halo sahabat, Kesulitan yang paling besar adalah menyadari kesalahan diri sendiri, oleh karena itu kebanyakan Manajer SDM menjadi sasaran. Padahal, ada kemungkinan kita sendiri yang mengemban jabatan SDM tersebut, dan harus menanggung keinginan ribuan orang yang banyak macam.
Soal peraturan, tidak ada salahnya kita aktif mencari tahu, Manajer SDM tidak akan cari penyakit dengan menyiarkan gejolak, padahal beban kerja sudah menumpuk. Kita pikir Karyawan Kompas itu sama seperti di tempat kerja kita , berisi orang-orang yang oportunis, padahal, kalau anda kerja di Kompas tahun pertama anda masih coba-coba, tahun ketiga anda sudah pasrah, tahun ke-5 anda baru mengerti apa itu Integritas, kejujuran diatas segalanya. Makanya kalau masih ada model pembangkang dari orang-orang lama, benar-benar disayangkan. Orang-orang Kompas itu pikirannya lurus-lurus, tidak belok-belok. Wajar dimana-mana karyawan fresh membawa angin segar, dinamis, pendidikan lebih, kecerdasan lebih, inovasi datangnya dari karyawan baru. salam damai, Goenardjoadi Goenawan --- In [email protected], angkara tumpas <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Dalam kasus konflik P. Bambang Wisudo-manajemen Kompas tidak bisa dilepaskan peran pihak PSDM Kompas dalam pemecatan ini. Surat pemecatan tersebut dikonsep dan kemudian diserahkan oleh H. Bambang Sukartiono selaku Manajer PSDM Kompas Media Nusantara. > > Selaku pejabat, yang bersangkutan pasti sadar benar cacatnya prosedur yang ia jalankan. Bahwa dalam proses pemecatan harus ada dialog dengan karyawan ybs, proses mediasi hingga beberapa teguran secara tertulis. > > Namun selaku pejabat PSDM H.Bambang SK memang masih belum berpengalaman. Latarbelakangnya sebagai pemimpin redaksi di bagian pemberitaan TV7 pun tidak begitu bagus. Ketika proses peralihan kepemilikan TV7 dari KKG ke Trans TV, beliau dianggap "tinggal glanggang colong playu," tidak mengurusi anak-anak buahnya yang kebingungan. > > Namun situasi ini bukan hanya terjadi di Kompas, tetapi juga di semua anak perusahaan KKG. Posisi manajer PSDM atau bagian kepegawaian dianggap strategis dan basah sehingga sering diperebutkan. > > Dosa-dosa yang biasanya dilakukan oleh bagian PSDM adalah: > 1. Tidak mensosialisasi peraturan-peraturan perusahaan yang menguntungkan karyawan. > Misalnya: hak cuti haid karyawan wanita tidak pernah diberikan. Kalau pun ada yang meminta dikesankan sebagai karyawan yang manja. > 2. Tidak memberi tahu adanya perubahan peraturan perusahaan. > Hal ini jelas dari adanya perbedaan persepsi antara Wisudo dengan manajemen Kompas seoal adanya larangan menyebarluaskan suatu pemberitahuan di lingkungan perusahaan. Selama ini undangan pertandingan futsal, perayaan kebaktian dapat ditempel dengan bebas tanpa ijin dari pihak security. > 3. Menekan karyawan atas permintaan pihak pimpinan. > Ini jelas dalam kasus Wisudo. Namun hal ini kabarnya juga berlangsung di unit-unit atau anak perusahaan yang lain. Posisi manajer atau pimpinan PSDM yang lemah karena balas budi (Spt Bambang Sukartiono) atau mereka yang sudah terlalu lama di posisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya KKN dan konspirasi dalam menekan karyawan yang tidak disukai. Hal ini terlihat dengan banyaknya kasus di unit Percetakan, Majalah, Medior dll. > > Kalau kasus Wisudo ini dianggap sebagai momentum untuk introspeksi seharusnya manajemen KKG mulai membenahi sektor PSDM ini. Pejabat yang sudah terlalu lama (lebih dari 3 tahun) di bagian tersebut diusahakan untuk dirotasi sehingga ada penyegaran dan dapat menghindari praktik-praktik KKN tersebut. > > Sementara buat PSDM sosialisasi hak-hak karyawan seharusnya menjadi prioritas sehingga kasus-kasus seperti di atas akan dapat terhindarkan karena karyawan tahu koridor-koridor hukum yang tidak boleh mereka langgar. > > Sekali lagi, saya setuju pernyataan kasus Wisudo ini hanya puncak dari gunung es yang tenggelam di dasar laut KKG. Masih banyak "Wisudo-wisudo" lain yang diperlakukan sewenang-wenang oleh pihak manajemen. Di masa depan, kalau tidak segera dibenahi, mungkin akan segera meledak. Apalagi sejak lengsernya Pak Jakob Oetama, sudah muncul banyak penguasa kecil yang siap melampiaskan dendam pribadi mereka. > > Kalau kesewenangan pimpinan+PSDM di KKG ini bertemu kesadaran karyawan atau rasa frustasi mereka, rasanya tidak aneh bila akan terjadi big bang di KKG. > > > > > Kasus yang menimpa wartawan senior Kompas, Paulus Bambang Wisudo sebenarnya hanya puncak dari sebuah gunung es yang tenggelam di dasar laut Kelompok Kompas Gramedia (KKG). TIndakan ini diperkirakan akan berdampak luas pada etos kerja karyawan kelompok yang pernah sangat berjaya ini. > > Sejak soko-guru KKG, Bp Jakob Oetama (JO) memutuskan lengser karena usianya yang sudah lanjut, perubahan drastis memang terjadi di kelompok ini. Duet Agung Adiprasetya-Suryopratomo yang dipercaya mengemudikan kapal besar ini sejak awal sudah mencanangkan