Lho,

Bukankah Depok itu basisnya PKS? Gimana neh, Pak NMI me-menej wilayahnya?
Atau ini cuman pengalihan isu saja atas ketidakbecusannya mengurus Depok???

Salam,


On 1/8/07, wreddya hayunta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Dian, mempertanyakan soal standar peliputan Hidayatullah
adalah "kewajiban" kita yang berpikiran sehat. Lantaran berita-
berita yang menjadi positioning media sejenis ini memang berada
dalam wilayah sensitif dalam kehidupan masyarakat. Apakah ini
mengandaikan bahwa masyarakat mudah termakan opini media seperti
Hidayatullah? Tergantung masyarakat yang mana.

Jika ada anggota masyarakat yang konsumsinya hanya media-media
seperti hidayatullah, maka dia tidak punya media dan opini
pembanding, akibatnya dia bisa saja terpengaruh oleh berita semacam
itu. dan masyarakat jenis ini bukannya sedikit. Saya lihat banyak.
Apalagi media2 seperti itu didistribusikan hampir seperti multi
level marketing. Artinya ia didistribusikan/dipromosikan sebagai
majalah "umat" melalui para tokohnya, sehingga masyarakat yang
berada dalam lingkar panutannya turut mengkonsumsi majalah tersebut.

Lepas dari itu, tetap saja media semacam ini perlu banyak2 dikritisi
karena nuansa propaganda dan sektariannya yang kental. Begitupun
media2 sektarian di agama lain juga harus kita cermati.

Saya berpendapat forum klarifikasi pemurtadan tetap perlu ada, namun
ia tidak berdiri berseberangan dengan forum anti pemurtadan, justru
menjadi mitranya. Di sinilah kesempatan kerjasama antar agama justru
dibangun. Saya rasa kedua belah pihak akan diuntungkan dg kerjasama
semacam ini; permasalahan dibuka secara fair dandua arah, dicermati
bersama-sama, dirunut bersama dan dicarikan solusinya bersama.

--- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "Rahadian
Permadi" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> MOD:
> Mas Rahadian, tolong komentarnya di c/c juga ke ZAMANKU. Trims
>
>
> Saya hendak memfokuskan persoalan ini ke masalah berita sebelum
Radityo
> membuat catatan kecil di bawah posting untuk melanjutkan diskusi
ini ke
> milis zamanku.
>
> Sampai saat ini saya belum dengar bahwa ada upaya klarifikasi yang
> dilakukan oleh pihak Kristen melalui media tentang praktek
kristenisasi
> ini. Barangkali memang ada tetapi mungkin saya tidak mengetahuinya.
>
> Berita ini menjadi meresahkan lantaran dua hal. Pertama dari sisi
> berita, sebagian orang menganggap bahwa berita model Hidayatullah
adalah
> pembentukan opini. Kesadaran masyarakat dibentuk oleh
> informasi-informasi yang ada. Dengan kata lain, media membentuk
> kesadaran masyarakat. Sehingga sebagian orang menolak model berita
> semacam ini dan meminta untuk membuat berita yang baik sebagai
bagian
> dari pemenuhan hak masyarakat atas informasi.
>
> Namun persoalan dari argumen ini adalah pengandaian bahwa
masyarakat
> memiliki kesadaran semu sehingga begitu mudah dibentuk oleh media.
> Padahal pengalaman masyarakat sendiri untuk hidup bersama,
sekalipun
> bentuknya berbeda, membuktikan bahwa berita semacam ini tidak
sampai
> merubah opini tentang bagaimana hidup berdampingan dengan yang
lain.
>
> Mungkin usulan untuk membuat forum klarifikasi seperti yang
dicetuskan
> Aquino tidak perlu. Nantinya akan membuat persoalan menjadi islam
versus
> kristen. Ada baiknya barangkali organisasi-organisasi independen
yang
> bergerak dibidang informasi membuat semacam media watch. Namun ini
juga
> bukan persoalan mudah. Sebab jika ada pertanyaan mengenai mutu
media itu
> sendiri, misalnya dalam kasus Hidayatullah, sangat mungkin akan
dituduh
> sebagai bagian dari skenario kristenisasi. Atau bahkan lebih parah
lagi,
> menuduh gagasan pluralisme menyimpan agende tersembunyi. Ini bisa
> dilihat dari postingan Ida tentang temannya yang diceramahi oleh
> kelompok Islam. Kalau skenario ini memang terjadi persoalannya
bukan
> lagi masalah berita tetapi sudah ideologis.
>
> Persoalan kedua adalah masalah isu itu sendiri. Kristenisasi
tampaknya
> memang dipakai sebagai wacana untuk mengkonsolidasikan gerakan
Islam.
> Tentu saja tidak semua kelompok Islam. Tetapi dari pengamatan saya,
> beberapa kelompok seperti DDI dan FPI misalnya menggunakan wacana
> Kristenisasi. Sesungguhnya ini mengingatkan kita kepada Suharto
yang
> mengangkat-angkat PKI dan Komunisme sebagai ancaman, sekalipun
> kenyataannya sangat sulit untuk bangkit lagi (memang komunisme dan
> 'kristenisasi' adalah dua hal yang berbeda namun proses
penggunaannya
> sebagai wacana adalah serupa).
>
>
>
>
> --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "aquino"
<aquino@> wrote:
> >
> > Ketakutan soal kristenisasi terjadi karena:
> >
> > 1. Kurang mengenal akrab siapa itu orang kristen
> > 2. memang ada praktek2 kristenisasi
> >
> >
> >
> > Kurang mengenal akrab tentang kristen; ada banyak jenis kristen,
yang
> satu
> > sama lain bisa dianggap sebagai agama yang berbeda. Katolik
misalnya,
> tidak
> > mengenal pembaptisan instan. Untuk menjadi katolik, orang harus
> belajar dulu
> > selama 1 tahun. Kalau dia terlalu banyak bolos, harus mengulang
> setahun
> > lagi. Teman saya yang secara baik2 pindah agama mau masuk katolik
> harus
> > mengulang pelajaran agama katoliknya selama 3 kali alias 3 tahun
> sebelum
> > akhirnya dibaptis. Itu karena dia sering bolos pelajaran.
Kecuali yang
> mau
> > dibaptis sedang sakit keras dan hampir meninggal, umumnya gereja
> katolik
> > tidak mengenal baptis saat itu juga. Kristen lainnya setahu saya
bisa
