Mas Goenardjoadi, 1. Perusahaan memang bukan negara dengan sistem politik demokrasi. Tapi perusahaan yang maju di era milennium ini adalah perusahaan yang tanggap dengan aspirasi karyawan. Karyawan dipandang bukan sekadar sebagai robot yang tinggal diperintah apa saja dan harus patuh membabi-buta. Mereka bisa termotivasi dan memberi kontribusi, jiuka secara manusiwi dihargai. Yang saya katakan ini justru teori manajemen modern, bukan teori manajemen zaman revolusi industri.
2. Perjuangan yang dilakukan Wisudo mengacu ke Keputusan Menteri RI tentang pemberian saham 20% buat karyawan di perusahaan pers. Jadi ada dasar hukumnya. Bukan asal menuntut. Memangnya Anda menganjurkan perusahaan mengabaikan aturan Menteri? 3. Tugas serikat pekerja dan AJI itu memperjuangkan nasib anggotanya, baik di zaman Soeharto maupun di zaman SBY. 4. Perjuangan saya mendukung serikat pekerja itu mengacu ke pasal-pasal Undang-Undang perburuhan Republik Indonesia. Jadi, kalau Anda tidak sepakat, coba usulkan agar UU itu diubah saja. ----- Original Message ---- From: goenardjoadi <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, January 9, 2007 8:44:12 AM Subject: [mediacare] Re: Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 2007, depan Bunderan HI Mas Satrio, Membahas point anda no. 3 anda menganggap bahwa wajar bagi seseorang untuk berbeda pendapat dengan Pimpinan, namun mesti diingat bahwa perusahaan itu bukan tempat demokrasi, keputusan diambil bukan menurut voting, tapi diambil Pimpinan yang lebih mengerti informasi, visi, dan tujuan perusahaan, apalagi kalau lingkungannya seperti "Kompas saya akui relatif jauh lebih baik dalam hal gaji dan fasilitas dibandingkan media lain." Lalu apa yang anda perjuangkan? Demokrasi? mana ada demokrasi dalam perusahaan? Ketidak adilan? faktanya hampir semua karyawan Kompas happy, tata tentrem karta raharjo.. Kalau AJI mengurusi anggotanya supaya tahan pecat, itu sungguh disayangkan, mengecilkan arti perjuangan anda dulu yang diincar intel, kopasus, dll. Musuhnya Bambang Wisudo itu adalah dirinya sendiri, kemauan dirinya sendiri, dan kurang bisa bersikap santun kepada Pimpinan.. Masih wajar Pimpinan Redaksi Kompas tidak memanggil yang lain, hanya memanggil Satpam. Itu khan wajar mas, namanya di Kantor ada aturannya. Anda sudah 3 kali dipecat karena kegiatan Serikat Pekerja, pengalaman anda apa masih belum jelas, bahwa perusahaan bukan tempat demokrasi. Daripada sibuk demo.. Lebih baik Bambang Wisudo mulai ketemu Pak Chaerul, atau Pak Harry Tanoe untuk melamar kerja, masih banyak pekerjaan bagi yang ahli.. salam damai, Goenardjoadi Goenawan --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Satrio Arismunandar <satrioarismunandar @...> wrote: > > Komentar saya: > 1. Rezim penguasa yang seram seperti Soeharto memang sudah tidak ada. Tapi tindakan kekerasan terhadap wartawan masih ada di lapangan (oleh "oknum" polisi, pejabat, preman, dll) tetap ada, serta ancaman terhadap kebebasan pers tidak lantas lenyap 100%. > > AJI membela Wisudo karena pengurus AJI Jakarta menilai Wisudo memang patut dibela. Tidak asal dibela (saya bukan pengurus AJI, tapi itulah yang saya tahu tentang policy pengurus AJI sekarang). Pengurus AJI saya pikir cukup kritis. Mereka wartawan dari berbagai media yang bukan baru setahun-dua tahun di dunia jurnalistik. > > 2. Tekanan terhadap wartawan dari internal perusahaannya sendiri masih ada di berbagai media. Misalnya, dipaksa menerima gaji yang tidak layak, kondisi kerja yang minim, dsb. Kompas saya akui relatif jauh lebih baik dalam hal gaji dan fasilitas dibandingkan media lain. > > 3. Soal penilaian terhadap Wisudo di internal Kompas sebagai "pembangkang" dsb, itu bisa "obyektif" tapi juga bisa bias, karena tergantung dari posisi/kepentingan wartawan bersangkutan di perusahaannya. Makin senior seorang wartawan, makin besar kepentingannya, karena dia