akan ada perubahan, terutama dari kultur. > > Gaya kepemimpinan JO sebagai "bapak yang baik dan mengayomi " serta "pemilik perusahaan kaya raya yang rendah hati" dianggap sudah tidak cocok lagi dengan jamannya yang makin keras dengan persaingan yang ketat. Diperlukan gaya kepemimpinan yang lugas dan tegas kepada karyawan namun bernai biacara keras dan high-profile kepada publik. > > Tidak heran salah satu pimpinan teras KKG dari kelompok BOLA mengembangkan prinsip "jangan rendah hati" tapi arogan dan high- profile tapi memiliki prestasi." Prinsip ini dianggap lebih cocok daripada gaya low profile,high profit dari Pak JO. > > Manajemen baru KKG ini agaknya menganggap kultur "guyub dan kekeluargaan" yang terkenal dari KKG harus segera berganti. Dan prinsip ini sayangnya diterjemahkan oleh para pimpinan di lapis kedua dan ketiga sebagai penyingkiran orang-orang lama yang telah belasan atau puluhan tahun mengabdi KKG notabene dengan figur JO-nya. > > Karena itulah, KKG sekarang banyak merekrut tenaga baru, muda dan profesional untuk menduduki posisi-posisi strategis. Mereka tidak lagi memandang proses jenjang karir dan pengalaman sebagai sesuatu yang penting. Mereka juga mengharap orang-orang baru ini secara perlahan dapat mengubah etos kerja KKG yang lama yang lamban dan guyub menjadi lebih kompetitif. > > Tenaga lama KKG ini diharapkan "tahu diri" dan memberi jalan buat tenaga-tenaga baru yang dianggap lebih prospektif. > > Usaha "penyingkiran" orang-orang yang masih menganut faham Pak JO ini dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: > 1. Tidak adanya kesempatan pengembangan individual karyawan > Di berbagai kebijakan, usia maksimal bagi karyawan untuk mengikuti pelatihan adalah 35 tahun. > 2. Pergeseran posisi > Jabatan-jabatan strategis di banyak unit mulai diberikan kepada karyawan rekrutan baru atau mereka yang berusia muda. Karyawan lama atau berusia tidak produktif lagi dijadikan karyawan biasa. > 3. Penghilangan renumerasi > Bagi karyawan lama yang mendekati usia pensiun, besaran penghasilan menjadi hal utama. Belakangan dihembuskan isu tentang penghapusan beberapa hak karyawan seperti dana pensiun, uang terimakasih saat pensiun, sampai tunjangan cuti. > 4. Pembuangan > Beberapa karywan terancam dengan "pembuangan" dengan pemidnahan ke daerah, seperti yang dialami Paulus Bambang Wisudo yang akan dipindah ke Ambon serta Syahnan Rangkuti yang dipindah ke Padang. Bagi wartawan muda Kompas ini adalah konsekuensi yang harus dijalani karena pernah menandatangani klausul, "Bersedia ditempatkan di mana saja." Bahkan disebutkan ini semacam "kawah Candradimuka" sebelum yang bersangkutan ditarik kembali sebagai pimpinan di jajaran redaksi. > > Namun banyak kasus memperlihatkan tindakan tersebut semata-mata pembuangan dari yang bersangkutan. Seperti yang dialami oleh fotografer kawakan Arbain Rambey dan wartawati senior Brigitta Isworo yang pernah "digodok" di Medan, Denpasar serta Surabaya. Atau seperti fotografer favorit saya Eddy Hasby yang kini dibuang di Jawa Tengah. Toh, setelah kembali mereka bahkan hanya menjadi wartawan biasa dan mulai dilupakan orang. > > Namun kalau dilihat siapa jajaran pimpinan Kompas saat ini yang pernah "digodok" di kawah Candradimuka di daerah tersebut? Bahkan pemimpin redaksi Suryopratomo pun tidak pernah. Begitu pun jajaran lapis kedua. Belum lagi beberapa kasus penolakan penempatan seperti ke Ujungpandang oleh seorang wartawan. > > Bagi karyawan KKG yang berjumlah belasan ribu tersebut, tindak kekerasan dan tegas terhadap Paulus Bambang Wisudo menimbulkan banyak kekhawatiran bahwa tindakan ini dapat menjadi presden buat karyawan lain yang dianggap bandel. Mitos bahwa manajemen selalu bersikap persuasif dan dialogis kepada karyawan yang bermasalah langsung sirna. > > Tindakan ini dikhawatirkan pula menjadi pembenaran buat pihak- pihak untuk melampiaskan dendam sesama karyawan. Tidak dapat dipungkiri, manajemen KKG pimpinan duet AA-Tom masih sarat dengan orang-orang dengan paradigma lama yang suka menjilat, oportunistis, mencari kesempatan namun kini memiliki legitimasi dan kekuasaan penuh untuk melakukan tindakan apa pun terhadap karyawan yang tidak mereka sukai termasuk tindak pemecatan. > > Dengan situasi ketidakpatian dan ketidaknyamanan ini, secara perlahan-lahan kultur KKG yang guyub, solid, kuat yang melahirkan sikap social-concern seperrti diletakkan founding fathers Bpk PK Ojong dan Bpk. Jakob Oetama atau pun senior-senior lainnya seperti Bp P. Swantoro akan berganti menjadi kultur oportunistis, economic- animals dan bahkan homo homini lupus... Quo vadis? > > > > > > --------------------------------- > Bosan dengan spam? Mel Yahoo! memiliki perlindungan spam yang terbaik > http://my.mail.yahoo.com/ > > > > __________________________________________________ > Apakah Anda Yahoo!? > Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam > http://id.mail.yahoo.com >
