http://www.gatra.com/artikel.php?id=100318
Jejak Obama di Jakarta Barack Obama & Jay Leno (Yahoo! News/REUTERS/Margaret Norton/NBC)Tak banyak yang tahu bahwa Barack Obama pernah mengenyam pendidikan dasar di Jakarta. Bahkan guru-guru yang pernah mengajarnya tak tahu pula bahwa anak didiknya itu menjadi senator Amerika. Mereka baru tahu setelah sejumlah wartawan menginformasikan hal itu, sekaligus mencoba mengorek cerita mengenai Obama semasa bersekolah di sana. "Apa, murid sekolah ini ada yang jadi senator Amerika?" begitulah reaksi pertama bekas guru-guru Obama. Mulanya mereka tak percaya. Reaksi berikutnya, ya, rasa haru dan bangga, seperti dilontarkan Israella Darmawan, 62 tahun. "Wah, tentu kami merasa bangga karena sekolah kami pernah ikut berperan menelurkan seorang pemimpin," katanya. Barack Obama, yang disebut-sebut sebagai calon kuat kandidat Presiden Amerika 2008 dari Partai Demokrat, pernah tercatat sebagai murid di SD Franciscus Asisi di kawasan Menteng Dalam, Jakarta Pusat. Tentu saja para guru di sekolah Katolik itu tidak mengenal nama Barack Obama. Sebab, ketika ia masuk sekolah tersebut pada 1 Januari 1968, duduk di kelas 1B, namanya tercatat sebagai Barry Soetoro. Dalam dokumen kesiswaannya, Barry kecil disebutkan sebagai warga negara Indonesia, lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961. Dalam kolom orangtua tertulis ayahnya bernama L. Soetoro, ibunya bernama Ann Durham. Barry tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya itu di Jalan H. Ramli, di belakang SD Asisi. Di rumah itu tinggal pula adik tirinya, Maya Soetoro. Barry bersekolah di SD Asisi karena sekolah itu dekat sekali dengan rumahnya. Setiap ke sekolah, bocah itu selalu diantar ibunya. Barry memang sangat dekat dengan ibunya. Sang ibu selalu membekalinya roti tawar berlapis selai. "Kalau siang, Barry pasti makan roti selainya itu," tutur Israella, yang pernah mengajar Barry di kelas I. Di sekolah itu, Barry termasuk angkatan kedua. Ketika pertama kali dioperasikan pada 1967, sekolah itu hanya memiliki dua ruang kelas. Lantainya masih pasir, atap tanpa eternit. Di sekolah yang berkembang menjadi perguruan mulai TK, SD, SMP, SMU, hingga SMK ini, Barry cuma belajar sampai kelas III. Sayang, catatan prestasi belajar bocah itu tidak diketahui. Lembar kolom penilaian di halaman samping data pribadi Barry dibiarkan kosong tak terisi. Namun, seingat Israella, Barry sangat menonjol dalam pelajaran matematika. Tapi, dalam pelajaran bahasa Indonesia, Barry masih jeblok. Maklumlah, sejak kecil ia terbiasa berbahasa Inggris. Ketika masuk sekolah Asisi, praktis ia kesulitan berkomunikasi. Namun, menurut Israella, Barry termasuk cepat belajar. Enam bulan berselang, kesulitan komunikasi itu bisa diatasinya. Barry mulai bisa berbahasa Indonesia, meski belum fasih. Dari kenangan yang bisa diingat Israella, Barry memang anak yang mudah beradaptasi, cerdas, dan disiplin. "Barry juga memiliki tulisan tangan yang rapi, seperti orang-orang Barat pada umumnya," kata Israella. Barry kecil memiliki sifat-sifat seperti juga bocah umumnya. Dia doyan bermain dengan anak lain, malah kadang berantem. Dalam pergaulan di sekolah dan lingkungan tempat tinggal, Barry cukup beken. Semua teman gampang mengenalnya. Maklum, ia memiliki ciri khusus yang berbeda dari anak lainnya. Dengan kulit hitam, rambut keriting, anak itu cepat menarik perhatian orang. Apalagi badannya yang bongsor. Tipe kulit, rambut, dan bodinya itu diwarisi dari orangtuanya. Ayahnya, Barack Hussein Obama Sr., yang asal Kenya, kawin dengan Ann Durham yang asal Wichita, Kansas. Orangtuanya ini bercerai saat Barry berusia dua tahun. Dengan cirinya itu, Barry kerap digoda teman-temannya. "Kalau digoda, dia cuma bisa bilang 'curang-curang'," tutur Harmon Askiar, 52 tahun, bekas tetangga Barry di Menteng Dalam. Menurut Harmon, Barry sering main ke rumahnya. "Karena di sini (waktu itu) ada banyak anak kecil. Ada lima laki-laki dan dua perempuan," ujar Harmon. Adik Harmon, Etty Hayati, 51 tahun, menuturkan bahwa Barry memang sering digoda teman-temannya. "Karena jarang anak bule kulit hitam di sini. Selain itu, badannya besar dan montok. Kami jadi gemes," papar Etty. Etty membenarkan, setiap Barry digoda, kata yang keluar dari mulut Barry adalah "curang". Etty termasuk paling demen menggoda Barry. "Kesukaannya makan permen berbentuk cabe. Nah, pernah suatu kali saya kasih cabe beneran, dia terus kepedesan sambil teriak-teriak curang," ujar Etty. Barry juga suka makan cokelat. "Saya godain dengan mengganti cokelat dengan terasi, lagi-lagi dia bilang curang." Etty mengaku, pada 1990-an masih ketemu ibunda Barry, Ann Durham. "Beliau memang sering menjahitkan baju kepada saya," kata Etty. Waktu itu, Ann yang doktor ekonomi pertanian dari University of Hawaii di Manoa --disertasinya tentang pandai besi di Indonesia-- antara lain menjadi konsultan di BRI. Orangnya ramah dan cerdas. Ketika ketemu dengan Ann --meninggal tahun 1995-- Etty juga sering menanyakan kabar soal Barry. "Menurut ibu Barry, dia juga masih ingat teman-temannya yang di sini," tutur Etty. Sebagai bekas tetangga, Etty turut bangga karier politik Barry kian menanjak. Ia pun mendoakan Barry sukses menapaki karier politik yang lebih tinggi. Doa yang sama disampaikan Israella. Apalagi, yang paling diingatnya, ada guru yang bercerita bahwa Barry pernah membuat sebuah karangan saat di kelas III. Karangan Barry itu menceritakan bahwa dirinya ingin menjadi seorang presiden suatu saat nanti. "Semoga Barry menjadi pemimpin yang hebat," ucap Israella. Taufik Alwie dan Mukhlison S. Widodo [Ragam, Gatra Nomor 4 Beredar Kamis, 7 Desember 2006]