> > langsung dibaptis, walaupun beberapa juga mengidealkan adanya
> pelajaran
> > agama sebelum masuk kristen.
> >
> >
> >
> > Banyaknya jenis kristen ini mengakibatkan umat butuh gereja yang
> > bermacam-macam. Umat katolik dg kristen pantekosta misalnya,
masing2
> butuh
> > gereja sendiri (seperti kata Ida Khouw) dan tidak bisa beribadat
dalam
> satu
> > gereja. Oleh karena itulah banyak gereja yang dibangun walaupun
> jemaatnya
> > sedikit.
> >
> >
> >
> > Praktek kristenisasi sampai sekarang memang ada, namun saya
tidak tahu
> > seberapa intensnya dan dilakukan oleh golongan yang mana - karena
> setiap
> > agama punya golongan yang sering dikatakan sebagai golongan
radikal.
> Namun
> > yang jelas ketakutan terhadap kristenisasi dibesar-besarkan untuk
> > kepentingan politis dan penggalangan dukungan umat. Siapa yang
tampil
> > membela umat ke depan tentu yang akan dapat nama. Maka bahaya
yang
> (sering)
> > diciptakan adalah antara lain kristenisasi. Sehingga gereja yang
> berdiri
> > baik-baik dicurigai sebagai misi kristenisasi. Bukti-bukti thd
tuduhan
> > kristenisasi kurang diteliti dg baik. Berita Hidayatullah yang di
> forward
> > kader PKS di milis ini misalnya tidak mencoba mencari pihak
kristennya
> dan
> > mengklarifikasi berita yang dimaksud. Begitu banyak berita-berita
> kabur
> > semacam ini. Contohnya lagi penemuan 3 buah buku bergambar
kristen
> dalam
> > ratusan buku sumbangan korban gempa di Yogya dianggap sebagai
> kristenisasi,
> > padahal dari segi proporsi saja sudah tidak representatif kalau
itu
> dibilang
> > kristenisasi.
> >
> >
> >
> > Dari kaum kristen sendiri tidak cerdas menangani isu ini, mereka
diam
> saja
> > sehingga seolah-olah membenarkan bahwa kristenisasi ada. Jika
kelompok
> Islam
> > punya Forum Anti Pemurtadan, mungkin ada baiknya kelompok kristen
> bikin
> > Forum Klarifikasi Pemurtadan, yang bekerja sama erat dg Forum
Anti
> > Pemurtadan.Jika ada pemurtadan dg tipu muslihat seperti
dikabarkan
> > Hidayatullah, maka harus segera ditindak dan diambil langkah
hukum.
> >
> >
> >
> > Dari sisi teologis, kasus-kasus semacam ini menunjukkan bahwa
memang
> > pengakuan terhadap pluralitas adalah situasi yang tidak bisa
> ditawar-tawar
> > lagi. Karena kristenisasi maupun Islamisasi (sebetulnya kita
banyak
> menutup
> > mata terhadap islamisasi - padahal jauh lebih gencar daripada
> kristenisasi.
> > Di mall-mall atau di banyak tempat buku-buku yang sifatnya
> "menggoyahkan"
> > iman kristen banyak dijumpai, dan diterbitkan sebagian oleh
penerbit2
> > berafiliasi Islam) bersumber dari anggapan teologis bahwa mereka
yang
> ada di
> > luar agamaku adalah kafir, sehingga perlu diselamatkan. Dengan
> mengakui
> > bahwa keselamatan ada di dalam agama lain, maka sebetulnya kita
bisa
> > mencegah kristenisasi atau islamisasi yang sangat mengganggu
kehidupan
> > berbangsa.
> >
> >
> >
> > Dalam postingan Ida ada hal yang menarik; yaitu ide jangan-
jangan isu
> > kristenisasi disebarkan dalam rangka pecah-belah. Artinya bisa
jadi
> ada
> > pihak2 yang berperan sebagai kristen dan pura2 mau
mengkristenkan umat
> lain
> > dg cara2 yang vulgar dan menimbulkan amarah. Mengingat konflik2
> sektarian di
> > tanah air sering terjadi, bukan tidak mungkin hal ini yang
terjadi.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > _____
> >
> > From: [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>
[mailto:[email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>] On
> Behalf
> > Of Rahadian Permadi
> > Sent: 07 Januari 2007 17:14
> > To: [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>
> > Subject: [mediacare] Re: Geger "Kristenisasi" di Depok
> >
> >
> >
> > Sudah berkali-kali berita semacam ini diposting. Dari beberapa
yang
> saya
