Semoga Ujungnya Bukan Revitalisasi 

Seperti sudah menjadi pakem, setiap muncul sebuah persoalan yang menjadi 
perhatian luas masyarakat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk sebuah 
tim. Tentu saja, sebelum tim dibentuk, rangkaian rapat digelar. Nama tim lantas 
disesuaikan dengan persoalan yang hendak diuraikan dan diungkapkan secara 
benar. 

Oleh karena persoalan datang silih berganti, seperti sedang mengantre, Presiden 
tidak pernah kehabisan mencari nama tim yang kemudian dibentuknya. Terakhir, 
mendapati serentetan musibah transportasi yang memilukan, karena hingga kini 
belum juga tuntas, Presiden membentuk Tim Nasional untuk Evaluasi Transportasi. 

Hilangnya Kapal Motor Penumpang Senopati Nusantara dengan 628 penumpang dan 
awak serta pesawat AdamAir (96 penumpang dan enam awak) menggerakkan Presiden 
untuk memperbaiki manajemen pengelolaan transportasi yang menjadi urat nadi 
perekonomian. Semua persoalan bidang transportasi selama 10 tahun terakhir yang 
banyak menimbulkan persoalan, katanya, akan dilihat, diinvestigasi, dan 
dievaluasi. 

Beberapa hari sebelumnya, mendapati persoalan pelayanan makanan bagi jemaah 
haji di Arafah dan Mina, Arab Saudi, akhir Desember 2006, Presiden membentuk 
tim juga yang diberi nama Tim Investigasi dan Evaluasi Penyelenggaraan Haji 
Tahun 1427 Hijriah (2006). Mantan Menteri Agama di era Presiden Abdurrahman 
Wahid, KH Tolchah Hasan, diminta "turun gunung" menjadi ketua tim yang diberi 
waktu bertugas tiga minggu hingga satu bulan ini. 

"Untuk bangsa dan umat," ujar Presiden mengenai permintaannya kepada Tolchah 
untuk "turun gunung" memimpin tim yang dibentuknya melalui keputusan presiden 
di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat pekan lalu. 

Tim dengan tujuh anggota ini mulai bekerja dengan rapat terlebih dahulu dan 
juga berangkat ke Arab Saudi, Senin (8/1) siang. Tim akan berada di Arab Saudi 
(Mekkah dan Jeddah) selama dua minggu. Di Arab Saudi, tim akan bertemu Menteri 
Dalam Negeri dan Menteri Urusan Haji Arab Saudi, meminta penjelasan, dan 
mencari data-data yang diperlukan. 

Untuk keperluan investigasi, tim akan bertemu dengan pihak ANA for Development 
and Enterprises yang bertanggung jawab melayani kebutuhan makan bagi sekitar 
200.000 anggota jemaah haji Indonesia, tetapi tidak memenuhi tanggung jawabnya 
itu. 

Mengutip Presiden Yudhoyono saat mendampingi Tolchah memberi keterangan pers 
seusai diterima Presiden, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng 
mengatakan, "Presiden akan menindak penyimpangan dan kelalaian sesuai ketentuan 
dan derajat kelalaian yang ditemukan." 

Kutipan Presiden itu seperti pakem yang rutin juga dikatakan juru bicara 
kepresidenan setelah sebuah tim dibentuk. Namun, apakah kemudian kehendak untuk 
menindak penyimpangan dan kelalaian hasil temuan sebuah tim dilakukan atau 
tidak, sejauh ini belum nyata adanya. Belum ada yang ditindak meski sejumlah 
penyimpangan terjadi. 

Masih hangat di ingatan masyarakat saat bagaimana semburan lumpur panas akibat 
operasi PT Lapindo Brantas (milik Bakrie Group) kian tak terkendali dan 
mengusir secara paksa rakyat tidak bersalah, yang lebih dahulu tinggal di 
sekitar lokasi semburan lumpur panas. Ketika itu, setelah rapat di Kantor 
Presiden, Presiden membentuk Tim Nasional Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo. 

Saat kini lumpur semakin tak terkendali dan mengusir semakin banyak rakyat yang 
tidak bersalah dan melumpuhkan sejumlah aktivitas ekonomi, tidak jelas juga apa 
hasil evaluasi tim ini. Hasil kerja aparat yang sejak awal diberi tugas secara 
khusus oleh Presiden untuk melakukan investigasi juga sama tidak jelasnya 
dengan penanganan semburan lumpur yang hingga kini tidak terkendali. 

Apa kabar Tim Munir? 

Sekadar menengok ke belakang, dari sekian banyak tim yang dibentuk, tim pertama 
bentukan Presiden adalah Tim Investigasi Kasus Munir atau lebih dikenal dengan 
Tim Pencari Fakta Kasus Munir yang diketuai Brigadir Jenderal (Pol) Marsudhi 
Hanafi. Tim dibentuk Presiden setelah mendapati desakan dan masukan sejumlah 
pihak yang prihatin dengan kematian Munir. Munir mati tidak wajar di dalam 
pesawat Garuda Indonesia dalam perjalanan dari Jakarta ke Amsterdam. 