biasanya sudah mendapat jabatan (dan gaji) yang mapan. Karena Anda tidak menyebut nama wartawannya, maka saya juga tak bisa menilai secara akurat. Saya bicara secara common sense saja. > > Namun, sekadar catatan saya: budaya "cari aman" dengan ikut apapun maunya boss, bukan cuma ada di Kompas, tapi juga di banyak media lain. Menjadi "oposisi" terhadap kebijakan pimpinan, memang tidak populer dalam arti sulit mencari pendukung terang-terangan. Paling banter, mereka akan bilang dengan bisik-bisik ke Anda: "Bung, saya dukung perjuangan Anda secara moral dan doa!" Maklum, risikonya besar dan kita tahu sekarang sulit cari kerja. Lebih aman menjadi pendukung kebijakan pimpinan. > > Saya tahu betul budaya cari aman ini, karena saya sendiri sudah mengalami sekitar 3 kali "dipecat" atau "dipaksa mundur" di berbagai media, terutama karena aktivitas Serikat Pekerja. Ketika Anda sudah diposisikan sebagai "musuh" pimpinan, satu-persatu teman Anda di kantor akan mengambil jarak dari Anda, karena tak mau dianggap "satu kubu dengan musuh pimpinan." > Percayalah, karena saya di sini tidak bicara dari teori. > > > ----- Original Message ---- > From: aja.. baca <hidupku_hariini@ ...> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Sent: Monday, January 8, 2007 1:32:38 PM > Subject: Re: [mediacare] Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 2007, depan Bunderan HI > > ehm, mas satrio yang baik, saya setuju kalo wartawan perlu wadah yang tidak sekdar melindungi tapi juga membela untuk kasus2 seperti ini. sama, saya juga wartawan mau lari kemana kalau musibah ini menimpa saya. hanya masalahnya, mengacu pada teori jurnalistik yang harus cover both side dan lainnya, saya coba tanya kesejumlah wartawan kompas yang lumayan senior, mas Wisudo ini memang bermasalah dan kerap menolak tugas. > > sebenernya saya cuma ingin kasih masukan, apa tidak sebaiknya AJI memilah-milah siapa yang seharusnya dibela. kalau dipecat karena membangkang dari tugas apa layak untuk dibela? > > itu saja sih, .. ini bukan zaman soeharto lagi kan, kebebasan sudah tidak lagi terbelenggu. tapi gw berarti kita seenaknya kan..? > > > ----- Original Message ---- > From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar @ yahoo.com> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Sent: Monday, 8 January, 2007 12:29:45 PM > Subject: Re: [mediacare] Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 2007, depan Bunderan HI > > > Tugas AJI dan Serikat Pekerja ya membela anggotanya yang dipecat, Mas.... > Kalau AJI diam saja atau sekadar memaklumi (seperti yang dilakukan PWI ketika Pemerintah Soeharto membredel Tempo, DeTik dan Editor 1994), ya mendingan AJI dibubarkan saja. > > Anda tentu berhak berkomentar apa saja.... Kritik Anda terbilang halus dan sopan. > Kita nggak gampang tersinggung kok. Karena di zaman Soeharto, anggota AJI udah pengalaman dikejar-kejar polisi dan intel. > > > ----- Original Message ---- > From: aja.. baca <hidupku_hariini@ yahoo.co. uk> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Sent: Sunday, January 7, 2007 10:21:35 AM > Subject: Re: [mediacare] Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 2007, depan Bunderan HI > > > Aduh ... heran deh, karyawan kompas yang lain aja ga ambil pusing, kenapa jadi AJI yang repot. kalo memang Wisudo ini bener bahwa Kompas merugikan karyawannya, pasti dia didukung karyawan lainnya dong. > > bukannya apatis, tapi jika sudah tidak sepaham dengan perusahaan, ya sudah keluar saja jangan sok berontak dan merasa yang paling benar. memangnya mengelola perusahaan itu mudah. kalo mau semuanya diturutin, bikin aja perusahaan sendiri. Disini saya tidak menempatkan diri sebagai siapa-siapa, tapi setau saya Kompas itu paling manusiawi dalam memperlakukan karyawannya. Gaji saja bisa sampai 17 kali. belum kalau sudah 5 tahun kerja bisa dapat pinjaman sebesar 20 kali gaji (kalo saya