"Semua orang berteori, mulai dari yang masuk akal sampai yang 
spekulasi. Dan sebentar lagi semua tak ingat lagi karena tertelan kesulitan 
hidup sehari- hari." (B.Shambazy).
   
  Memang rakyat yang melarat tidak punya waktu lagi untuk berteori, mereka 
harus banting tulang dan mandi peluh diterik matahari untuk mencari sesuap nasi 
bagi anak dan istri. Tapi mereka tidak akan lupa siapa penyebab kemelaratan, 
Pak Shambazy. Bahkan mereka sudah tak menghiraukan segala macam teori. Apalagi 
ketika kemelaratan terus laju menghimpit nasib.
   
  J. Surendro
   
   
   
   
   
  Kompas, Sabtu, 06 Januari 2007 
                      POLITIKA     Bangsa Pelupa
  Budiarto Shambazy
      Tak sulit mencari orang yang bertanggung jawab atas berita bohong tentang 
lokasi reruntuhan pesawat AdamAir. Fitnah itu boleh jadi disengaja karena 
sangat terinci dengan menyebut angka pas 90 korban tewas dan 12 selamat.   
Mudah menebak fitnah keterlaluan itu disampaikan penduduk di sekitar lokasi. 
Namun, mereka tak lagi bersalah saat fitnah itu "naik jenjang" birokrasi dari 
desa sampai ke pusat.   Aneh, tak ada yang berusaha melakukan verifikasi. Makin 
aneh, banyak pejabat, Selasa (2/1) pagi sampai petang, berlomba mengeluarkan 
berbagai pernyataan post factum untuk keluarga korban.   Oke, Menteri 
Perhubungan Hatta Rajasa dan Komandan Pangkalan Udara Hasanuddin Makassar 
Marsekal Pertama Eddy Suyanto minta maaf. Seperti biasa, masalahnya dianggap 
selesai.   Media massa yang ikut menyiarkan fitnah itu perlu meminta maaf juga. 
Stasiun televisi CNN, Rabu (3/1), meminta maaf kepada Senator Barack Obama 
karena di layar televisi menulis kalimat "Di mana Obama?" dalam item
 berita tentang Osama bin Laden.   Tahun 1970, para pejabat, termasuk Menlu 
Adam Malik, ditipu skandal "Bayi Ajaib". Cut Zahara Fonna mengaku mengandung 
janin yang bisa berbicara dari perut dan mereka berduyun-duyun menempelkan 
telinga ke perutnya untuk mendengar sabda si janin.   Sang janin dianggap 
jelmaan dari langit yang layak disembah. Tak sedikit yang mengeluarkan 
sumbangan supaya karier dan bisnis lancar.   Selama berpuluh-puluh tahun kita 
ditipu Orde Baru yang berkampanye China komunis negara terbelakang, 
pemerintahnya jahat, dan rakyatnya miskin. Pemerintah melarang hurufnya di 
tempat umum dan keturunan China di sini diminta mengganti nama Indonesia.   
Setelah normalisasi hubungan bilateral, ketahuan jika Beijing jauh lebih 
makmur, modern, dan tertata rapi dibandingkan dengan ibu kota negara kita.   
Sekarang saja masih ada hoax yang bertujuan menakut-nakuti rakyat seperti 
munculnya spanduk-spanduk "Awas Komunis Bangkit Kembali" yang banyak dipasang 
di Jakarta.
 Udara di sekitar kita makin hari makin dikotori oleh aneka kebohongan publik.  
 Dengan sendirinya masyarakat terjangkit penyakit "katanya". Penyebab utamanya 
pemerintah, seperti kata iklan, sering gagal bersikap "terus terang, terang 
terus".   Sejarah dibelokkan demi langgengnya kekuasaan. Ketika Orde Baru 
tumbang, satu per satu rahasia berhamburan dan menyebarkan bau yang menusuk 
hidung.   Hati sedih pemerintah melarang pemutaran film Saijah and Adinda yang 
diambil dari novel Multatuli yang kritis terhadap sistem penjajahan Belanda 
yang memperalat Bupati Lebak, Banten, Jawa Barat. Ilmuwan-ilmuwan politik kita 
mustahil menulis karya-karya kritis terhadap Orde Baru kecuali kalau mau 
dikarungin.   Pers dan publik dibombardir dengan berbagai pernyataan tak jujur. 
Kekuasaan yang manja dan antikritik sudah terlalu lama mendominasi ruang 
publik.   Contohnya, pemerintah menyalahkan kapten dan awak kapal Tampomas II 
yang tenggelam di Selat Makassar, 17 Januari 1981, dan memakan
 korban sekitar 500 tewas. Para pejabat di Departemen Perhubungan yang KKN 
dalam pembelian kapal yang tidak safe itu malah lenggang kangkung.   Pers 
mengkritik pembelian 39 kapal selam yang tak jelas kualitasnya dari bekas 
Jerman Timur dan telah menghambur-hamburkan dana. Hasilnya, majalah Tempo 
dibredel.   Pejabat selalu mempunyai alasan atau kambing hitam untuk menutup 
aib mereka. Mereka akan dengan serampangan menuduh siapa pun sebagai kelompok 
ekstrem kiri atau kanan, ikut aliran sesat, atau jadi anggota Organisasi Tanpa 
Bentuk (OTB).   >small 1<>small 0Jika pemerintah tak berterus terang, rakyat 
mencari sumber- sumber berita lain, termasuk pergunjingan "katanya". Apalagi 
sebagian masyarakat lebih memercayai hal yang gaib ketimbang bukti empiris dan 
lebih senang gosip daripada fakta.   Jika sopir mobil melindas kucing ia akan 
berhenti, mengelilingi mobil tujuh kali, dan berhenti menyopir selama 40 hari. 
Kalau menabrak penyeberang jalan, ia kabur karena tak mau
 bertanggung jawab atau dihakimi massa.   Ada yang yakin penyebab tsunami di 
Aceh ledakan uji coba senjata nuklir bawah laut. Bom Bali pertama merupakan 
konspirasi karena ada saksi mata yang melihat "sinar biru" di udara saat bom 
meledak dan ratusan warga asing tiba-tiba meninggalkan Pulau Dewata.   Semua 
orang di dunia telanjur percaya pada fitnah tentang lokasi pesawat AdamAir yang 
disebarkan oleh pemerintah. Aneh tetapi nyata.   Udara kita disesaki 
huruf-huruf beterbangan yang menimbulkan kesimpangsiuran. Isinya, pernyataan 
awut-awutan dari mulut pejabat yang semua orang sudah tahu (stating the 
obvious) dan hanya ingin membuat senang setiap kalangan (to whom it may 
concern).   Maka berdatanganlah bantuan dari luar negeri. Dan betapa kurangnya 
perhatian pada berita tenggelamnya kapal-kapal yang menyeberangi Laut Jawa, 
termasuk Senopati Nusantara.   Semua orang berteori, mulai dari yang masuk akal 
sampai yang spekulasi. Dan sebentar lagi semua tak ingat lagi karena
 tertelan kesulitan hidup sehari- hari. 




























 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke