KOMPAS
 Kamis, 04 Januari 2007 

  
Mengapa Derita Ini? 


Paulinus Yan Olla 

Negeri penuh bencana. Itulah keadaan yang mengusik kita di pengujung tahun 2006 
dan awal 2007. 

Bencana beruntun menimpa negeri ini. Pertanyaan rakyat, mengapa derita ini 
menimpa kami? Apa makna segala bencana ini? Mengapa harus terjadi? 

Mengapa derita ini? Sebuah pertanyaan yang oleh Elisabeth Kübler-Ross dalam On 
Death and Dying (1968) ditempatkan sebagai salah satu pertanyaan pokok dalam 
"situasi batas", situasi tanpa jalan keluar. 

Apa yang diamati Kübler-Ross dalam hidup personal dapat menjadi gambaran negara 
yang sakit. Indonesia sedang sakit, sekarat secara sosial, politis, ekonomis, 
maupun peradaban. Analisis politis dan hukum menunjukkan, elite kian sejahtera, 
tetapi rakyat tetap merana. Penegakan hukum lesu, penanganan korupsi tidak 
menyentuh koruptor besar. Legislatif atau eksekutif tidak banyak memperbaiki 
kondisi bangsa. Pelanggar HAM sulit diadili. Banyak kebijakan menyakitkan hati 
rakyat. Singkatnya, situasi tanpa jalan keluar bagi rakyat yang diimpit derita, 
tanpa solusi di negara yang sakit parah. 

Mengapa derita ini? Menjadi ungkapan protes orang kecil, miskin dalam situasi 
batas. Mereka tak berdaya karena terjadi salah urus negara sehingga terpaksa 
masuk penderitaan yang tidak perlu. Protes atas arogansi para pemimpin yang 
menimbun kekayaan, kebanyakan dari warga- bangsa yang tidak mampu mencukupi 
kebutuhan paling dasar hidupnya sebagai manusia. 

Mengapa derita ini? Merupakan gugatan mohon pertanggungjawaban kepada mereka 
yang menjaga kesejahteraan masyarakat. Banyak bencana tidak datang dari dunia 
maya. Penderitaan tanpa penanganan serius itu menunjukkan negara wajah tanpa 
tuan, tanpa pemerintah, dan rakyatnya dalam tawanan derita tanpa pembebasan. 

Maka, jeritan "mengapa derita ini?" menjadi peringatan mawas diri, mengakui 
kegagalan. Di negeri ini tidak ada pejabat yang mau mengaku salah, apalagi 
meminta maaf atas kebijakannya yang menyengsarakan rakyat. 

Berbagai bencana di negeri ini bukan kutukan Tuhan, tetapi ciptaan manusia 
didorong ketamakan akan kekuasaan, kerakusan akan harta, dan kehausan untuk 
mencari kemuliaan sendiri. 

Perubahan hati 

Erich Fromm (1900-1980) menegaskan, keberlangsungan manusia, baik secara fisik 
maupun sebagai spesies, tergantung dari perubahan radikal hati manusia. 
Transformasi hati hanya ada jika terjadi mutasi secara drastis di bidang 
ekonomi dan sosial yang memberi ruang harapan bagi manusia untuk berubah 
(Fromm, Avere o Essere, 1977:24). 

Perubahan itu jauh lebih radikal dari hanya sekadar solidaritas dengan orang 
miskin. Menghadapi masyarakat yang sakit, menurut Fromm, dituntut perubahan 
hati yang mensyaratkan dua hal. Pertama, agar pemimpin bangsa menciptakan 
transformasi sosial-ekonomis yang memungkinkan rakyat miskin dihargai 
martabatnya. 

Kedua, tuntutan mengubah tingkah laku manusia di hadapan dunia-alam semesta. 
Bencana alam dan malapetaka ekologis terjadi karena sikap rakus manusia. Silau 
terhadap kemilau emas, minyak bumi, dan ekspor kayu membuat bumi Nusantara 
babak belur oleh bencana, masyarakatnya dipaksa sesak napas oleh asap, berlayar 
di atas lumpur, berendam dalam banjir, atau kurang gizi tanpa perhatian. 

Teriakan "mengapa derita ini?" menjadi panggilan dan tuntutan bagi pemimpin 
bangsa untuk mewujudkan tanggung jawab sosialnya terhadap rakyat dan alam. Para 
petinggi negara perlu belajar seni berelasi dengan alam yang ditawarkan Dr 
Emoto dalam the Hidden Messages in Water. Relasi didasarkan pada kejernihan 
hati yang tak tercemar. "Berabad- abad manusia merampok bumi, ini sejarah yang 
dicatat oleh air. Sekarang air mulai bicara kepada kita... ia mengatakan apa 
yang perlu kita ketahui" (Masaru Emoto, 2006:84). 

Keputusan dan kebijakan pemerintah kendati secara ekonomis mungkin 
menguntungkan, perlu memberi perhatian utama pada dampak kemanusiaan dan 
ancaman bahaya ekologisnya bagi manusia. Rakyat kecil biasanya lebih menderita 
bila ada bencana. Mereka menjadi korban janji kemakmuran ekonomis dan keputusan 
para pemimpinnya yang lepas dari landasan hati nurani. 

Mengapa derita ini? Suatu seruan hati rakyat mohon perhatian! 

Paulinus Yan Olla Alumnus Universitas Pontificio Istituto di Spiritualità 
Teresianum, Roma 

Kirim email ke