Sebagai seorang budayawan seharusnya Taufiq Ismail tahu bahwa kadang-
kadang seniman perlu menggunakan ekspresi-ekspresi tentang 
seksualitas untuk memberikan kedalaman pemikiran dan perasaan dari 
gagasan besar yang sedang diusungnya lewat karya kreatifnya itu. Dan 
bila sang seniman berhasil membuat kita menangkap pesan yang lebih 
dalam, maka ekspresi-ekspresi tersebut sebenarnya tidak menjadi 
masalah. Dalam beberapa karyanya Umar Kayam Mohtar Lubis, N.H. Dini, 
W.S. Rendra, Ahmad Tohari dsb. pernah memakai ekspresi-ekspresi 
seperti tersebut di atas. 

Yang menjadi masalah ialah, bila ekspresi-ekspresi tentang 
seksualitas itu tidak memberi kedalaman pemikiran dan perasaan 
tentang gagasan besar yang sedang diusung sang seniman. (Apalagi 
kalau ekspresi-ekspresi itu disajikan secara blatant dan vulgar). 
Ekspresi-ekspresi tentang seksualitas itu menjadi mengganggu 
dan "norak". Dan bagi orang yang tidak mempunyai cita rasa artistik 
dan otaknya "ngeres", ekspresi-ekspresi itulah yang dianggapnya 
sebagai gagasan besar yang sedang diusung oleh sang seniman. Pada 
gilirannya pemahaman yang salah-kaprah itu hanya mengumbar nafsu 
rendah manusia.

Tapi saya jadi bertanya-tanya, mengapa hanya mengeluhkan ekspresi-
ekspresi tentang seksualitas? Bagaimana dengan ekspresi-ekspresi 
tentang hal-hal lain yang juga diumbar secara berlebihan, blatant dan 
vulgar?   

Saya melihat bahwa di banyak karya, ekspresi-ekspresi tentang Tuhan 
dan agama pun acapkali diobral tanpa berhasil memberikan kedalaman 
pemikiran dan perasaan dari gagasan besar yang sedang diusung sang 
seniman lewat karya kreatifnya. Dan sama halnya seperti seksualitas,  
ekspresi-ekspresi itu pun acapkali  terasa mengganggu, "norak",  dan 
yang pada gilirannya juga hanya mengumbar nafsu rendah manusia.

Kalau Taufiq Ismail mengeluh tentang media massa kita yang sarat 
dengan ekspresi-ekspresi tentang seksualitas, maka seyogianya ia juga 
mengeluh tentang media massa kita yang juga sarat dengan ekspresi-
ekspresi tentang Tuhan dan agama yang blatant dan vulgar. Bagi saya, 
mengobral ekspresi tentang seksualitas demi tujuan popularitas dan 
uang, sama saja bahayanya dengan mengobral ekspresi tentang Tuhan dan 
agama  demi tujuan popularitas dan uang. 

Tapi dalam konteks karya-karya kreatif, kita sebenarnya bukan hanya 
mengalami masalah dengan ekspresi-ekspresi tentang seksualitas dan 
Tuhan. Kita juga mengalami masalah dengan ekspresi-ekspresi tentang 
reformasi, demokrasi, keadilan, pendidikan, dan sebagainya.

Menurut hemat saya, dewasa ini persoalan kita sebagai masyarakat dan 
bangsa ialah bahwa kita telah kehilangan citarasa dan kepekaaan dalam 
memandang berbagai kenyataan kehidupan. (Aduh, lihatlah tingkah laku 
para politisi, birokrasi, penggiat LSM dan sebagainya itu). Kita 
sedang mengalami proses pendangkalan berpikir dan merasa.

Tapi pada fihak lain, para seniman kita pun tak bisa melepaskan diri 
dari kubangan lumpur pendangkalan yang sedang melanda masyarakat dan 
bangsanya. (Alih-alih menjadi teratai yang mampu memberikan bunga 
yang indah, mereka tetap tinggal menjadi lele). 

Mereka telah kehilangan kemampuan untuk bisa menangkap berbagai 
persoalan kehidupan yang dihadapi oleh dirinya, masyarakatnya dan 
bangsanya, serta juga telah kehilangan kemampuan untuk membungkus 
persoalan-persoalan  tersebut secara kreatif dalam ekspresi-ekspresi 
yang subtil, sehingga masyarakat menjadi terbebaskan dan tercerahkan.

