Dear,
Saya melihat ada sikap emosional kalangan yang mengaku - ngaku sebagai jurnalis
"betulan" ketika membicarakan Porwanas. Uang rakyat, menggerogoti, korupsi,
bodrek, dlsb. Nyaris tidak ada tempat positif untuk even para "wartawannya"
Tarman Azzam itu.
Padahal, ini kan olahraga. Bikin sehat. Tempat untuk beradu sehat,
sekaligus menunjukkan prestasi di luar kemampuan melakukan investigasi dan
membuat berita. Kalau uang untuk penyelenggaraanya berasal dari uang negara
yang uang rakyat, pernahkah kita berpikir bahwa ketika kita naik bis kota,
membeli bensin, kita juga sudah memakan uang rakyat?
Porwanas IX di Samarinda berlangsung selama 10 hari mulai tanggal 1 - 10
Pebruari 2007, dengan biaya Rp10 Miliar. Tapi ada agenda lainnya sepeti
menyelenggarakan Hari Pers Nasional (HPN), Konvensi Media Massa dan Rakernas
SIWO.
Bagi (tentu sebagian) rakyat di Kaltim yang kaya sumber daya alam,
penyelenggaraan Porwanas sebagai even nasional di daerah adalah hal yang
membanggakan. Bukan orang Jakarta, Surabaya dan Bandung saja yang bisa menjadi
tuan rumah, sebab warga Kaltim juga mampu. Porwanas yang Rp10 M itu masih
sangat kecil dibanding dengan Popnas di Kaltim yang rencananya menghabiskan
Rp24 M dan PON tahun 2008 yang menelan biaya lebih Rp300 Miliar.
Apa makna dari gaya orang Kaltim yang terkesan menghambur uang rakyat
itu? Atau mengapa uang itu tidak digunakan untuk membantu orang miskin yang
sangat memerlukan?
Sejarah mencatat, kekayaan alam di Kalimantan Timur pada masa lalu selalu
dihambur-hamburkan oleh orang - orang di Jakarta. Mereka mengeruk kekayaan
alam, untuk membangun berbagai fasilitas olahraga, monumen membuat even-even
nasional dan internasional, sehingga Kota Jakarta dan daerah-daerah di Pulau
Jawa berdiri megah. Senjang dengan daerah-daerah di Kaltim atau Timur Indonesia
yang menjadi sumber duitnya. Karena Jakarta lebih modern, alhasil media dan
juga para jurnalisnya menjadi lebih pintar-pintar karena memang kondisinya
sebagai "penikmat" hasil uang kerukan daerah itu.
Jadi, sebenarnya terlalu pagi kalau kita berbicara tentang uang rakyat
dan siapa yang memakan uang rakyat. Ketika otonomi daerah bergulir, Kaltim dan
daerah kaya lainnya seperti Riau sebenarnya hanya mendapat kurang dari 10
persen dari hasil PDRB-nya. Bayangkan, dari Rp160 Triliun PDRB, yang kembali ke
Kaltim dalam wujud APBD Provinsi dan 13 Kota serta Kabupaten, hanya sekitar
Rp13 Triliun.
Oke, sekian dulu. Terima kasih.
Salam dari Samarinda
Charles Siahaan
===
----- Original Message ----
From: Tomi Satryatomo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; mediacare mediacare <[email protected]>
Sent: Tuesday, December 26, 2006 4:11:24 AM
Subject: [mediacare] Re: [pantau-komunitas] Kita Munafik Soal Marwah Profesi
Jurnalistik
Ahmad yang baik,
Terima kasih atas sentilan ini. Saya tak bisa bicara mewakili
kawan-kawan yang lain, tapi percayalah tidak membalas posting anda
tidak selalu berarti tidak memperhatikan. Saya tahu ada banyak kawan
yang bergerak secara konsisten untuk memberantas praktek suap pada
wartawan, baik dalam bentuk teri seperti amplop maupun kelas paus
seperti Porwanas.
Teruslah memposting. Insya Allah tetap banyak gunanya.
Wassalam
--
Tomi Satryatomo
http://www.trekeart h.com/members/ wisat
http://wisat. multiply. com
"We shall build good ship here,
at a profit if we can,
at a loss if we must,
but... always a good ship."
On 20/12/06, ahmad su'udi <akulahahmad@ yahoo.com> wrote:
>
> Bagi saya Porwanas adalah sebuah kesalahan besar dunia
> wartawan Indonesia (baca:PIW). Meskipun dilakukan oleh
> satu organisasi, namun Porwanas merupakan legitimasi
> bahwa semua wartawan penggerogot uang rakyat. Selain
> itu Porwanas terbukti menjadi ajang manipulasi
> profesi. Setiap digelar ajang ini ada puluhan oknum
> bukan wartawan diberi kartu biru PWI untuk bisa jadi
> atlet.
> Kenapa Anda sekalian tidak tergerak untuk bersuara,
> mengajak rekan sejawat yang sepikiran untuk bergerak
> menghentikan Porwanas? Antau Anda sekalian juga
> mendapat keuntungan dari kegiatan yang didanai uang
> rakyat puluhan miliar itu?
> Kasus wartawan tanpa media jelas atau bodrek. Mengapa
> Anda sekalian juga tak peduli. Seprofesional apapun
> Anda sebagai wartawan, percayalah, di pandangan umum,
> Anda disamakan dengan bondrek. Bagi saya bodrek itu
> sudah masuk ranah kriminal. Mereka memanfaatkan
> profesi wartawan untuk melakuka penipuan. Mengapa Anda
> sekalian membiarkan itu terus merebak?
>
> Sampai sekarang nyaris tidak ada langkah signifikan
> untuk menutup ruang gerak para pelaku kriminal atas
> nama bodrek. Akibatnya kelompok ini semakin lama terus
> berbiak dan kian membuat wajah jurnalistik Indonesia
> kia berlalat.
>
>
> Luah yang resah
>
> ahmad s.udi
>
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com