FISE UNY bekerjasama dengan SKH Kedaulatan Rakyat kembali menggelar forum diskusi dengan tema "Catatan Akhir Tahun 2006: Potret Indonesia Kini dan Esok", Jumat (15/12) bertempat di ruang Ki Hajar Dewantara. Diskusi yang dibuka oleh dekan FISE, Sardiman AM, MPd menampilkan tiga pembicara yaitu: Prof. Dr. Zamroni, Revrisond Baswir, MBA dan Emha Ainun Najib, dengan moderator Octo Lampito. Zamroni mengatakan bahwa kebijakan pendidikan sebenarnya sudah pada jalan yang benar, dari sentralisasi menuju ke desentralisasi dengan diterapkannya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), memberi kesempatan sekolah untuk mengelola sendiri dan adanya UU Guru dan Dosen. Bahkan kebijakan MPMBS yang merupakan bentuk reformasi dalam bidang pendidikan ini mendapat penghargaan dan pujian dari UNESCO. Tapi sayangnya menurut Direktur Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan DIKDASMEN ini, bangsa Indonesia terjebak dalam polemik lama, debat yang berkepanjangan tentang Ujian Nasional (UNAS). Pro kontra ini hanya pemborosan energi karena sebenarnya tidak ada yang jelek maupun yang lebih baik, karena kedua argumen memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Menurut Zamroni UNAS sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan mutu sekolah, dengan peningkatan kualitas pendidikan. Banyak faktor lain yang menentukan, salah satunya adalah kualitas guru. Catatan lain adalah munculnya globalisasi pendidikan , dimana semakin berkembangnya jurusan-jurusan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dalam catatan Revrisond Baswir yang punya panggilan akrab Sonny, ekonomi Indonesia sejak Orde Baru dan pasca Orde Baru sedang menuju Neo Kolonialisme. Indonesia belum berhasil keluar dari beban sejarah, warisan kolonial. Jejak kolonial tersebut mewarnai kebijakan-kebijakan dalam ekonomi, padahal hakekat kolonial adalah bisnis. Menurut Sonny, bila kita mau mengoreksi ekonomi kolonial lihat hal-hal : 1). Posisi ekonomi Indonesia di dunia internasional. Indonesia hanya dijadikan tempat produksi dan pasar dan dibuat benar-benar tidak bisa mandiri. 2). Relasi antara Batavia (Jakarta/ibu kota) dengan kota-kota lain. Pusat sangat sentralistik. Supaya bisa jadi ekonomi Indonesia, kita harus berani mengoreksi relasi dengan internasional dan relasi pusat dan daerah, sehingga kita mampu menjadikan penduduk Indonesia asli sebagai tuan di negeri sendiri. Ubah struktur ekonomi warisan kolonial, tegasnya Sedangkan Kyai Mbeling Cak Nun mengatakan bahwa dalam suatu organisasi (negara) memang harus ada komponen pencetus, perombak, pembangun dan pemelihara, yang masing-masing bermain sesuai waktu dan perannya masing-masing. Orang Indonesia harus belajar tahu untuk meletakkan apa saja, jangan mendewa-dewakan juga membenci seseorang. Kelemahan bangsa Indonesia (keset, sembrono, sepenak dewe, mentalnya kurang bagus), harus dikikis habis. Kita seperti ini karena tidak adanya disiplin kompetensi juga karena kita tidak punya kepemimpinan yang dapat dijadikan teladan, ujar Emha.(lensa).
Ingin melanjutkan kuliah di Jogja S1, S2, S3? kami menampilkan beberapa infomasi yang berkaitan dengan informasi perguruan tinggi. cek di www.informasipt.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