Kalau memang benar adanya bahwa reformasi, demokrasi, keadilan, 
kesejahteraan, seksualitas dan Tuhan adalah persoalan besar yang 
sedang kita hadapi sebagai masyarakat dan bangsa; maka mana karya-
karya membebaskan dan mencerahkan yang merupakan pergumulan intens 
para seniman tentang hal-hal tersebut? Tidak ada!

Memang dalam beberapa karyanya seniman-seniman kita merepet tentang 
reformasi, demokrasi, keadilan, kesejahteraan dsb. Tapi ekspresi-
ekspresinya juga sama blatant dan vulgarnya seperti ketika mereka 
berbicara tentang seksualitas dan Tuhan serta agama. Dengarkanlah 
ekspresi-ekspresi yang biasa dibacakan oleh para seniman kita 
(bersama dengan para saudagar, bintang filem sinetron, politisi, 
agamawan dsb) pada malam menjelang Hari Proklamasi 17 Agustus atau 
malam Pergantian Tahun itu. Datar, dingin, tak memberi kedalaman apa 
pun, bahkan mengganggu atau "norak". (Dan menurut hemat saya sajak-
sajak Taufiq Ismail adalah salah satu dari karya yang seperti itu).

Kalau saya hadir di TIM ketika Taufiq Ismail membacakan orasi 
kebudayaannya, saya juga pasti gelisah. Tapi kegelisahan saya pasti 
akan berbeda dengan kegelisahan Din Syamsuddin dan kaum agamawan 
lainnya yang cenderung melihat kerusakan moral masyarakat dan bangsa 
ini hanya di seputar kebobrokan moral dan etika seksual.

Saya gelisah karena seorang seniman dan budayawan seperti Taufiq 
Ismail melihat persoalan masyarakat dan bangsa ini secara sangat 
sederhana dan meredusirnya hanya ke urusan seksualitas. Saya gelisah 
karena orasi kebudayaan cenderung berubah menjadi ceramah agama yang 
populer. Saya gelisah karena lagi-lagi seniman dan budayawan 
Indonesia--dalam kasus ini, Taufiq Ismail--tak mampu menangkap 
persoalan yang sedang dihadapi masyarakat dan bangsanya secara 
mendalam dan komprehensif.

Akhirnya, maafkanlah saya kalau gerutuan saya ini berubah 
menjadi "orasi kebudayaan" yang seharusnya menjadi porsi tuan-tuan 
terhormat yang menduduki kursi Akademi Jakarta itu.

Selamat memasuki Tahun Baru 2007. Jayalah Indonesia.

Horas,

Mula Harahap  





In [email protected], "Wido Q Supraha" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Jumat, 22 Desember 2006

Gerakan Syahwat Merdeka Mengepung Indonesia 

Seorang bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar ruangan Teater 
Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat. 
Langkahnya acuh saja. Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati 
penyair Taufiq Ismail yang tengah dirubung banyak orang. Setelah 
sampai di dekat Taufiq, ia menyalaminya.

''Selamat ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali. Tapi ingat, media 
massa Indonesia juga banyak sampahnya. Lihat siaran televisi Anda. 
Bayangkan kalau di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00 
pagi, di sini malah diputar pada prime time,'' kata si bule sembari 
memegang tangan Taufiq. Yang disalaminya pun membalas dengan senyum 
simpul. ''Terima kasih Tuchrello. Memang demikian adanya. Maaf, kalau 
banyak mengambil contoh negara Anda,'' jawab Taufiq.

Sesaat dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah Will Tuchrello, 
direktur Perpustakaan Kongres AS Perwakilan Indonesia. ''Bayangkan, 
mereka saja resah atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu. 
Tapi, kok kita tidak ya?'' ujar penulis lirik lagu-lagu hits Bimbo 
ini.

Taufiq, Rabu (20/12) malam, melalui pidato kebudayaannya di depan 
kalangan Akademi Jakarta mengguncangkan kesadaran publik untuk 
kembali menengok nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia. 
Bahkan, Taufiq lugas menyebutkan hilangnya rasa malu itu telah mulai 
meruntuhkan bangunan bangsa.

