--- In [email protected], ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> HAHAHAHAHAHAA bukan hidungnya saja yg harus dioperasi, otak nya juga !
> 
> loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Indonebia, mestinya ente itu bantuin
Depag kasih Fast Catering
> Service, bukan Fasting Service and No Catering (Service Puasa Tanpa
> Catering), he, he, he. 
> 
> Kritikan ana buat Depag yg jadi pemain, panitia and juri di berbagai
> urusan agama, termasuk urusan haji bisa dibaca di postingan2 #25478,
> #39144, dsb. 
> 
> Ngomong2, operasi hidung dulu biar bisa bener ngucapin huruf 'p',
> kagak lagi jadi huruf 'f'. Susah dimengerti kalo pake huruf 'f'.
> 

Rekan Ati Gustiati, tadinya sewaktu Indonebia bilang 'ana catering',
saya kira Indonebia lagi bicara bahasa Arab campur bahasa Inggris yg
terjemahannya adalah 'perusahaan catering milik saya' :-)

Berikut komenter serius saya, komentar terakhir thd berita terakhir
dari Suara Merdeka.

Kekacauan katering jemah haji dari Indonesia ini mrpk suatu indikasi
tambahan terakhir bahwa rukun haji telah menjadi ajang bisnis
(kolusi?) besar2-an, baik oleh pihak penyedia jasa (swasta? Keluarga2
kerajaan?) di Arab Saudi atau pun oleh pihak pengelola (Depag) di
Indonesia. 

Saya yakin dg jumlah muslim terbesar di dunia dan dengan SENTRALISASI
penyelenggara haji yg kewenangannya hanya diberikan kepada SATU pihak
(Depag), maka SATU rombongan jemah haji Indonesia yg begitu besar
jumlahnya di mata para (kelompok2) Muasasah di Arab Saudi merupakan
mesin uang yg paling besar produksinya. Tidak heran pihak2 Muasasah
marah2 sampai sabotase dan pake merusak segala ketika kontrak mereka
diputus dan dipindahkan ke Anna catering.

Salah satu solusi untuk mencegah hal yg sama terjadi di masa yad
adalah dg menyerahkan penyelenggaraan haji kepada swasta. Perbolehkan
perusahaan2 swasta (termasuk Depag, jika masih mau 'bermain' haji) tsb
saling bersaing dg bebas. Biarkan juga kalau ada yg nekat naik haji dg
paspor turis (karena jauh lebih murah) yg dilanjutkan dg mencari
ijin/visa masuk Arab Saudi dari negara tempat mereka berkunjung. 

Dengan solusi spt di atas, pasti kelompok2 Muasasah bingung, karena di
antara puluhan rombongan haji dari Indonesia (bukan cuma SATU
rombongan yg terpusat dan diurus oleh Depag), mereka harus bikin
banyak deal satu persatu dg berbagai rombongan cahaj yg jumlahnya
tidak lagi terlalu besar (relatif thd jumlah total SATU rombongan haji
yg diorganisir oleh Depag dg sistem spt sekarang ini). 

Kalau mau sabotase agar dapat sedikit tambahan uang dari setiap
rombongan haji Indonesia (yg jumlahnya sudah tak lagi terlalu besar),
mereka pun harus lebih banyak dan lebih sering melakukan sabotase
(satu sabotase untuk setiap satu rombongan). Artinya mereka akan
mendapat lebih banyak perlawanan dari puluhan pihak/rombongan (bukan
cuma dari SATU pihak/ rombongan) penyelenggara haji tsb yg tak mau
menggunakan jasa mereka. 

Salam

--- In [EMAIL PROTECTED], "samiaji" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   
>       Sabtu, 06 Januari 2007 NASIONAL 
>      
>       Menag Akui Ada Penjegalan dan Perusakan 
>              
>             SM/dok Maftuh Basyuni   
>            
>       JAKARTA - Menteri Agama M Maftuh Basyuni mengakui, ada
persaingan antara Muasasah dan Anna sehingga menyebabkan terjadinya
kasus katering bagi jamaah haji Indonesia. 
> 
>       Selain itu ada oknum-oknum yang telah lama bertentangan dengan
Muasasah. ''Dari sini lalu timbul penjegalan dan perusakan atas
apa-apa yang telah disiapkan di Arafah,'' kata Menag dalam konferensi
pers seusai bertemu Presiden di Kantor Kepresidenan, kompleks Istana,
Jumat (5/1).
> 
>       Menurut dia, akibat sabotase tersebut pihak katering yang
ditunjuk penyelenggara haji Indonesia tidak bisa mencapai
tempat-tempat yang seharusnya dituju. Hal inilah yang menyebabkan
keterlambatan dan akhirnya kelaparan menimpa jamaah haji Indonesia. 
> 
>       Menag menjelaskan, perpindahan katering tersebut didasari
banyak hal. Pertama, pelayanannya tidak baik. Kedua, mutu makanan
kurang memuaskan, dan ketiga berkali-kali ''uang jamu'' yang besarnya
300 riyal itu ditanyakan oleh DPR. ''Mengapa uang jamu sampai sebesar
itu,'' katanya.
> 
>       Menurutnya, besaran 300 riyal tersebut pernah ditanyakan ke
pihak Muasasah. Mereka menjelaskan dengan berbelit-belit sampai
akhirnya pada perhitungan bahwa 300 riyal didapatkan dari 15 kali
makan. Adapun setiap makan dihargai 20 riyal. Padahal, menurut Maftuh,
di Madinah untuk sekali makan hanya dihargai 7 riyal.
> 
>       Selain itu, ONH plus saja untuk 15 kali makan dihargai hanya
250 riyal. ''Dan, ONH plus juga sama-sama makan tiga kali sehari
ditambah air, susu, kopi, buah-buahan yang tersedia 24 jam dan tidak
terbatas,'' katanya. 
> 
>       Yang juga menjadi pertimbangan adalah, pada ONH plus lauk pauk
minimal empat macam serta dilayani, sedangkan ONH biasa hanya satu
macam lauk pauk dan itupun harus ambil sendiri. ''Setelah mendapatkan
keterangan-keterangan dan secara prosedur sudah saya lakukan, maka
saya putuskan memilih Anna,'' katanya. 
> 
>       Tim Investigasi


Kirim email ke