Dalam kasus konflik P. Bambang Wisudo-manajemen Kompas tidak bisa dilepaskan 
peran pihak PSDM Kompas dalam pemecatan ini. Surat pemecatan tersebut dikonsep 
dan kemudian diserahkan oleh H. Bambang Sukartiono selaku Manajer PSDM Kompas 
Media Nusantara. 
   
  Selaku pejabat, yang bersangkutan pasti sadar benar cacatnya prosedur yang ia 
jalankan. Bahwa dalam proses pemecatan harus ada dialog dengan karyawan ybs, 
proses mediasi hingga beberapa teguran secara tertulis.
   
  Namun selaku  pejabat PSDM H.Bambang SK memang masih belum berpengalaman. 
Latarbelakangnya sebagai pemimpin redaksi di bagian pemberitaan TV7 pun tidak 
begitu bagus. Ketika proses peralihan kepemilikan TV7 dari KKG ke Trans TV, 
beliau dianggap "tinggal glanggang colong playu," tidak mengurusi anak-anak 
buahnya yang kebingungan.
   
  Namun situasi ini bukan hanya terjadi di Kompas, tetapi juga di semua anak 
perusahaan KKG. Posisi manajer PSDM atau bagian kepegawaian dianggap strategis 
dan basah sehingga sering diperebutkan.
   
  Dosa-dosa yang biasanya dilakukan oleh bagian PSDM adalah:
  1. Tidak mensosialisasi peraturan-peraturan perusahaan yang menguntungkan 
karyawan. 
  Misalnya: hak cuti haid karyawan wanita tidak pernah diberikan. Kalau pun ada 
yang  meminta dikesankan sebagai karyawan yang manja.
  2. Tidak memberi tahu adanya perubahan peraturan perusahaan. 
  Hal ini jelas dari adanya perbedaan persepsi antara Wisudo dengan manajemen 
Kompas seoal adanya larangan menyebarluaskan suatu pemberitahuan di lingkungan 
perusahaan.  Selama ini undangan pertandingan futsal, perayaan kebaktian dapat 
ditempel dengan bebas tanpa ijin dari pihak security.
  3. Menekan karyawan atas permintaan pihak pimpinan. 
  Ini jelas dalam kasus Wisudo. Namun hal ini kabarnya juga berlangsung di 
unit-unit atau anak perusahaan yang lain. Posisi manajer atau pimpinan PSDM 
yang lemah karena balas budi (Spt Bambang Sukartiono) atau mereka yang sudah 
terlalu lama di posisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya KKN dan 
konspirasi dalam menekan karyawan yang tidak disukai.  Hal ini terlihat dengan 
banyaknya kasus di unit Percetakan, Majalah, Medior dll.
   
  Kalau kasus Wisudo ini dianggap sebagai momentum untuk introspeksi seharusnya 
manajemen KKG mulai membenahi sektor PSDM ini.  Pejabat yang sudah terlalu lama 
(lebih dari 3 tahun) di bagian tersebut diusahakan untuk dirotasi sehingga ada 
penyegaran dan dapat menghindari praktik-praktik KKN tersebut.
   
  Sementara  buat PSDM sosialisasi hak-hak karyawan seharusnya menjadi 
prioritas sehingga kasus-kasus seperti di atas akan dapat terhindarkan karena 
karyawan tahu koridor-koridor hukum yang tidak boleh mereka langgar.
   
  Sekali lagi, saya setuju pernyataan kasus Wisudo ini hanya puncak dari gunung 
es yang tenggelam di dasar laut KKG. Masih banyak "Wisudo-wisudo" lain yang 
diperlakukan sewenang-wenang oleh pihak manajemen. Di masa depan, kalau tidak 
segera dibenahi, mungkin akan segera meledak. Apalagi sejak lengsernya Pak 
Jakob Oetama, sudah muncul banyak penguasa kecil yang siap melampiaskan dendam 
pribadi mereka.
   
  Kalau kesewenangan pimpinan+PSDM di KKG ini bertemu kesadaran karyawan atau 
rasa frustasi mereka, rasanya tidak aneh bila akan terjadi big bang  di KKG.
   
   


            Kasus yang menimpa wartawan senior Kompas, Paulus Bambang Wisudo 
sebenarnya hanya puncak dari sebuah gunung es yang tenggelam di dasar laut 
Kelompok Kompas Gramedia (KKG).  TIndakan ini diperkirakan akan berdampak luas 
pada etos kerja karyawan kelompok yang pernah sangat berjaya ini.
   
  Sejak soko-guru KKG, Bp Jakob Oetama  (JO) memutuskan lengser karena usianya 
yang sudah lanjut, perubahan drastis memang terjadi di kelompok ini. Duet Agung 
Adiprasetya-Suryopratomo yang dipercaya mengemudikan kapal besar ini sejak awal 
sudah mencanangkan akan ada perubahan, terutama dari kultur.
   
  Gaya kepemimpinan JO  sebagai "bapak yang baik dan mengayomi " serta "pemilik 
perusahaan kaya raya yang rendah hati"  dianggap sudah tidak cocok lagi dengan 
jamannya yang makin keras dengan persaingan yang ketat. Diperlukan gaya 
kepemimpinan yang lugas  dan tegas kepada karyawan namun bernai biacara keras 
dan high-profile kepada publik.
   
  Tidak heran salah satu pimpinan teras KKG dari kelompok BOLA mengembangkan 
prinsip  "jangan rendah hati" tapi arogan dan high-profile tapi memiliki 
prestasi." Prinsip ini dianggap lebih cocok daripada gaya low profile,high 
profit dari Pak JO.
   
  Manajemen baru KKG ini agaknya menganggap kultur "guyub dan kekeluargaan" 
yang terkenal dari KKG harus segera berganti. Dan prinsip ini sayangnya 
diterjemahkan oleh para pimpinan di lapis kedua dan ketiga sebagai penyingkiran 
orang-orang lama yang telah belasan atau puluhan tahun mengabdi KKG notabene 
dengan figur JO-nya.
   
  Karena itulah, KKG sekarang banyak merekrut tenaga baru, muda dan profesional 
untuk menduduki posisi-posisi strategis. Mereka tidak lagi memandang proses 
jenjang karir dan pengalaman sebagai sesuatu yang penting. Mereka juga 
mengharap orang-orang baru ini secara perlahan dapat mengubah  etos kerja KKG 
yang lama yang lamban dan guyub menjadi lebih kompetitif.
   
  Tenaga lama KKG ini diharapkan "tahu diri" dan memberi jalan buat 
tenaga-tenaga baru yang dianggap lebih prospektif.
   
  Usaha "penyingkiran" orang-orang yang masih menganut faham Pak JO ini 
dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
  1. Tidak adanya kesempatan pengembangan individual karyawan
  Di berbagai kebijakan, usia maksimal bagi karyawan untuk mengikuti pelatihan 
adalah 35 tahun.
  2.  Pergeseran posisi
  Jabatan-jabatan strategis di banyak unit mulai diberikan kepada  karyawan 
rekrutan baru atau mereka yang berusia muda. Karyawan lama atau berusia tidak 
produktif lagi dijadikan karyawan biasa.
  3. Penghilangan renumerasi
  Bagi karyawan lama yang mendekati usia pensiun, besaran penghasilan menjadi 
hal utama. Belakangan dihembuskan isu tentang penghapusan beberapa hak karyawan 
seperti dana pensiun, uang terimakasih saat pensiun, sampai tunjangan cuti.
  4. Pembuangan
  Beberapa karywan terancam dengan "pembuangan" dengan pemidnahan ke daerah, 
seperti yang dialami Paulus Bambang Wisudo yang akan dipindah ke Ambon serta 
Syahnan Rangkuti yang dipindah ke Padang. Bagi wartawan muda Kompas ini adalah 
konsekuensi yang harus dijalani karena pernah menandatangani klausul, "Bersedia 
ditempatkan di mana saja." Bahkan disebutkan ini semacam "kawah Candradimuka" 
sebelum yang bersangkutan ditarik kembali sebagai pimpinan di jajaran redaksi.
   
  Namun banyak kasus memperlihatkan tindakan tersebut semata-mata pembuangan 
dari yang bersangkutan. Seperti yang dialami oleh fotografer kawakan Arbain 
Rambey dan wartawati senior Brigitta Isworo yang pernah "digodok" di Medan, 
Denpasar serta Surabaya. Atau seperti fotografer favorit saya Eddy Hasby yang 
kini dibuang di Jawa Tengah. Toh, setelah kembali mereka bahkan hanya  menjadi 
wartawan biasa dan mulai dilupakan orang.
   
  Namun kalau dilihat siapa jajaran pimpinan Kompas saat ini yang pernah 
"digodok" di kawah Candradimuka di daerah  tersebut?  Bahkan pemimpin redaksi 
Suryopratomo pun tidak pernah.  Begitu pun jajaran lapis kedua.  Belum lagi 
beberapa kasus penolakan penempatan seperti ke Ujungpandang oleh seorang 
wartawan.
   
  Bagi karyawan KKG yang berjumlah belasan ribu tersebut, tindak kekerasan dan 
tegas terhadap  Paulus Bambang Wisudo menimbulkan banyak kekhawatiran bahwa 
tindakan ini dapat menjadi presden buat karyawan lain yang dianggap bandel. 
Mitos bahwa manajemen selalu bersikap persuasif dan dialogis kepada karyawan 
yang bermasalah langsung sirna.
   
  Tindakan ini dikhawatirkan pula menjadi pembenaran buat pihak-pihak untuk 
melampiaskan dendam sesama karyawan. Tidak dapat dipungkiri, manajemen KKG  
pimpinan duet AA-Tom masih sarat dengan orang-orang dengan paradigma lama yang  
suka menjilat, oportunistis, mencari kesempatan namun kini memiliki legitimasi 
dan kekuasaan penuh untuk melakukan tindakan apa pun terhadap karyawan yang 
tidak mereka sukai termasuk tindak pemecatan.
   
  Dengan situasi ketidakpatian dan ketidaknyamanan ini, secara perlahan-lahan 
kultur KKG yang  guyub, solid, kuat yang melahirkan sikap social-concern 
seperrti diletakkan founding fathers Bpk PK Ojong dan Bpk. Jakob Oetama atau 
pun senior-senior lainnya seperti Bp P. Swantoro akan berganti menjadi  kultur 
oportunistis, economic-animals  dan bahkan homo homini lupus... Quo vadis?
   
   
   
   
    
---------------------------------
  Bosan dengan spam? Mel Yahoo! memiliki perlindungan spam yang terbaik
http://my.mail.yahoo.com/  

         

 __________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

Kirim email ke