Tagihan rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata mahal sekali. 
Indonesia dikepung gerakan 'Syahwat Merdeka'! ''Gerakan syahwat 
merdeka ini tak bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri 
sendiri. Tapi, bekerja sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, 
dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang 
melandasinya, dan banyak media massa cetak dan eletronik menjadi 
pengeras suaranya,'' kata Taufiq dalam pidatonya.

Ketika mendengar 'kesaksian' Taufiq, sesaat ruangan Teater Kecil yang 
penuh dipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua Umum PP 
Muhammadiyah, Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil 
yang memuat pidato Taufiq Ismail.

Dari arah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan panjang. 
Seorang ibu berguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa 
Biran, menggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul 
Syukur tepekur di kursinya.

Ruangan teater pun terus senyap. Suhu udara berpendingin kini mulai 
terasa merambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan pidatonya dengan 
menjelaskan mengenai siapa saja yang menjadi komponen 'syahwat 
merdeka' itu.

Paling tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung fanatik gerakan ini.
Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok 
seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. 
Kedua, para penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati 
tiada perlunya SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan 
televisi.

''Semua orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar kaca. Setiap 
tayangan televisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini 
tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia. Untuk 
mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San 
Fransisco, maupun Klaten,'' tegasnya.

Pendukung keempat adalah penulis, penerbit, dan propagandanis buku-
buku sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-
cabulkan karyanya adalah penulis pria. Di Indonesia sebaliknya. 
Penulis yang asyik menulis wilayah 'selangkangan dan sekitarnya' 
mayoritas perempuan. ''Dalam hal ini ada kritikus Malaysia 
berkata, 'Wah Pak Taufiq, pengarang Indonesia berani-berani. Kok 
mereka tidak malu?'' ungkap Taufiq Ismail.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD 
porno. Ketujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan 
pengguna narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap 
rokok. Hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, 
interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar 
dipisahkan.

Selanjutnya, komponen ke-10 adalah para pengiklan perempuan dan laki-
laki panggilan. Ke-11, germo dan pelanggan prostitusi. Ke-12 adalah 
dukun dan dokter praktisi aborsi.

''Bayangkan data menunjukan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 
juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu 
tempat di negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah 
satu atau gabungan faktor-faktor di atas,'' tandas Taufiq Ismail.

Menurut Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu kemudian tecermin 
dalam gemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini 
adalah pihak ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah 
satu kekurangan RUU ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah 
perlindungan terhadap anak-anak yang jumlahnya 60 juta.

Perbandingannya, kalau di Indonesia masih nihil perundangan 
perlindungan anak, di AS anak-anak di sana paling tidak kini 
dilindungi enam undang-undang.

Sastra ganjil

Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH Dini 
menyatakan, saat ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah 
mengapa tiba-tiba ada sekelompok penulis perempuan yang giat menulis 
cerita bergaya pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu. 
Entah sengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan erotisme 
menjadi sama saja dengan pronografi.

''Beberapa waktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya dikirimi 
mendiang Ramadhan KH sebuah novel Indonesia yang mendapat penghargaan 
karya sastra. Ramadhan, karena tidak 'kuat' membaca, meminta saya 
membaca novel tersebut. Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa 
lembar saja.'' ''Saya kemudian berpikir, apa bagusnya novel ini, kok 
sampai mendapat penghargaan? Malah lebih terkejut lagi, ketika 
bertemu dengan seorang rohaniwan, dia malah memuji novel itu. 
Akhirnya, saya semakin tidak mengerti,'' tutur NH Dini.

Budayawan Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang dikatakan Taufiq itu 
memang kenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang 
menghasilkan karya yang 'tidak masuk akal' karena hanya membahas soal 
selangkangan. Dominasi ide hanya memaparkan idealisme hedonis. 
Realitas kehidupan rakyat yang berbudi diabaikan.

''Entah apa yang dipikirkan generasi hedonis itu. Mutunya sangat jauh 
bila dibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi 
penurunan mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang 
kini mengepung kita,'' tandas Al Azhar.

( muhammad subarkah ) 

http://www.republik
<http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=276485&kat_id=3>
a.co.id/koran_detail.asp?id=276485&kat_id=3



Kirim email ke