salam
Spesies apa pula itu..??? siapa pula yang menemukannya..??! setidaknya itulah
beberapa pertanyaan yang sering terlontar oleh berbagai komunitas masyarakat
adat yang mendiami hutan-hutan di belantara Kalimantan.
Betapa tidak, sebagai komunitas yang pertama kali berdiam dikawasan hutan
Kalimantan jelas mereka sudah berakrab ria dengan spesies-spesies yang katanya
baru ditemukan itu. jadi menurut saya merekalah sesungguhnya "penemu spesies
itu" bukan ilmuan dari kota dan aktivis lingkungan yang terkadang seringkali
"mencuri pengetahuan lokal" mereka.
Benar sekali bahwa apapun spesies itu dan seunik apapun dia....pasti tidak
ada artinya jika isi kepala semua pihak, terutama pengusaha dan penguasa penuh
dengan keserakahan. Pembukaan perkebunan Kelapa sawit skala besar contoh pasti
musuh besar kelestarian alam, begitu pula dengan HPH dan konsesi pertambangan
tentunya.
Salah satu contoh yang memuakan bagi saya adalah, bagaimana MS.Kaban ( Menhut
RI ) pada tanggal 19 Oktober 2005, bertempat di dusun Tanjung karang Kecamatan
Putussibau Kab Kapuas Hulu Kalbar berjanji dihadapan masyarakat adat Kayaan
Mendalam untuk tidak akan pernah memberikan ijin HPH kepada siapapun untuk
membabat hutan di DAS Mendalam karena merupakan zona penyangga (buffer Zone)
TNBK. tetapi apa lacur.......pada bulan April 2006 MS Kaban mengeluarkan ijin
HPH kepada PT TORAS BANUA SUKSES (TBS) untuk melakukan pembabatan hutan di
wilayah adat Kayaan Mendalam.
Ironis sekaligus tragis......apalagi kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2002
telah mencanangkan dirinya sebagai "Kabupaten Konservasi". lalu....apa artinya
semua ini..... sekarang pertentangan terus terjadi di akar rumput akibat
dikeluarkan ijin HPH kepada PT Toras Banua Sukses tersebut.
Yang lebih menyedihkan lagi...usaha-usaha konservasi yang dilakukan oleh
pemerintah lebih mementingkan aspek lingkungan saja tapi menggusur atau tidak
memperhatikan masyarakat adat disekitar kawasan konservasi....(ekofasis)
Jelas sudah nasib orang Dayak akan semakin tersingkir....saya teringat akan
ungkapan seorang teman soal pelestarian lingkungan " Conservation tanpa
melibatkan masyarakat adat adalah Coversation"
wasalam
laurens
Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
REFLEKSI: Ditemukan spieses baru tetapi kalaui tidak dilihat
faedahnya sama saja seperti tidak tidak temukan, apa lagi pemerintah
merencanakan untuk memperbesar industrial forest, jadi main babat maka
bertambah miskinlah Kalimantan dan rakyat Dayaknya.
http://www.suarapembaruan.com/News/2006/12/26/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Ditemukan 52 Spesies Baru Hewan dan Tumbuhan di
Kalimantan [JAKARTA] Potensi keaneragaman hayati hutan Kalimantan sangat
tinggi karena menyimpan berbagai spesies yang belum teridentifikasi. Dalam
beberapa tahun terakhir berhasil diidentifikasi sedikitnya 52 spesies hewan dan
tumbuhan baru di pulau itu. Dalam laporan penelitian yang dilakukan oleh
World Wildlife Fund (WWF) Indonesia disebutkan sedikitnya ada 30 jenis ikan
yang unik, dua jenis kodok pohon, 16 jenis jahe, tiga jenis pohon dan satu
jenis tumbuhan berdaun lebar. Salah satu ikan unik yang ditemukan adalah ikan
kecil yang berukuran kurang dari satu sentimeter. Sebelumnya ikan terkecil di
dunia ditemukan di kawasan gambut Provinsi Jambi. Kedua spesies itu memiliki
habitat yang hampir sama, hidup kawasan perairan gambut dengan tingkat keasaman
yang sangat tinggi. Selain itu juga ditemukan enam jenis ikan cupang dengan
pola corak yang cantik, dan sejenis ikan lele yang memiliki gigi
menonjol dan perut yang memudahkan untuk menempel pada batu. Ditemukan pula
seekor kodok pohon dengan mata hijau terang yang mencolok. Sementara untuk
tumbuhan penelitian itu berhasil mengungkapkan keberadaan jahe-jahean yang
melimpah. Bahkan kuantitas jenisnya melebihi dua kali lipat jumlah spesies
Etlingera yang telah ditemukan hingga saat ini. Koordinator Internasional WWF
Program Heart of Borneo, Stuart Chapman, baru-baru ini menyebutkan, penemuan
ini membuktikan Kalimantan adalah salah satu pusat keanekaragaman hayati yang
penting di dunia. Kawasan "Heart of Borneo" adalah wilayah pegunungan seluas
220.000 kilometer persegi, yang ditutup oleh hutan hujan tropis. Pada pertemuan
Konvensi Keanekaragaman Biologi (UN Convention on Biological Diversity) di
Curitiba, Brazil, Maret 2006 lalu, tiga pemerintahan yang memiliki wilayah
administratif di Pulau Kalimantan, Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia,
menyatakan komitmennya untuk mendukung suatu prakarsa
pemeliharaan dan pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan itu. Namun
kini, kondisi hutan Kalimantan terus terkikis akibat konversi hutan yang
semakin meningkat. Pembukaan hutan itu dilakukan untuk kepentingan perkebunan
karet, kelapa sawit dan hutan tanaman industri sebagai bahan kertas. Saat ini
diperkirakan hutan alam asli Kalimantan hanya tinggal setengahnya saja. "Area
pedalaman yang jauh dan sulit dijangkau adalah kawasan Heart of Borneo yang
menjadi benteng terakhir dunia untuk ilmu pengetahuan dan penemuan banyak
spesies lainya," jelasnya. Kalimantan dinilai memiliki potensi yang sangat
besar akan keanekaragaman hayatinya. Laporan WWF April, 2005 lalu, menunjukkan
bahwa antara tahun 1994 hingga 2004 sedikitnya ada 361 jenis spesies baru
ditemukan. [K-11]
Last modified: 26/12/06
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com