IBRAHIM ISA ------------------ STOCKHOLM, 07 JANUARI 2006. * * *
TANGGAPAN SEPINTAS TERHADAP KARANGAN TRI RAMIDJO -- 'MENUNAIKAN IBADAH HAJI' * * * Sungguh suatu ceritera yang hidup dan nyata apa yang disajikan oleh Tri Ramidjo kepada pembaca kali ini. Saling hubungan lintas fikiran Tri Ramidjo , antara Tanah Suci di negeri Arab, dengan Tanah Suci Indonesia, tanah air sendiri Indonesia, sungguh unik dan menarik. Juga sepenuhnya bisa difahami, mengapa penulis menghubungkan pengertian Tanah Sucji di negeri Arab dengan Tanah Suci negeri sendiri. Mencerminkan jiwa dan semangat patriotisme murni sekaligus juga pemahaman religius yang berani. Begitu juga lintas fikiran Tri Ramidjo menanggapi apa yang dilakukan istrinya dalam ibadah haji, yaitu melakukan 21 lemparan <batu> mengganyang setan-setan dengan pengganyangan '7 setan desa' dan '3 setan kota', pada periode pemerintahan Presiden Sukarno---- itu sepenuhnya bisa dimengerti, ditinjau dari pengalaman dan pengertian Tri Ramidjo. Yang jelas, ialah bahwa Tri Ramidjo yang memiliki pandangan religius yang kuat, amat erat menghubungkan ajaran agama melawan setan-setan, termasuk yang penting setan yang besarang di dalam hati manusia, dengan tajam dan kadang lucu sekali menghubungkannya dengan kenyataan hidup yang keras. Terus menulis Bung Tri Ramidjo! * * * LAMPIRAN: Cerpen TRI RAMIDJO CERPEN. MENUNAIKAN IBADAH HAJI. - Lemparan batu itu tepat mengenai sasarannya dan setan-setan itu lari berhamburan. Oleh : Tri Ramidjo Aku hampir-hampir tak percaya ketika anakku bertanya "pak, boleh kan ibu berangkat menunaikan ibadah Haji tahun depan?" Aku terbengong sejenak. Mimpikah aku ini? Atau benarkah anakku bisa memberangkatkan istriku untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, ke tanah suci? Anakku mengatakan itu tepat pada hari ultah isteriku 19 September 2005. "Ya, tentu saja aku setuju, setuju banget." Jawabku. Pergi menuanaikan ibadah Haji, pergi ke tanah suci adalah menjadi impian setiap umat Islam yang taat. Setiap muslim pasti mengerti, bahwa rukun Islam ada 5 dan tidak setiap orang bisa memenuhi rukun Islam yang ke lima yaitu menunaikan ibadah haji sebab di samping syarat-ayarat kesehatan dll. Syarat yang terberat adalah ongkos pergi yang cukup mahal. Dan aku yang tidak berduit ini, mana mungkin menunaikan ibadah haji. Tapi entah bagaimana caranya aku tak tahu, anakku yang suami isteri bekerja di perusahaan swasta dan wira-swasta dan tidak akan mungkin melalukan korupsi walaupun hanya korupsi waktu, kok ingin memberangkatkan ibunya pergi ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Sejak kecil dan sejak aku mengerti sedikit-sedikit tentang rukun Islam aku bercita-cita ingin menunaikan ibadah haji. Aku ingin melihat kota Mekah yang orang menyebutnya tanah suci. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa sucinya negeri Arab dengan kota Mekahnya. Tentu di sana tidak ada hal-hal yang kotor misalnya penipuan, korupsi, pengangguran, kemiskinan dan lain-lain yang sifatnya kotor dan menjijikkan. Suci, suci bersih tanpa noda sedikit pun dan bisa menjadi contoh dan bisa menjadi bagi seluruh umat manusia di dunia ini. Dan kalau seluruh isi bumi ini yang sama-sama diciptakan oleh Allah swt menjadi benar- benar tanah yang suci, tentu seluruh umat manusia bisa hidup adil, tenteram, damai tanpa ada hal-hal yang kotor dan najis. Subhannallah. Di tahun 1935 umurku ketika itu 9 tahun aku pertama kali mendengar lagu Indonesia Raya dari piringan hitam gramaphone. Gramaphone itu di putar oleh oom Abdul Hamid Lubis yang dibuang ke Digul dari Sumatra Barat. Anak-anak Digul yang belum pernah melihat gramaphone berkumpul di rumah oom Kadirun di sebelah rumahku di kampung B, dan aku dan adikku Rokhmah juga tidak ketinggalan