Tarik Tabloid yang Memuat Foto Badawi-Yeoh            

Jumat, 05 Januari 2007 

Pemerintah Malaysia tiba-tiba menarik ratusan eksemplar tabloid Harakah yang
dikelola Partai Islam pan Malaysia (PAS), alasannya melanggar peraturan

 

Hidayatullah.com-Tabloid Harakah adalah media milik PAS, yang selama ini
kenal sebagai partai oposisi. Penarikan tabloid Harakah milih PAS ini karena
dianggap melanggar aturan. Pihak pemerintah mengatakan, Harakah telah dijual
untuk umum. Namun, redaksi Harakah yakin penarikan itu berkaitan dengan foto
PM Abdullah Ahmad Badawi yang terpasang di halaman utama. 

 

Sebelum ini, edisi Harakah yang beredar pekan lalu telah memasang foto
Perdana Menteri (PM) Abdullah Ahmad Badawi sedang merangkul pundak Michelle
Yeoh, seorang aktris Malaysia yang pernah menembus pasar internasional. 

 

Foto itu diambil saat keduanya menghadiri acara makan malam pada turnamen
layar internasional di negara bagian Trengganu sebulan lalu. 

 

Karena itu, pemerintah Malaysia menarik ratusan eksemplar tabloid ini, orang
langsung mengaitkannya dengan pemuatan foto tersebut. Namun, Zailani Hashim,
juru bicara Departemen Dalam negeri Malaysia, menepis tudingan itu. "Mereka
melanggar aturan. Mestinya Harakah hanya dijual ke anggpta PAS, bukan untuk
publik. Karena itu, pemerintah berhak menariknya" tutur Hashim.

 

Menurut aturan pemerintah, Harakah yang dicetak 140.000 eksemplar per bulan
itu hanya boleh dijual kepada anggota PAS. Namun, aturan tersebut tidak
dilaksanakan dengan tegas. Karena itu, PAS sering melanggar dan menjual
Harakah kepada publik. 

 

Dalam situs harakahdaily.net, mereka menuding Badawi, yang selama ini
dikenal dengan slogan Islam Hadhari, melakukan tindakan tak pantas bersama
Yeoh, aktris yang sempat jadi gadis Bond dalam Tomorrow Never Dies itu. Saat
itu, bintang Crouching Tiger, Hidden Dragon ini memakai pakaian yang
memperlihatkan pundaknya. 

 

Tabloid yang terbit dua kali sebulan itu sering menuding pemerintahan Badawi
yang moderat gagal mempertahankan nilai-nilai islami di negara dengan
penduduk 26 juta jiwa itu. PAS yang menerbitkan Harakah memang dikenal
menerapkan aturan Islam ketat, terutama di negara bagian Sarawak yang
dikuasainya. 

 

Ahmad Lutfi Othman, salah satu redaksi Harakah, menilai aturan yang
diterapkan pemerintah tidak adil. Dia menilai penarikan itu dilatari alasan
lain. Harakah sempat beberapa kali ditarik dengan alasan melanggar aturan
pada 1999 dan 2000 lalu. "Kami yakin pemerintah berusaha menciptakan budaya
ketakutan dengan penarikan ini. Kami akan mempelajarinya sebelum melawan
pemerintah lewat pengadilan," tegas Ahmad. [ap/jp]

 

Source : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content
<http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4066&Item
id=66> &task=view&id=4066&Itemid=66

 

Kirim email ke