http://www.kompas.com/ver1/Nusantara/0612/24/215935.htm
Bangsa Indonesia Belum Sepenuhnya Bersatu Laporan Wartawan Kompas Ambrosius Harto SAMARINDA, KOMPAS - Harus disadari bahwa suasana kehidupan diwarnai berbagai kekhawatiran dan ketakutan. Kebebasan hidup beragama mengalami banyak hambatan dan ada usaha adu domba antarumat beragama. Sementara itu, krisis kepercayaan antara penguasa dan rakyat, antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan antara satu kelompok dengan kelompok lain berpotensi mengancam kehidupan bersama. "Bangsa ini belum sepenuhnya bersatu. Berbagai perbedaan tidak dipandang sebagai kekayaan tetapi justru sebagai alasan untuk memisahkan diri satu dari yang lain," kata Uskup Agung Samarinda, Mgr Florentinus Sului Hajang Hau MSF, dalam Misa Malam Natal di Gereja Santa Maria (Katedral) Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (24/12) malam. Uskup Agung Samarinda membacakan Pesan Natal Bersama Konferensi Waligereja Indonesia dan Persatuan Gereja-gereja di Indonesia Tahun 2006. Adapun tema tahun ini adalah "Dialah Damai Sejahtera yang Telah Mempersatukan". Akibatnya, lanjut Uskup Agung Samarinda, perbedaan seringkali berakhir dengan pertentangan dan perpecahan. Oleh karena itu, masyarakat merindukan kehidupan bersama yang penuh damai sejahtera dan hanya dapat terwujud bila seluruh warga bangsa bersatu. Adapun latar belakang munculnya tema itu berkenaan dengan situasi umat Kristiani awal di Efesus sekitar 2000 tahun lalu. Saat itu, Efesus dilanda bahaya perpecahan dan sedang berupaya keras untuk memelihara keutuhan jemaat. Bagi masyarakat Kristiani awal, perpecahan disatukan dalam diri Yesus Kristus. "Kondisi di Efesus masih relevan dengan yang dialami bangsa saat ini," kata Uskup Agung Samarinda. Untuk mengatasinya, tidak ada cara selain bersatu dan bersama-sama memperjuangkan kepentingan bersama. Suasana Pada misa itu, gereja disesaki oleh umat Katolik. Misa diawali dengan iringan tarian enam gadis berpakaian Dayak Modang. Secara umum, misa berjalan tertib dan lancar. Adapun untuk pengamanan Natal, Kepolisian Kota Besar Samarinda mengerahkan 550 personel. Sebanyak 106 gereja dijaga oleh polisi. Beberapa saat sebelum misa atau ibadat, polisi mengecek beberapa gereja dengan alat pendeteksi bom.