ingin melihat bagaimana yang namanya gramaphone itu. Aku dan adikku duduk di bangku paling depan bersama-sama anak oom Kadirun dik Sumono dan dik Karno. Aku perhatikan oom Abdul Hamid Lubis mengambil jarum gramaphone, memasangnya di kepala waktu itu aku belum tahu, bahwa kepala kecil itulah yang disebut load-speaker. Sesudah itu per gramaphone itu diputar beberapa kali, piringan hitam atau plaat itu diletakkan dan ketika piringan hitam itu mulai berputar jarum yang di kepala itu diletakkan di piringan hitam. Bergemalah suara lagu : Kuplet pertama : Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku. Indnesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku. Marilah kita berseru Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku,semuanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya. dan seterusnya. Setiap putera-puteri Indonesia pasti fasihdan hafal menyanyikannya. Kuplet kedua : Indonesia tanah yang mulia, tanah kita yang kaya Di sanalah aku berdiri, untuk slama lamanya. Indonesia tanah pusaka, pusaka kita semuanya. Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia. Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya, rakyatnya,semuanya. Sadarlah hatinya, sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya. .dan seterusnya sampai selesai. Kuplet ketiga: Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti. Di sanalah aku berdiri, `njaga ibu sejati. Indonsia tanah berseri, tanah yang aku sayangi. Marilah kita berjanji, Indonesia abadi. Slamatlah rakyatnya, slamatlah putranya, pulaunya lautnya semuanya. Majulah negrinya, majulah pandunya, untuk Indonesia Raya. ..dan seterusnya sampai selesai. Note : Aku minta maaf. Teks yang kutulis itu hanya hafalan . Aku tidak mempunyai teks itu secara lengkap, kuplet kesatu sampai ketiga. Jadi kalau ada pembaca tulisan ini yang menemukan kekeliruan tolong betulkan. Terus terang, anak siswa SMA yang kutanya pun tidak semuanya bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara sempurna, apalagi di upacara-upacara sering kita hanya mendengar musiknya saja tetapi tidak menyanyikan syairnya. Orang sudah banyak yang lupa, bahwa makna dan isi lagu itu sangat menggugah rasa cinta dan pengabdian untuk negeri tercinta ini. Ya, banyak orang menyebut negeri Arab dengan kota Mekahnya itu tanah suci. Dan tentu orang menyebutnya pergi menunaikan ibadah haji adalah pergi ke tanah suci. Ketika kecil aku bertanya-tanya dalam hatiku terutama setelah mendengar dan menghafal lagu Indonesia Raya. Lagu itu di kuplet ketiga baris pertama jelas syairnya berbunyi Indonesa tanah yang suci, tanah kita yang sakti. Bukankah negeriku ini juga tanah suci? Apa bedanya dengan negeri Arab dengan kota Mekah itu? Mungkin karena negeriku dan tempat tinggalku Tanah Merah Digul ini penuh dengan sarang nyamuk malaria, jadi tidak suci seperti Mekah? Sungai Digul penuh dengan buaya kuning yang ganas yang pernah memangsa hingga gugur sebagai (P)erintis (K)emerdekaan (I)ndonesia oom Mangun Atmodjo pejuang asal dari Solo Jawa Tengah, gugur pada 8 April 1928 ketika sedang mencuci piring dan mandi di sungai Digul. Karena tembakan-tembakan karaben serdadu KNIL tidak berhasil membunuh buaya itu, maka Oom Darsono (orangnya kecil tidak gagah dan sering membelikanku buku dan pinsil ketika aku sudah agak besar dan bersekolah - berenang ketengah sungai Digul, menunggangi buaya ganas itu dan menghunjamkan pisau belatinya ke tubuh buaya itu bertubi- tubi hingga buaya itu mati dan oom Mangun yang sudah meninggal itu bisa diambil dari gigi buaya yang mencengkeramnya. Itu fikiranku di waktu masih anak-anak. Kenapa ya, orang mesti pergi jauh jauh dan katanya biayanya banyak pula. Kalau ayahku punya uang banyak aku bisa dibelikan wong-weng (ketika kecil