REFLEKSI: Ditemukan spieses baru tetapi kalaui tidak dilihat  faedahnya sama 
saja  seperti tidak tidak temukan, apa lagi pemerintah merencanakan untuk 
memperbesar industrial forest, jadi main babat maka bertambah miskinlah 
Kalimantan dan rakyat Dayaknya.

http://www.suarapembaruan.com/News/2006/12/26/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Ditemukan 52 Spesies Baru Hewan dan Tumbuhan di Kalimantan 
[JAKARTA] Potensi keaneragaman hayati hutan Kalimantan sangat tinggi karena 
menyimpan berbagai spesies yang belum teridentifikasi. Dalam beberapa tahun 
terakhir berhasil diidentifikasi sedikitnya 52 spesies hewan dan tumbuhan baru 
di pulau itu. 

Dalam laporan penelitian yang dilakukan oleh World Wildlife Fund (WWF) 
Indonesia disebutkan sedikitnya ada 30 jenis ikan yang unik, dua jenis kodok 
pohon, 16 jenis jahe, tiga jenis pohon dan satu jenis tumbuhan berdaun lebar. 

Salah satu ikan unik yang ditemukan adalah ikan kecil yang berukuran kurang 
dari satu sentimeter. Sebelumnya ikan terkecil di dunia ditemukan di kawasan 
gambut Provinsi Jambi. Kedua spesies itu memiliki habitat yang hampir sama, 
hidup kawasan perairan gambut dengan tingkat keasaman yang sangat tinggi. 

Selain itu juga ditemukan enam jenis ikan cupang dengan pola corak yang cantik, 
dan sejenis ikan lele yang memiliki gigi menonjol dan perut yang memudahkan 
untuk menempel pada batu. Ditemukan pula seekor kodok pohon dengan mata hijau 
terang yang mencolok. 

Sementara untuk tumbuhan penelitian itu berhasil mengungkapkan keberadaan 
jahe-jahean yang melimpah. Bahkan kuantitas jenisnya melebihi dua kali lipat 
jumlah spesies Etlingera yang telah ditemukan hingga saat ini. 

Koordinator Internasional WWF Program Heart of Borneo, Stuart Chapman, 
baru-baru ini menyebutkan, penemuan ini membuktikan Kalimantan adalah salah 
satu pusat keanekaragaman hayati yang penting di dunia. Kawasan "Heart of 
Borneo" adalah wilayah pegunungan seluas 220.000 kilometer persegi, yang 
ditutup oleh hutan hujan tropis. Pada pertemuan Konvensi Keanekaragaman Biologi 
(UN Convention on Biological Diversity) di Curitiba, Brazil, Maret 2006 lalu, 
tiga pemerintahan yang memiliki wilayah administratif di Pulau Kalimantan, 
Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia, menyatakan komitmennya untuk 
mendukung suatu prakarsa pemeliharaan dan pelestarian keanekaragaman hayati di 
kawasan itu. 

Namun kini, kondisi hutan Kalimantan terus terkikis akibat konversi hutan yang 
semakin meningkat. Pembukaan hutan itu dilakukan untuk kepentingan perkebunan 
karet, kelapa sawit dan hutan tanaman industri sebagai bahan kertas. Saat ini 
diperkirakan hutan alam asli Kalimantan hanya tinggal setengahnya saja. 

"Area pedalaman yang jauh dan sulit dijangkau adalah kawasan Heart of Borneo 
yang menjadi benteng terakhir dunia untuk ilmu pengetahuan dan penemuan banyak 
spesies lainya," jelasnya. 

Kalimantan dinilai memiliki potensi yang sangat besar akan keanekaragaman 
hayatinya. Laporan WWF April, 2005 lalu, menunjukkan bahwa antara tahun 1994 
hingga 2004 sedikitnya ada 361 jenis spesies baru ditemukan. [K-11] 


Last modified: 26/12/06 

Kirim email ke