"Lechi" Dari Purwakarta Liburan Idul Adha yang bertepatan dengan perayaan Tahun Baru kali ini aku dengan keluarga mengantarkan Ibu ke kampungnya yang berjarak 500km dari Jakarta.
Istirahat pertama perjalanan ini, aku berhenti di kota Purwakarta, setelah usai makan siang di salah satu warung di hutan kecil, Ibuku tertarik dengan buah-buahan lychee (lechi) yang dijajakan pedagang. Saya pribadi tidak menyukai buah yang dijajakan, karena kecurigaan saya melihat bahwa buah itu adalah "lychee" aspal, kalaupun pedagang itu berkilah bahwa itu rambutan rapiah aku tetap tidak percaya. Untuk tidak mengecewakan orang tua, aku tetap membelanjakannya beberapa ikat, sekedar untuk oleh-oleh saudara-saudara yang disinggahi. Pertama kali mencoba adikku meyakinkan bahwa lyche yang dibeli adalah lychee-lycheean, alias hanya buah rambutan yang dipotong rambutnya, sampai gundul. Kamipun seisi kendaraan tertawa terbahak-bahak, menganggap lucu karena sudah tahu dibohongin tetapi tetap memborongnya. Ibuku tetap berkeras bahwa dia membeli bukan karena lychee tetapi karena melihat usaha penjualnya yang rajin memangkas sampai bentuk rambutan itu membentuk buah-buahan lain. Bahkan daun yang dia sematkan diantara ranting-rantingnya adalah daun melinjo, bukan daun lychee atau rambutan. Dengan usaha penjual seperti itu, menurutku bahwa penjual itu telah menipu pembelinya, alasanku dibenarkan oleh Pamanku, di salah satu kota tempat aku singgah istirahat sebelum sampai di tempat tujuan. Kota Purwakarta sudah terlewat jauh sekitar empat jam perjalanan, tetapi perbincangan tentang lychee belum berakhir, baru setelah seluruh lyche tersebut dibagikan kepada saudara-saudara yang sengaja kami singgahi dan kami berikan oleh-oleh, pembahasan lychee-lychee-anpun berakhir. Senada dengan cerita diatas, kasus pemalsuan lukisanpun sering dialami oleh para kolektor. Bagi para kolektor yang tidak murni kolektor (kolekdol (Jawa)= bosan dikoleksi lalu dijual) hal seperti ini merupakan musibah, yang sekali waktupun terpaksa menimpanya pada saat naas. Tentu saja bagi kolektor yang mementingkan keaslian akan sakit hati karena tertipu. Hal yang bijak adalah menerima sepenuh hati apa yang menimpanya, bahwa dia mengkoleksi karena kesukaannya, bukan karena keasliannya. Pelajaran yang diterima tetap sama, berhati-hati dalam membeli suatu barang bila takut tertipu. Salam, Http ://ferrydjajaprana.multiply.com
