabul-cabulkan
> karyanya adalah penulis pria. Di Indonesia
> sebaliknya. Penulis yang asyik
> menulis wilayah 'selangkangan dan sekitarnya'
> mayoritas perempuan. ''Dalam
> hal ini ada kritikus Malaysia berkata, 'Wah Pak
> Taufiq, pengarang Indonesia
> berani-berani. Kok mereka tidak malu?'' ungkap
> Taufiq Ismail.
> 
> Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam,
> produsen VCD/DVD porno.
> Ketujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen,
> pengedar, dan pengguna
> narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan
> pengisap rokok. Hal ini
> dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat
> permisif, interaksi antara seks,
> narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar dipisahkan.
> 
> Selanjutnya, komponen ke-10 adalah para pengiklan
> perempuan dan laki-laki
> panggilan. Ke-11, germo dan pelanggan prostitusi.
> Ke-12 adalah dukun dan
> dokter praktisi aborsi.
> 
> ''Bayangkan data menunjukan angka aborsi di
> Indonesia mencapai 2,2 juta
> setahun. Maknanya, setiap 15 detik seorang calon
> bayi di suatu tempat di
> negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari
> salah satu atau gabungan
> faktor-faktor di atas,'' tandas Taufiq Ismail.
> 
> Menurut Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu
> kemudian tecermin dalam
> gemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan
> Pornoaksi. Ini adalah pihak
> ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan
> salah satu kekurangan RUU
> ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah
> perlindungan terhadap
> anak-anak yang jumlahnya 60 juta.
> 
> Perbandingannya, kalau di Indonesia masih nihil
> perundangan perlindungan
> anak, di AS anak-anak di sana paling tidak kini
> dilindungi enam
> undang-undang.
> 
> Sastra ganjil
> Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan
> NH Dini menyatakan, saat
> ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah
> mengapa tiba-tiba ada
> sekelompok penulis perempuan yang giat menulis
> cerita bergaya pornografi.
> Mereka memang tidak merasa risi atau malu. Entah
> sengaja atau tidak, mereka
> sudah menyalahartikan erotisme menjadi sama saja
> dengan pronografi.
> 
> ''Beberapa waktu lalu, ketika tinggal di Prancis,
> saya dikirimi mendiang
> Ramadhan KH sebuah novel Indonesia yang mendapat
> penghargaan karya sastra.
> Ramadhan, karena tidak 'kuat' membaca, meminta saya
> membaca novel tersebut.
> Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa lembar
> saja.'' ''Saya kemudian
> berpikir, apa bagusnya novel ini, kok sampai
> mendapat penghargaan? Malah
> lebih terkejut lagi, ketika bertemu dengan seorang
> rohaniwan, dia malah
> memuji novel itu. Akhirnya, saya semakin tidak
> mengerti,'' tutur NH Dini.
> 
> Budayawan Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang
> dikatakan Taufiq itu memang
> kenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang
> menghasilkan karya yang
> 'tidak masuk akal' karena hanya membahas soal
> selangkangan. Dominasi ide
> hanya memaparkan idealisme hedonis. Realitas
> kehidupan rakyat yang berbudi
> diabaikan.
> 
> ''Entah apa yang dipikirkan generasi hedonis itu.
> Mutunya sangat jauh bila
> dibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad
> Tohari. Terjadi penurunan
> mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka
> memang kini mengepung
> kita,'' tandas Al Azhar.
> 
> 
=== message truncated ===




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke