Sesungguhnya yang cukup mengerikan namun paling efektif ketimbang media adalah penetrasi di kampung-kampung. Ini saya temukan di tempat biasa saya nongkrong, di daerah Jakarta Timur. Sampai-sampai salah seorang teman baik juga sempat berteriak bahwa darah para anggota JIL adalah halal begitu juga almarhum Cak Nur, pantas diberikan ganjaran lantaran menyimpang dari Islam.
Sejauh mana media semacam hidayatullah ini, atau lebih spesifik lagi yang menggunakan jasa internet, berpengaruh besar. Jika hidayatullah dan sejenisnya menggunakan jasa internet, berarti masyarakat kelas menengah yang menjadi sasaran mengingat pengguna internet di Indonesia secara konservatif tidaklah menyeluruh. Ini yang menjadi ironi. Kelas menengah yang mampu mengakses informasi malah mungkin bisa berbalik. Saya setuju untuk senantiasa kritis terhadap media semacam ini. Namun harus ada jalan keluar yang baik. Soalnya, seringkali para pentolannya tidak bisa diajak diskusi secara civil. Kalau memang begitu maksudnya, saya akur saja pada poin terakhir. --- In [email protected], "wreddya hayunta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dian, mempertanyakan soal standar peliputan Hidayatullah > adalah "kewajiban" kita yang berpikiran sehat. Lantaran berita- > berita yang menjadi positioning media sejenis ini memang berada > dalam wilayah sensitif dalam kehidupan masyarakat. Apakah ini > mengandaikan bahwa masyarakat mudah termakan opini media seperti > Hidayatullah? Tergantung masyarakat yang mana. > > Jika ada anggota masyarakat yang konsumsinya hanya media-media > seperti hidayatullah, maka dia tidak punya media dan opini > pembanding, akibatnya dia bisa saja terpengaruh oleh berita semacam > itu. dan masyarakat jenis ini bukannya sedikit. Saya lihat banyak. > Apalagi media2 seperti itu didistribusikan hampir seperti multi > level marketing. Artinya ia didistribusikan/dipromosikan sebagai > majalah "umat" melalui para tokohnya, sehingga masyarakat yang > berada dalam lingkar panutannya turut mengkonsumsi majalah tersebut. > > Lepas dari itu, tetap saja media semacam ini perlu banyak2 dikritisi > karena nuansa propaganda dan sektariannya yang kental. Begitupun > media2 sektarian di agama lain juga harus kita cermati. > > Saya berpendapat forum klarifikasi pemurtadan tetap perlu ada, namun > ia tidak berdiri berseberangan dengan forum anti pemurtadan, justru > menjadi mitranya. Di sinilah kesempatan kerjasama antar agama justru > dibangun. Saya rasa kedua belah pihak akan diuntungkan dg kerjasama > semacam ini; permasalahan dibuka secara fair dandua arah, dicermati > bersama-sama, dirunut bersama dan dicarikan solusinya bersama.
