Pasal 34 UUD "Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh 
negara" membosankan? Ah coba tanyakan ke 40 juta penduduk Indonesia 
yang kekurangan makan, pendidikan, kesehatan dll. Saya sendiri sudah 
WN Belanda, tapi saya lahir di Bandung dus selalu ada ikatan batin 
dengan Indonesia.

Menurut saya, selama fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia 
belum bisa dipelihara oleh negara, maka kita WAJIB selalu 
membicarakan pasal 34 UUD RI itu. Pasal itu dibuat oleh pendiri RI, 
dus patut dilaksanakan seutuhnya oleh pemerintah/DPR/cendekiawan 
Indonesia. Terutama pemasturbasi UUD RI perlu selalu kita sadarkan, 
bahwa mereka punya kebiasaan jelek. Peringatan kepada mereka ini 
perlu terus dilakukan, bila perlu sampai 50 tahun ke depan, sampai 
fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia sudah bisa dipelihara 
oleh negara. Akkoord Manneke?

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Udah tahun baru, wacananya Meneer Lim ini masih yang itu-itu juga. 
Bosen ah. Mbok ganti style gitu? Nggak punya ide lain ya? Jangan-
jangan pekerjaan sambilannya di Belanda sono adalah penjual tong 
sampah, kok promosinya tong sampah melulu?
> 
> manneke
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> 
> > Date: Thu Jan 04 03:46:57 PST 2007
> > From: "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]>
> > Subject: [mediacare] Re: Sungguh kita merasa sedih, sebab kalau 
dirunut-runut, nenek moyang kita semua adalah Negara Sriwijaya
> > To: [email protected]
> >
> > Karena itu diperlukan Soempah Pemoeda II yang bunyinya "Satu 
Nusa, 
> > Satu Bangsa, Satu Budaya, Indonesia". Bahasa sudah termasuk 
budaya.
> > 
> > Selama 61 tahun kemerdekaan ini, Indonesia memiliki budaya 
nasional 
> > GONTOK-GONTOKAN. Jadi itu mesti di-Soempah Pemuda-kan menjadi 
budaya 
> > RUKUN-RUKUNAN. Setelah rukun, mulailah memikirkan Water 
Management 
> > agar tidak terjadi lagi banjir bandang. Mulailah memikirkan 
> > pertanian/perkebunan supaya tanah Indonesia yang subur "tonggak 
kayu 
> > pun jadi tanaman bisa menghasilkan produk optimal." Mulailah 
> > melaksanakan pasal 34 UUD RI "Fakir miskin dan anak terlantar 
> > dipelihara oleh negara". Buanglah Pancasila ke tong sampah 
dan "stop 
> > masturbating with it", sebagai gantinya mulailah melaksanakan 
> > sila "Keadilan Sosial." dll.dll. Sukses ya.
> > 
> > Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> > 
> > --- In [email protected], Goenardjoadi Goenawan 
> > <goenardjoadi@> wrote:
> > >
> > > halo sahabat,
> > > 
> > > kalau kita baca message beberapa teman yang diposting
> > > di Milis, kita bisa heran, contohnya..
> > > 
> > > Potret (Keliru) Poligami 
> > > Cobaan dari Allah SWT untuk jemaah haji Indonesia 
> > > The Next Bill Gates? A Chinese! 
> > > Geger "Kristenisasi" di Depok 
> > > Tuhan kelelahan 
> > > Mengapa Kita Khawatir dengan Syariat Islam dalam
> > > berbangsa 
> > > Adu jangkrik : Shiyah dan Sunni di Timur Tengah 
> > > aa gym dan ferry surya 
> > > Poligami? Jangan cari excuses lewat 
> > > 
> > > Banyak sekali energi yang terbuang sia-sia hanya
> > > mempermasalahkan nenek moyang kita.  ada yang
> > > mempertentangkan AA Gym dan Ferry Surya, sampai-sampai
> > > masalah Jemaah Haji yang kelaparan dijadikan bahan
> > > untuk mempertentangkan antar agama.
> > > 
> > > Sungguh kita merasa sedih, sebab kalau dirunut-runut,
> > > nenek moyang kita semua adalah Negara Sriwijaya, yang
> > > pusatnya di Palembang, dan kita masih mempertentangkan
> > > antar suku.  Suku ini, itu, kita lupa bahwa kita semua
> > > pendatang dari pusatnya bangsa Melayu di Palembang.
> > > 
> > > Namun kalau dulu, Bangsa kita jaman Sriwijaya
> > > membangun tempat ibadahnya yang paling megah sedunia
> > > yaitu Borobudur di Jawa Tengah, kita masih
> > > mengagung-agungkan suku ini, agama itu, apa tidak malu
> > > dengan nenek moyang kita?
> > > 
> > > Susah-susah Dr. Soetomo, Ki Hajar Dewantoro
> > > memperjuangkan Negara Kesatuan Indonesia, kita masih
> > > mengeyel-eyel Islam melawan Budha, atau
> > > Kristenisasi... dan kita lupa, nenek moyang kita juga
> > > pernah beragama Budha, Hindu, bahkan dulu nenek moyang
> > > kita juga Pithegantropus Erectus, kita masih
> > > menganggap agama yang satu dipertentangkan dengan
> > > agama yang lain.
> > > 
> > > Mari kita berpikir positif, kalau sudah meninggal,
> > > kita semua juga jadi abu... tidak ada warna kuning,
> > > coklat, atau merah.
> > > 
> > > salam,
> > > Goenardjoadi Goenawan
>


Kirim email ke