tidak salah angganya) tanpa bunga, dll. > > buat AJI, koq lama-lama jadi reaksioner gini sih. > > -trims, maaf kalau menyinggung- > > > ----- Original Message ---- > From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar @ yahoo.com> > To: news Trans TV <news-transtv@ yahoogroups. com>; Forum Kompas <forum-pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com>; pantau <pantau-komunitas@ yahoogroups. com>; jurnalisme <jurnalisme@ yahoogro ups.com>; aipi_politik@ yahoogroups. com; mediacare mediacare <[EMAIL PROTECTED] u ps.com> > Sent: Saturday, 6 January, 2007 3:54:05 PM > Subject: [mediacare] Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 2007, depan Bunderan HI > > > ----- Original Message ---- > From: AJI Jakarta <[EMAIL PROTECTED] id> > To: jurnalis_jakarta@ yahoogroups. com.au > Sent: Saturday, January 6, 2007 3:29:38 PM > Subject: [jurnalis_jakarta] > > > > Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (Kompas) > Jl. Dr. Soepomo No.1A Komplek BIER Menteng Dalam > Jakarta Selatan 12870 > Tlp./Faks: 021-83702660, > CP: 081310274674 (Edy Haryadi), 081585160177 (Sholeh Ali), > 08155517333 (Winuranto Adhi), 0811932683 (Bambang Wisudo) > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - > untuk mengikuti perkembangan kasus ikuti > http://kompasinside .blogspot. com > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - > Aliansi Jurnalis Independen (AJI), LBH Pers, YLBHI, LBH Jakarta, > Paguyuban Korban Kelompok Kompas Gramedia, Aliansi Nasional Bhineka > Tunggal Ikka (ANBTI), PBHI, TURC, Aliansi Buruh Menggugat (ABM), LBH > Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), FPPI, Serikat Guru > Tanggerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen Indonesia, ICW, > LBH APIK, PPR, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, LMND, Papernas, SPR, Arus > Pelangi, SP 68H, GMS, Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Praxis, > Forum Pers Mahasiswa Jakarta (FPMJ), FMKJ, Partai Rakyat Pekerja (PRP), > Sanggar Ciliwung, FSPI, Repdem Jakarta > ============ ========= ========= ========= ======== > AKSI SPANDUK TERPANJANG > PECAHKAN REKOR MURI > > Kepada Yth: Teman-teman jurnalis > Hal : Undangan liputan > > Pemecatan dan kekerasan terhadap Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas > karena menyoal saham kolektif 20 persen milik karyawan, Bambang Wisudo, > telah memicu protes secara meluas. > > Untuk itu, kami mengundang teman-teman untuk hadir dalam aksi spanduk > `anti pemberangusan serikat pekerja' terpanjang yang selama ini pernah > digelar. Tujuannya adalah memecahkan rekor Musium Rekor Indonesia (MURI). > Untuk itu, MURI sebagai organisasi sudah diberitahu secara resmi. > > Karenanya, Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (KOMPAS) mengundang > teman-teman untuk meliput aksi spanduk terpanjang ini yang akan bermula > pada: > > Hari : Senin, 8 Januari 2007 > Pukul : 10.00 WIB – selesai > Tempat : Bunderan Hotel Indonesia (HI), > Jakarta Pusat > > Atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih. > > Bersatu melawan pemberangusan serikat pekerja! > > Jakarta, 5 Januari 2007 > > Edy Haryadi > Koordinator > > ============ ========= = > Sekretariat AJI JAKARTA > Jl. Prof. Dr. Soepomo No 1 A > Kompl. BIER, Menteng Dalam > Jakarta Selatan 12870 > Telp/fax. +62-21-83702660 > Website : www.aji-jakarta. org > ============ ========= = > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ __ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail. yahoo.com > > > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ __ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail. yahoo.com > > > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com > > > ____________ _________ _________ _________ _________ __ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail. yahoo.com > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