aku menyebut HARMONIKA itu wong-weng alat musik kecil kegemaranku. Aku masih ingat, bagaimana aku merengek-rengek menangis di bawah pohon pisang gara-gara mendengar dan menghafal lagu Indonesia Raya dan ingin menyanyikannya dengan meniup wong-weng.Saking sayangnya ayahku kepada anak-anaknya, sore itu juga semalamsuntuk ayahku berangkat menjala ikan ke sungai Digul bersama oom Maskun(Oom Maskun Sumadiredja adalah adalah pengikut setia bung Karno anggota Partai Nasional Indonesia waktu di Bandung pada tahun2 30an, maka dibuang ke Boven Digul.). Keesokan harinya setelah menjual hasil ikannya ayahku membelikan sebuah wong-weng buatan Hongkong, stem C dan dengan ketawa ria mulailah aku meniup wong-weng itu menyanyikan bermacam lagu dari lagu Internasionale, Mariana Proleter, Enam jam kerja, 12 November, Tanah Merah di Papua, lagu Satu Mei dan tentu saja lagu Indonesia Raya yang merupakan lagu kesayanganku. Maaf, ceritaku jadi ngelantur ke masa kanak-kanakku. Bukankah tadi judulnya "menunaikan ibadah haji." Ya, gara-gara aku teringat tanah yang suci di kuplet ke tiga lagu Indonesia Raya. Isteriku jadi berangkat menunaikan ibadah haji pada tanggal 30 November 2006 setelah memenuhi syarat2nya. Banyak hal yang perlu dipelajarinya terutama hal-hal yang berhubungan dengan haji. Aku senang karena isteriku giat belajar terutama tentang agama Islam. Di dalam kepalaku dan hatiku ini penuh kepercayaan yang orang menyebutnya keimanan, bahwa seorang muslim atau Islam yang benar- benar taat dan beriman pasti orang yang seluruh perbuatannya menjurus kepada kebaikan dan tidak akan berbuat kemudaratan yang merugikan baik merugikan orang lain maupun dirinya sendiri. Seorang muslim menurut ayahku yang mengajariku waktu kecil, harus benar-benar menjaga hubungan baik dengan Allah, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungannya. Melakukan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah, berbuat baik dengan semua orang dan tidak menyakiti hati orang lain, jangan merusak tanaman, menganiaya binatang dan makhluk hidup yang tidak mengganggu kita dan panjang lebar ayahku menjelaskan dan tetap kuingat baik-baik. Karena ayahku berpesan "menjadi orang besar adalah baik, tapi menjadi orang baik lebih baik dan menjadi orang besar dan baik adalah yang paling baik" Sebulan sudah isteriku sejak pergi ke tanah suci. Pada tanggal 01 Januari 2007 jam 02.43 WIB dinihari, aku menerima sms di HP rongsokanku ini mengabarkan bahwa isteriku sedang melakukan "lempar-jumroh". Plong, senang rasa hatiku. Pasti isteriku melakukan 21 lemparan melempar setan. Isteriku bukan pelempar lembing atau pelempar cakram, tapiaku dapat memastikan lemparan isteriku pasti mengenai tepat setan-setan itu dan setan-setan yang berada di hati isteriku dan hati keluargaku pasti berlarian tunggang langgang tak akan kembali lagi karena takut terkena lemparan batu. Alangkah baiknya kalau semua umat Islam Indonesia yang pergi menunaikan ibadah haji dengan niat yang benar-benar teguh dan ketika melakukan lemparan jumroh, benar-benar mengenaiu sasaran si setan yang bersarang dalam hati, sehingga tak ada lagi perbuatan buruk hasutan setan, perbuatan maling, korupsi dll. Tujuh setan desa dan tiga setan kota benar-benar hapus dari tanah air kita, tanah yang suci ini. ****** Tambahan: harap kepada pembaca yang lebih tahu membetulkannya kalau> keliru -tujuh setan desa seingat saya adalah 1. tuan tanah jahat, 2. penguasa pembela tuan tanah, 3. tengkulak jahat, 4. kabir pemeras kaum tani, 5. bandit desa-tukang pukul tuan tanah, 6. tukang ijon dan 7.Lintah darat. Dan tiga setan kota adalah: 1. kabir, 2. pencoleng dan 3. koruptor. Semoga saja lemparan batu itu benar-benar mengenai telak semua setan-setan itu. Tangerang, 05 Januari 2006.