> > baca memang berasal dari satu sumber Hidayatullah. Ada baiknya
jika
> pihak
> > gereja sendiri diberikan ruang untuk bicara. Namun tampaknya
sumber
> berasal
> > dari satu pihak saja. Barangkali memang ada kelompok Kristen yang
> radikal
> > tetapi saya belum melihat mereka melakukan Kristenisasi.
> >
> > Pada paragraf terakhir, Ade menulis bahwa "berita-berita buruk
semacam
> ini
> > justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di masa depan."
Masih
> belum
> > jelas apa maksud berita buruk yang anda maksud? Apakah maksudnya
> > kristenisasi itu adalah berita buruk atau penulisan beritanya
yang
> buruk?
> >
> > Saya juga ingin tahu bagaimana pendapat Wido si pengirim berita
> tentang
> > persoalan ini?
> >
> >
> >
> >
> > --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>,
adenina@ wrote:
> > >
> > > Rekan-rekan.
> > > Saya risau sekali dengan komunikasi yang terjalin soal isu
> kristenisasi
> > ini.
> > > Saya berasumsi bahwa para peserta milis ini tergolong kaum
> berpendidikan
> > > yang diharapkan justru bisa mengarahkan masyarakat luas untuk
hidup
> dengan
> > > penuh kedamaian.
> > > Tapi kentara sekali bahwa banyak peserta diskusi yang
mengedepankan
> emosi
> > > seraya mengabaikan substansi masalah.
> > > Saya rasa, berita dari hidayatullah itu justru perlu diangkat
secara
> luas,
> > > selama kita bersedia membicarakannya secara dingin.
> > > Maksud saya begini:
> > >
> > > Pertama-tama, kalau berita itu benar, saya rasa itu persoalan
> serius. Dan
> > > kita ditantang untuk menjawab sebuah pertanyaan besar: apakah
layak
> > > penyebaran agama dilakukan dengan cara menipu dan mengiming-
imingi
> > > anak-anak? Apakah penyebaran agama layak dapat dilakukan dengan
> prinsip
> > > 'tujuan menghalalkan cara'. Saya akan menjawab tidak. Lebih
dari itu
> saya
> > > menyarankan agar kita bersama-sama menyuarakan penolakan
terhadap
> > > bentuk-bentuk penyebaran agama dengan cara tidak etis semacam
itu.
> > >
> > > Kedua, kalau berita itu benar, apakah model penyebaran agama
semacam
> itu
> > > mewakili arus utama dalam organisasiu-organisasi Kristen, atau
> sekadar
> > > mewakili kalangan ekstrem tertentu. Sepanjang yang saya
ketahui, ini
> > > adalah gaya kalangan radikal Kristen tertentu dan bukan ciri
> mainstream
> > > Kristen. Karena itu, sebagaimana layaknya kita harus membedakan
> antara
> > > arus utama umat islam dengan kelompok radikal Islam, kita juga
tidak
> > > mudah2 menuduh apa yang terjadi sebagai kesalahan umat Kristen
> secara
> > > umum. Dalam hal ini, saya menyarankan juga teman-teman beragama
> Kristen
> > > bisa menjelaskan secara proporsional kepada umat non-Kristen
tentang
> kaum
> > > Kristen eksklusif tersebut.
> > >
> > > Ketiga, bagaimana kalau berita itu ternyata tidak benar?
Karena itu,
> > > alih-alih langsung bereaksi keras, yang bisa dipertanyakan
adalah
> > > kesahihan berita Hidayatullah tersebut. Apakah ini ditulis
dengan
> gaya
> > > 'jurnalisme katanya' seperti yang secara sangat memalukan
terjadi
> dalam
> > > kasus pemberitaan 'adam air' , atau memang dengan mengikuti
> > > prinsip-prinsip jurnalistik yang benar. Kalau tidak salah sih,
> berita ini
> > > tidak ditulis dengan peliputan berimbang (cover both sides).
> Akibatnya
> > > akurasi dan kebojektifannya pun mungkin bisa diragukan.
> > >
> > > Saya rasa dengan bersikap lebih hati-hati semacam ini, berita-
berita
> buruk
> > > semacam ini justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di
masa
> depan.
> > > Kalau setiap berita buruk dihadapi dengan cercaan, saya kuatir
kita
> justru
> > > tidak cukup siap menghadapi kondisi-kondisi yang mensyaratkan
> respons
> > > bersama.
> > >
> > > Salam
> > >
> > > ade%
> > >
> >
>



Kirim email ke