Ini bukti sontoloyonya aparat penegak hukum di Indonesia. Sudah sejak lama masyarakat mengeluhkan keberadaan bandar narkoba di Kampung Ambon, Jakarta Barat, tetapi aparat hukum Indonesia malah belagak begok. Jangan-jangan mereka memang beneran begok.
Merdi http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0701/08/metro/3222692.htm Sindikat Menunggu PS di "Kampung Narkoba" Menjelang tengah malam, medio Desember 2006, sebagian besar warga Jakarta sudah terlelap. Namun, di salah satu kompleks perumahan di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, ratusan pemuda mulai beraktivitas di ujung gang. Mereka berdagang ganja, sabu, dan ekstasi. "Mau beli apa? Cari apa?" itulah sapaan khas dari para pemuda kepada orang luar yang masuk ke kompleks perumahan itu. Beberapa pemuda secara bergantian sepanjang hari bergerombol di ujung kompleks perumahan. Sepintas, mereka seperti warga yang sedang ronda malam. Namun, ternyata mereka berbekal tas kecil berisi timbangan, bungkusan plastik berisi sabu, ekstasi, dan gulungan daun ganja kering dalam kertas koran. "Kami jual ganja satu ampel, berisi enam bungkus, Rp 150.000. Sekarang lagi sepi, karena PS (pembeli narkoba yang dijuluki pasien alias PS di kalangan pengguna narkoba) ditangkap polisi selepas belanja di sini. Kalau mereka teriak minta tolong dan tidak jauh dari kompleks, biasanya kami tolong. Polisi bisa diserbu ramai-ramai. Ibu-ibu juga ikut keluar," ujar Ey, seorang pedagang. Sepi setelah penangkapan Meski tersohor sebagai pusat narkoba, konon bisnis itu sedang sepi belakangan ini. Dalam kondisi normal, Ey dapat menjual satu kilogram ganja setiap hari yang menghasilkan uang minimal Rp 3,5 juta. Sekarang, untuk menjual satu kilogram ganja perlu waktu dua hingga tiga hari. Ganja tersebut dikirim oleh sindikat dari Pulau Sumatera. Menjelang tengah malam, beberapa pemuda datang membeli paket ganja, berupa dua bungkus seukuran separuh cerutu seharga Rp 25.000 per bungkus. Tidak lama kemudian, seorang warga bergabung dan menyodorkan kertas untuk melinting ganja. Tak lama berselang, lintingan dibakar dan diisap seperti mengisap rokok. Segera tercium aroma ganja yang khas, menyebar di udara malam. Para pembeli biasanya langsung pulang dan tidak diizinkan memakai narkoba di kompleks. Perkecualian seperti kejadian di atas, karena adanya hubungan erat pembeli dan pedagang. Bahkan, di sejumlah rumah di kompleks itu, para pembeli dapat menikmati sabu (mereka sebut ubasRed) di rumah pedagang. Pesta narkoba berlangsung sepanjang hari dengan bebas. Para pembeli berdatangan dari berbagai lokasi di Pulau Jawa, seperti Bandung, Jawa Tengah, Jabodetabek, dan Banten. Ada konsumen yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali, ada pula untuk dipakai sendiri. Praktik ini, menurut Ey, sudah berlangsung sebelum 1990-an. Pada akhir pekan, perdagangan makin ramai. Sejumlah tokoh terkenal, orang yang sering muncul di layar kaca, misalnya, turut menjadi pelanggan. Giliran "shooting" Berdagang narkoba memang menjadi pilihan utama warga. Menurut Wn, seorang pengecer di Jakarta Pusat, pedagang narkoba di kompleks itu sekitar 600 orang dan terorganisasi. "Pedagang di sini shooting sehari sekali. Aplusan setiap pukul lima sore," ujar Wn. Yang dimaksud shooting di kalangan pedagang narkoba di Kampung Ambon adalah giliran berjualan. Ketika didatangi oknum aparat yang meminta jatah, Ey, misalnya, tidak gentar. Saat polisi melakukan razia dengan membawa anjing pelacak, warga tidak kurang akal. Mereka melepas puluhan anjing kampung. Walhasil, anjing pelacak yang tidak dilatih untuk bertarung, langsung kehilangan nyali, sipat kuping, ambil langkah seribu. Perdagangan narkoba juga memberi lapangan kerja bagi kaum perempuan. Setidaknya, mereka mendapat pesanan untuk membungkus ganja atau dikenal dengan istilah ngecak. "Ngecak satu kilogram ganja dapat bayaran Rp 150.000. Kalau sudah ahli, bisa dapat lima kilogram. Pendapatan minimal Rp 750.000 sekali kerja," ujar Ey. Menjelang pagi, para pedagang masih terlihat bergerombol di ujung jalan. Mereka melihat ke arah jalan dekat Cengkareng Drain, untuk menanti PS. Selepas itu, mereka menunggu waktu aplusan pertanda "shooting" sudah usai dan kembali ke rumah masing-masing. Melihat jejaring yang sedemikian rapi dan penghasilan besar, tidak heran jika tua-muda, lelaki-perempuan di kampung narkoba itu sangat kompak menghadapi aparat. Masyarakat melapor Dalam kesempatan terpisah, Kepala Operasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Besar Siswandi mengatakan, masyarakat diharapkan melapor kepada petugas jika di lingkungannya ada tanda-tanda yang tak beres, terkait dengan peredaran narkotika dan obat-obatan berbahaya atau narkoba. Ketika ditanya soal kompleks perumahan di kawasan Cengkareng yang menjadi tempat transaksi narkoba, Siswandi belum mau memberi keterangan. Kompleks itu konon merupakan daerah yang selama ini terkenal "ditakuti" untuk dimasuki, termasuk aparat. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Metro Jakarta Barat Komisaris Andry Wibowo mengatakan, semua bentuk kejahatan akan ditumpas oleh kepolisian. "Kami tidak mengenal peta tempat-tempat rawan. Bagi kami, semua daerah berpotensi rawan. Tetapi jangan khawatir karena negara di belakang masyarakat," katanya. Polisi, kata Andry, juga tak mengenal peta kekuasaan daerah tertentu yang dikuasai oleh preman tertentu. Jika polisi mengakui daerah tertentu dikuasai oleh kelompok tertentu, itu seperti membenarkan kejahatan terjadi. Masyarakat diharapkan ikut aktif melapor jika ada kegiatan ilegal. Adapun Kepala Polres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Edward Syah Pernong menyatakan, pihaknya tidak tinggal diam terkait peredaran narkoba di wilayahnya. Telah beberapa kali aparat polres melakukan penggerebekan di Kelurahan Kedaung, Cengkareng, dan telah menangkap belasan pengedar. Upaya pemberantasan lain yang dilakukan, menurut Pernong, adalah dengan menjaring pembeli di tempat transaksi jual beli narkoba itu. (tim kompas) "The more you praise and celebrate your life the more there is in life to celebrate" __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