Dalam penjelasan tertulisnya ketika itu, Kepala Komunikasi Perusahaan PT Garuda 
Indonesia Pujobroto mengatakan, Munir meninggal dalam penerbangan Garuda 
Indonesia GA-974 dari Jakarta ke Amsterdam via Singapura sekitar dua jam 
sebelum pesawat mendarat di Bandar Udara Schiphol, Amsterdam, Belanda. 

Meskipun tim dibentuk, bahkan telah diperpanjang masa tugasnya, upaya 
mengungkap misteri pembunuhan aktivis hak asasi manusia ini tetap gelap dan tak 
jelas ujung pangkalnya hingga kini. 

Hasil temuan tim investigasi yang memberikan sejumlah laporan dan rekomendasi 
kepada Presiden Yudhoyono juga seperti misteri. Publik bahkan tidak diberi 
keterangan resmi. Menurut Andi, temuan dan rekomendasi tim Munir tidak 
diumumkan karena publik secara luas sudah mengetahuinya. 

Terhadap kasus Munir, yang menurut Presiden Yudhoyono akan menjadi ujian 
sejarah mengenai berubah atau belumnya Indonesia, Presiden kemudian menyerukan 
revitalisasi. Apa jabaran revitalisasi tidak dirinci. Meski tidak dirinci, 
Polri yang menjadi aktor kunci pengungkapan kasus itu mengaku memahami dan 
menindaklanjuti. 

Untuk sejumlah persoalan, setelah membentuk tim dan menerima laporan tim dalam 
sebuah rapat, pakem berikut yang kemudian diserukan Presiden adalah kata 
revitalisasi. 

Oleh karenanya lantas ada sejumlah kata revitalisasi dalam banyak persoalan 
negeri ini, seperti revitalisasi pertanian dan nelayan, revitalisasi nilai 
Pancasila, revitalisasi pendidikan, dan revitalisasi pos pelayanan terpadu. 

Semakin sempit 

Tahun telah berganti dan usia negeri ini bertambah. Kesempatan Presiden untuk 
membuktikan kepada rakyat Indonesia mengenai janji perubahan semakin sempit. 
Kenyataan ini tampaknya disadari. Di pengujung tahun 2006, Presiden memberi 
sinyal positif berupa tekad, untuk tidak menyebutnya sebagai janji. Dalam 
pidato menyambut Hari Ulang Tahun Ke-69 Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, 
ia menyatakan akan melakukan tindakan konkret, langsung, dan menggunakan bahasa 
terang dalam mengelola masalah di negeri ini. Ia mengaku, dua tahun cukup untuk 
kompromi dan berorasi. 

"Saya kira sudah saatnya seperti itu. Dengan demikian, pers bisa mengaudit apa 
yang dilakukan negara. Kurang katakan kurang, baik katakan baik. Dengan 
demikian, tidak ada dusta di antara kita," ujarnya, disambut tepuk tangan 
hadirin. 

Niat untuk tegas dan melakukan tindakan konkret Presiden saja sudah mendapat 
sambutan positif dan dukungan begitu luas. Apalagi kalau niat itu 
sungguh-sungguh diwujudkan di tiga tahun sisa masa lima tahun pengabdian. 

Berpegang pada tekad atau resolusi 2007 Presiden Yudhoyono, sangat wajar jika 
kini rakyat berpegang pada janji perubahan dan berharap tidak lagi dikecewakan. 

Selang beberapa hari setelah tekad untuk bertindak konkret, langsung, dan 
menggunakan bahasa terang disampaikan, Presiden Yudhoyono membentuk dua tim 
baru, yakni Tim Nasional untuk Evaluasi Transportasi serta Tim Investigasi dan 
Evaluasi Penyelenggaraan Haji 2006. Tim dibentuk karena semua pihak ingin 
mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Dari hasil investigasi dan evaluasi, 
semoga rakyat tidak sedang menunggu diujarkannya kembali kata revitalisasi. 

Tindakan konkret Presiden Yudhoyono pada tahun 2007 ditunggu realisasinya 
dengan berpegang pada hasil investigasi dan evaluasi dua tim yang dibentuknya. 
Alam dengan kearifannya telah bosan terus-menerus disalahkan. Rakyat ingin 
melihat ketegasan mewujud dengan adanya penindakan terhadap kelalaian dan 
penyimpangan yang telah banyak merugikan seperti telah dijanjikan. 

Tahun 2007 mulai ditapaki, rakyat pun berharap perubahan sungguh-sungguh mulai 
mewujud. Janji telah diucapkan, kerja (bukan sekadar rapat) harus dilaksanakan. 
(Wisnu Nugroho)

Sumber: Kompas - Selasa, 09 Januari 2007 

++++++++++

Untuk berita aktual seputar pemberantasan korupsi dan tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance) klik
http://www.transparansi.or.id/?pilih=berita

Untuk Indonesia yang lebih baik, klik
http://www.transparansi.or.id/

Kirim email ke