Gerakan Mengembalikan Piala Citra Itu
Januari ini ada peristiwa yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah perfilman Indonesia. Dikembalikannya piala citra oleh sebagian besar sineas muda yang pernah menerima piala tersebut terang menyita perhatian publik. Piala Citra yang selama ini barangkali hanya dikenal oleh para sineas dan pecinta film Indonesia gara-gara peristiwa tersebut tiba-tiba menjadi diingat kembali oleh kalangan masyarakat luas. Di atas panggung satu-persatu mereka meletakkan piala di atas meja. Peletakkan piala disambut gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai mereka yang hadir di studio kecil Taman Ismail Marzuki. Pemandangan tampak begitu dramatis. Seakan mereka baru saja menemukan para pahlawannya yang sekian lama hilang disandra. Terang peristiwa ini membuat masyarakat bertanya ada apa gerangan dengan jagat perfilman Indonesia yang sepanjang sejarahnya selalu tampak mulus-mulus dan lurus-lurus saja? Ya peristiwa pengembalian piala citra yang dilakukan para sineas muda sebagai wujud protes keras terhadap penyelenggaraan ajang tersebut membuat masyarakat luas tiba-tiba menoleh pada dunia perfilman yang hampir dilupakan dan sayup-sayup sampai sejak belasan tahun lalu. Dunia perfilman kita sesungguhnya memang bermasalah. Bukan hanya masalah tidak adanya orientasi para sineas dalam berkarya yang merupakan akibat dari tidak jelasnya arah strategi kebudayaan bangsa ini. Sekian lama masalah yang merundung perfilman khusunya dan kebudayaan kita umumnya seakan mengendap tanpa ada jalan keluar. Sekian lama unek-unek mampat sehingga beberapa sineas kita lebih memilih berkiprah di luar Indonesia. Terang, sejumlah sineas kita yang meraih penghargaan di luar negeri banyak memberi sumber inspirasi bagi perkembangan perfilman Indonesia. Tetapi terlalu jauh untuk mampu menyelesaikan permasalah yang merundung jagat perfilman bangsa ini. Peristiwa pengembalian piala citra oleh para sineas muda seakan membuka mata betapa banyak permasalahan yang membutuhkan perhatian dan tentu saja penyelesaian. Dan permasalah tersebut tidak akan selesai hanya dengan pernyataan sikap dan penolakan terhadap FFI. Peristiwa ini hanya bermanfaat jika mampu menyadarkan para sineas akan pentingnya gerakan politik dalam menyelesaikan urusan perfilman! Jangan sampai aksi pernyataan sikap hanya didasari ephoria sesaat yang kemudian layu di tengah jalan. Apalagi cuma siasat untuk mencari-cari perhatian. Dan kekhawatiran itu niscaya akan mewujud jika mereka para sineas muda itu tidak tahu secara persis konsep dan gerakan semacam apa yang harus digulirkan terus menerus sambil tak lelah untuk terus melahirkan karya-karya yang memberi sumbangan jelas kepada kebudayaan. Untuk mengukur semua itu tak ada lain kecuali waktu yang akan memaparkannnya pada kita semua. (Aris Kurniawan)
