Salam mas Rio,
Secara pribadi, saya berterima kasih atas postingan mas Rio kali ini. Agak
memenuhi nostalgia masa lalu sewaktu nyantri ke sampeyan, Pak Sulaeman Sakib
dan para guru di lantai 3 Trans. Ikut senang juga mendengar semangat Trans
Corp berbenah...hahahaha ....moga sukses dah.

Bicara mengenai data trap, fenomena ini sering terjadi dalam proses analisa
data. Dan memang benar jebakan data ini akan sangat berbahaya dalam
pengambilan keputusan. Ada analogi menarik juga dari Jeff Tanner,Phd..
..ceritanya kira-kira begini : "Not too long ago, a washing machine
manufacturer in India noticed that there were buyers ordering eight, 10 or
even 20 washing machines. Thinking these buyers were laundromats, a
representative was sent to one particularly large customer to offer
coin-operating and heavier-duty machines. Imagine the representative' s
surprise when it was learned these customers were using the machines to make
CHEESE!" Hahahaha...kacian deh.

Tapi jangan mis-interprestasi, bukan hanya dalam kuantitatif tapi dalam
kualitatif pun data trap ini mengancam. Banyak faktor yang menyebabkan
munculnya jebakan ini sendiri : Pertama bisa jadi metodologi risetnya
keliru, mulai dari penentuan sampling hingga eksekusinya. Bisa jadi hasil
Focus Group Discussion Anda keliru besar karena penentuan respondennya salah
dari awal atau teknik probing-nya ga benar hingga hasilnya ngambang semua.
Kedua, bisa jadi metodologi hingga eksekusinya benar, tapi cara Anda
memandang hasil dari riset itu sendiri yang salah.

Television Audience Measurement (TAM) yang menghasilkan rating itu sendiri
sebenarnya cuma metode statistik untuk mencari snapshot kepemirsaan berbasis
data historis. Jadi yang tergambar memang existing audience. AGB Nielsen
sebenarnya udah berusaha melengkapi dengan Telebus---pencuplik an dari
sampel TAM yang diwawancara per telpon. Tapi tetap saja hasil dari Telebus
dijamin ga akan bisa sampai mencari audience insight seperti yang pak Ule
dan kawan-kawan ingin dapatkan.

Jadi sebenarnya kasus me-too yang kebablasan di TV lebih pada cara pandang
yang salah. Izinkan saya mencuplik ucapan Michael Porter pada seminar beliau
bulan november tahun lalu yang mungkin bisa mewakili kondisi ini. "You guys
always think about how to get a piece of pie....never thinking how to make
that's pie bigger than before,not only in a piece." kata profesor strategic
management dari Harvard ini.

Ya, kita hanya berpikir pada existing market saja. Pisau analisis dan
kreatifitas kita dipasung pada asumsi-asumsi dan perhitungan yang kita buat
sendiri. Padahal pasar masih menyisakan banyak ruang untuk berkreasi. Coba
kalo kita perhatikan sekilas saja, berapa sih total tv rating dalam prime
time sekalipun. Paling banter di angka 40%-an, dan itu berarti masih ada
60%-an pasar yang masih belum tergarap, bukan?

Wassalam,


Arief adi wibowo
"Always aim at complete harmony of tought, word and deed..
Always aim at purifying your toughts & everything will be well."


On 12/25/06, Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

"DATA TRAP" DALAM RATING PROGRAM TELEVISI

Ada hal yang menarik, yang terungkap dalam Raker News Magazine Trans TV,
di Hotel Novus, Bogor, 22-23 Desember 2006. Pak Sulaeman Sakib, Kepala
Departemen Magazine di Divisi News Trans TV, mengungkapkan apa yang
disebutnya sebagai "data trap." Yakni, kesalahan dalam membaca data
rating/share, yang berimplikasi pada kesalahan membaca apa yang sebenarnya
dibutuhkan atau diinginkan penonton TV.

Secara sederhana, perumpamaannya begini: Ada seorang pedagang yang menjual
singkong goreng, tempe goreng dan tahu goreng. Dari data, terbukti yang
paling banyak dibeli orang adalah singkong goreng. Hal ini ditafsirkan oleh
para pedagang lain bahwa masyarakat membutuhkan atau menginginkan singkong
goreng. Maka beramai-ramailah mereka ikut menjual singkong goreng.

Padahal, sebenarnya masyarakat (terpaksa) membeli singkong goreng, karena
tidak ada alternatif lain yang tersedia di pasar. Mereka sebenarnya ingin
makanan yang rasanya agak manis. Seandainya ada yang menjual pisang goreng,
mereka sebenarnya ingin membeli pisang goreng. Apa daya, yang tersedia cuma
singkong, tempe dan tahu. Dari tiga pilihan ini, yang agak manis atau masih
bisa dicampur gula, adalah singkong goreng.

Nah, analogi ini mungkin bisa diterapkan pada praktik umum yang dilakukan
banyak stasiun TV. Mereka tiap hari atau tiap minggu menganalisis data
rating/share yang disediakan Nielsen Media Research. Ketika rating tertinggi
diperoleh program "esek-esek" di satu stasiun TV, misalnya, maka
beramai-ramailah stasiun TV lain memproduksi program "esek-esek".

Padahal data kuantitatif itu bisa mengecoh. Bisa jadi, penonton
menginginkan program lain, yang saat itu tidak tersedia di pasaran. Jadi,
diperlukan survey atau penelitian kualitatif untuk melengkap data
rating/share dari Nielsen Media Research tersebut, dan menangkap apa yang
sebetulnya dibutuhkan atau diinginkan penonton.

Saran dan pandangan ini mungkin masih seperti angin semilir, di tengah
badai persaingan sengit antar-stasiun TV, yang sangat terpaku pada data
kuantitatif Nielsen. Namun, mudah-mudahan, meski pelan dan bertahap,
pandangan-pandangan alternatif ini bisa mendapat perhatian dan diterima oleh
para pengelola dan pemilik media TV.

Satrio Arismunandar
News Producer Trans TV

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik:

http://mediacare.blogspot.com

atau

www.mediacare.biz

Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links




Kirim email ke