Saya rasa, penonton Indonesia terus dibanjiri oleh tontonan buruk bukan
karena para pengelola stasiun televisi sebenarnya tidak tahu apa yang
diinginkan penonton, melainkan karena para pengelola televisi memiliki
kesadaran etika yang rendah.

Saya ambil contoh Bajaj Bajuri di Trans TV. Kualitas komedi yang
ditunjukkan oleh sitcom ini menunjukkan bahwa para pembuatnya sadar betul
bahwa penonton Indonesia sebenarnya tidak hanya akan tertawa oleh
joke-joke yang mesum. Dalam Bajaj Bajuri, ada banyak muatan lucu yang
'cerdas', yang intelek, yang tidak jorok.

Banyak kelurga Indonesia menonton sitcom itu karena melihat diri mereka
ada di situ. Kita tertawa karena kita bisa mengasosiasikan situasi yang
dihadirkan Bajaj Bajuri dengan apa yang terjadi dalam hidup kita.
Dan, toh, Bajaj Bajuri tetap lazim menyajikan muatan yang mengarah pada
situasi seks, pada lelucon-leluocn mesum yang tidak pantas disajikan di
jam keluarga.
Lucu? Ya
Etis? tidak.

Jadi, masalahnya ada pada kesadaran etis. Dan walau Trans TV berulangkali
dingatkan, para pengelolanya untuk waktu yang lama bertahan dengan format
dewasa itu.

Mudah2an dengan membaiknya kesejahteraan Trans TV saat ini, mereka
bersedia mengubah sikap.
Mudah2an juga, sitcom OB yang sedang naik daun itu tidak perlu mengikuti
kemesuman Bajaj Bajuri.

ade armando

> mas, sekadar catatan saja: data tvr/s disajikan oleh agb nielsen, bukan
> nielsen media reserch (nmr). nmr mengkhususkan diri pada media radio dan
> cetak.
>
> nb: agb nielsen dan nmr memang anak perusahaan dari ac nielsen.
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]>
> To: news Trans TV <[EMAIL PROTECTED]>; naratama naratama
> <[EMAIL PROTECTED]>; jurnalisme <[EMAIL PROTECTED]>; AJI
> INDONESIA <[EMAIL PROTECTED]>; pantau
> <[EMAIL PROTECTED]>; mediacare mediacare
> <[email protected]>; Begundal Salemba
> <[EMAIL PROTECTED]>; Forum Kompas
> <[email protected]>; ppiindia
> <[email protected]>; Etalase Indonesia
> <[EMAIL PROTECTED]>; warta-lingk
> <[EMAIL PROTECTED]>; technomedia
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Tuesday, December 26, 2006 1:03:07 AM
> Subject: [mediacare] Data Trap dalam rating program TV
>
>
> “DATA TRAP” DALAM RATING PROGRAM TELEVISI
>
> Ada hal yang menarik, yang terungkap dalam Raker News Magazine Trans TV,
> di Hotel Novus, Bogor, 22-23 Desember 2006. Pak Sulaeman Sakib, Kepala
> Departemen Magazine di Divisi News Trans TV, mengungkapkan apa yang
> disebutnya sebagai “data trap.” Yakni, kesalahan dalam membaca data
> rating/share, yang berimplikasi pada kesalahan membaca apa yang sebenarnya
> dibutuhkan atau diinginkan penonton TV.
>
> Secara sederhana, perumpamaannya begini: Ada seorang pedagang yang menjual
> singkong goreng, tempe goreng dan tahu goreng. Dari data, terbukti yang
> paling banyak dibeli orang adalah singkong goreng. Hal ini ditafsirkan
> oleh para pedagang lain bahwa masyarakat membutuhkan atau menginginkan
> singkong goreng. Maka beramai-ramailah mereka ikut menjual singkong
> goreng.
>
> Padahal, sebenarnya masyarakat (terpaksa) membeli singkong goreng, karena
> tidak ada alternatif lain yang tersedia di pasar. Mereka sebenarnya ingin
> makanan yang rasanya agak manis. Seandainya ada yang menjual pisang
> goreng, mereka sebenarnya ingin membeli pisang goreng. Apa daya, yang
> tersedia cuma singkong, tempe dan tahu. Dari tiga pilihan ini, yang agak
> manis atau masih bisa dicampur gula, adalah singkong goreng.
>
> Nah, analogi ini mungkin bisa diterapkan pada praktik umum yang dilakukan
> banyak stasiun TV. Mereka tiap hari atau tiap minggu menganalisis data
> rating/share yang disediakan Nielsen Media Research. Ketika rating
> tertinggi diperoleh program “esek-esek” di satu stasiun TV, misalnya, maka
> beramai-ramailah stasiun TV lain memproduksi program “esek-esek”.
>
> Padahal data kuantitatif itu bisa mengecoh. Bisa jadi, penonton
> menginginkan program lain, yang saat itu tidak tersedia di pasaran. Jadi,
> diperlukan survey atau penelitian kualitatif untuk melengkap data
> rating/share dari Nielsen Media Research tersebut, dan menangkap apa yang
> sebetulnya dibutuhkan atau diinginkan penonton.
>
> Saran dan pandangan ini mungkin masih seperti angin semilir, di tengah
> badai persaingan sengit antar-stasiun TV, yang sangat terpaku pada data
> kuantitatif Nielsen. Namun, mudah-mudahan, meski pelan dan bertahap,
> pandangan-pandangan alternatif ini bisa mendapat perhatian dan diterima
> oleh para pengelola dan pemilik media TV.
>
> Satrio Arismunandar
> News Producer Trans TV
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
> Web:
> http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
>
> Klik:
>
> http://mediacare.blogspot.com
>
> atau
>
> www.mediacare.biz
>
> Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
> Web:
> http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
>
> Klik:
>
> http://mediacare.blogspot.com
>
> atau
>
> www.mediacare.biz
>
> Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke