Saya penganut Katholik ( saya ungkapkan ini supaya orang bisa memahami kalo
seandainya ada bias pendapat yang saya lontarkan ), bagi saya memahami isu
kristenisasi sungguh merupakan hal yang tidak mudah krn dalam keseharian, saya
sendiri belum pernah melihat ataupun melakukan proses yang disebut kristenisasi
itu sendiri. Menanggapi usul tentang adanya klarifikasi dari pihak - pihak yang
dituduh melakukan kristenisasi sesungguhnya juga bukan hal yang mudah mengingat
banyaknya sekte dalam agama kristen. Kalo saya mengatakan tidak ada proses
kristenisasi semacam yang disebut selama ini, tentu pihak2 yang merasa punya
bukti tentang hal tersebut akan langsung merasa gerah, namun sebagai salah satu
golongan yang datang dari kelompok kristen saya juga bingung kalo harus
memberikan klarifikasi tetang hal2 semacam itu, apalagi kalo tudingan
kristenisasi itu tidak jelas menyebut alamat gereja ataupun kelompoknya secara
spesifik.
Terus terang saya selalu bingung menanggapi isyu semacam ini, terlebih kalo
pihak2 yang melemparkan isyu dengan cara memforward berita kemudian tidak
berupaya juag utk memperjelas isyunya dan di saat orang lain terlibat diskusi
yang seru, pihak tersebut malah cenderung diam saja. Atau memang tujuannya
begitu ? Supaya orang lain ribut dan dia bisa ketawa2 di belakang panggung.
Rahadian Permadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MOD:
Mas Rahadian, tolong komentarnya di c/c juga ke ZAMANKU. Trims
Saya hendak memfokuskan persoalan ini ke masalah berita sebelum Radityo
membuat catatan kecil di bawah posting untuk melanjutkan diskusi ini ke
milis zamanku.
Sampai saat ini saya belum dengar bahwa ada upaya klarifikasi yang
dilakukan oleh pihak Kristen melalui media tentang praktek kristenisasi
ini. Barangkali memang ada tetapi mungkin saya tidak mengetahuinya.
Berita ini menjadi meresahkan lantaran dua hal. Pertama dari sisi
berita, sebagian orang menganggap bahwa berita model Hidayatullah adalah
pembentukan opini. Kesadaran masyarakat dibentuk oleh
informasi-informasi yang ada. Dengan kata lain, media membentuk
kesadaran masyarakat. Sehingga sebagian orang menolak model berita
semacam ini dan meminta untuk membuat berita yang baik sebagai bagian
dari pemenuhan hak masyarakat atas informasi.
Namun persoalan dari argumen ini adalah pengandaian bahwa masyarakat
memiliki kesadaran semu sehingga begitu mudah dibentuk oleh media.
Padahal pengalaman masyarakat sendiri untuk hidup bersama, sekalipun
bentuknya berbeda, membuktikan bahwa berita semacam ini tidak sampai
merubah opini tentang bagaimana hidup berdampingan dengan yang lain.
Mungkin usulan untuk membuat forum klarifikasi seperti yang dicetuskan
Aquino tidak perlu. Nantinya akan membuat persoalan menjadi islam versus
kristen. Ada baiknya barangkali organisasi-organisasi independen yang
bergerak dibidang informasi membuat semacam media watch. Namun ini juga
bukan persoalan mudah. Sebab jika ada pertanyaan mengenai mutu media itu
sendiri, misalnya dalam kasus Hidayatullah, sangat mungkin akan dituduh
sebagai bagian dari skenario kristenisasi. Atau bahkan lebih parah lagi,
menuduh gagasan pluralisme menyimpan agende tersembunyi. Ini bisa
dilihat dari postingan Ida tentang temannya yang diceramahi oleh
kelompok Islam. Kalau skenario ini memang terjadi persoalannya bukan
lagi masalah berita tetapi sudah ideologis.
Persoalan kedua adalah masalah isu itu sendiri. Kristenisasi tampaknya
memang dipakai sebagai wacana untuk mengkonsolidasikan gerakan Islam.
Tentu saja tidak semua kelompok Islam. Tetapi dari pengamatan saya,
beberapa kelompok seperti DDI dan FPI misalnya menggunakan wacana
Kristenisasi. Sesungguhnya ini mengingatkan kita kepada Suharto yang
mengangkat-angkat PKI dan Komunisme sebagai ancaman, sekalipun
kenyataannya sangat sulit untuk bangkit lagi (memang komunisme dan
'kristenisasi' adalah dua hal yang berbeda namun proses penggunaannya
sebagai wacana adalah serupa).
--- In [email protected], "aquino" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ketakutan soal kristenisasi terjadi karena:
>
> 1. Kurang mengenal akrab siapa itu orang kristen
> 2. memang ada praktek2 kristenisasi
>
>
>
> Kurang mengenal akrab tentang kristen; ada banyak jenis kristen, yang
satu
> sama lain bisa dianggap sebagai agama yang berbeda. Katolik misalnya,
tidak
> mengenal pembaptisan instan. Untuk menjadi katolik, orang harus
belajar dulu
> selama 1 tahun. Kalau dia terlalu banyak bolos, harus mengulang
setahun
> lagi. Teman saya yang secara baik2 pindah agama mau masuk katolik
harus
> mengulang pelajaran agama katoliknya selama 3 kali alias 3 tahun
sebelum
> akhirnya dibaptis. Itu karena dia sering bolos pelajaran. Kecuali yang
mau
> dibaptis sedang sakit keras dan hampir meninggal, umumnya gereja
katolik
> tidak mengenal baptis saat itu juga. Kristen lainnya setahu saya bisa
> langsung dibaptis, walaupun beberapa juga mengidealkan adanya
pelajaran
> agama sebelum masuk kristen.
>
>
>
> Banyaknya jenis kristen ini mengakibatkan umat butuh gereja yang
> bermacam-macam. Umat katolik dg kristen pantekosta misalnya, masing2
butuh
> gereja sendiri (seperti kata Ida Khouw) dan tidak bisa beribadat dalam
satu
> gereja. Oleh karena itulah banyak gereja yang dibangun walaupun
jemaatnya
> sedikit.
>
>
>
> Praktek kristenisasi sampai sekarang memang ada, namun saya tidak tahu
> seberapa intensnya dan dilakukan oleh golongan yang mana - karena
setiap
> agama punya golongan yang sering dikatakan sebagai golongan radikal.
Namun
> yang jelas ketakutan terhadap kristenisasi dibesar-besarkan untuk
> kepentingan politis dan penggalangan dukungan umat. Siapa yang tampil
> membela umat ke depan tentu yang akan dapat nama. Maka bahaya yang
(sering)
> diciptakan adalah antara lain kristenisasi. Sehingga gereja yang
berdiri
> baik-baik dicurigai sebagai misi kristenisasi. Bukti-bukti thd tuduhan
> kristenisasi kurang diteliti dg baik. Berita Hidayatullah yang di
forward
> kader PKS di milis ini misalnya tidak mencoba mencari pihak kristennya
dan
> mengklarifikasi berita yang dimaksud. Begitu banyak berita-berita
kabur
> semacam ini. Contohnya lagi penemuan 3 buah buku bergambar kristen
dalam
> ratusan buku sumbangan korban gempa di Yogya dianggap sebagai
kristenisasi,
> padahal dari segi proporsi saja sudah tidak representatif kalau itu
dibilang
> kristenisasi.
>
>
>
> Dari kaum kristen sendiri tidak cerdas menangani isu ini, mereka diam
saja
> sehingga seolah-olah membenarkan bahwa kristenisasi ada. Jika kelompok
Islam
> punya Forum Anti Pemurtadan, mungkin ada baiknya kelompok kristen
bikin
> Forum Klarifikasi Pemurtadan, yang bekerja sama erat dg Forum Anti
> Pemurtadan.Jika ada pemurtadan dg tipu muslihat seperti dikabarkan
> Hidayatullah, maka harus segera ditindak dan diambil langkah hukum.
>
>
>
> Dari sisi teologis, kasus-kasus semacam ini menunjukkan bahwa memang
> pengakuan terhadap pluralitas adalah situasi yang tidak bisa
ditawar-tawar
> lagi. Karena kristenisasi maupun Islamisasi (sebetulnya kita banyak
menutup
> mata terhadap islamisasi - padahal jauh lebih gencar daripada
kristenisasi.
> Di mall-mall atau di banyak tempat buku-buku yang sifatnya
"menggoyahkan"
> iman kristen banyak dijumpai, dan diterbitkan sebagian oleh penerbit2
> berafiliasi Islam) bersumber dari anggapan teologis bahwa mereka yang
ada di
> luar agamaku adalah kafir, sehingga perlu diselamatkan. Dengan
mengakui
> bahwa keselamatan ada di dalam agama lain, maka sebetulnya kita bisa
> mencegah kristenisasi atau islamisasi yang sangat mengganggu kehidupan
> berbangsa.
>
>
>
> Dalam postingan Ida ada hal yang menarik; yaitu ide jangan-jangan isu
> kristenisasi disebarkan dalam rangka pecah-belah. Artinya bisa jadi
ada
> pihak2 yang berperan sebagai kristen dan pura2 mau mengkristenkan umat
lain
> dg cara2 yang vulgar dan menimbulkan amarah. Mengingat konflik2
sektarian di
> tanah air sering terjadi, bukan tidak mungkin hal ini yang terjadi.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> _____
>
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf
> Of Rahadian Permadi
> Sent: 07 Januari 2007 17:14
> To: [email protected]
> Subject: [mediacare] Re: Geger "Kristenisasi" di Depok
>
>
>
> Sudah berkali-kali berita semacam ini diposting. Dari beberapa yang
saya
> baca memang berasal dari satu sumber Hidayatullah. Ada baiknya jika
pihak
> gereja sendiri diberikan ruang untuk bicara. Namun tampaknya sumber
berasal
> dari satu pihak saja. Barangkali memang ada kelompok Kristen yang
radikal
> tetapi saya belum melihat mereka melakukan Kristenisasi.
>
> Pada paragraf terakhir, Ade menulis bahwa "berita-berita buruk semacam
ini
> justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di masa depan." Masih
belum
> jelas apa maksud berita buruk yang anda maksud? Apakah maksudnya
> kristenisasi itu adalah berita buruk atau penulisan beritanya yang
buruk?
>
> Saya juga ingin tahu bagaimana pendapat Wido si pengirim berita
tentang
> persoalan ini?
>
>
>
>
> --- In [email protected], adenina@ wrote:
> >
> > Rekan-rekan.
> > Saya risau sekali dengan komunikasi yang terjalin soal isu
kristenisasi
> ini.
> > Saya berasumsi bahwa para peserta milis ini tergolong kaum
berpendidikan
> > yang diharapkan justru bisa mengarahkan masyarakat luas untuk hidup
dengan
> > penuh kedamaian.
> > Tapi kentara sekali bahwa banyak peserta diskusi yang mengedepankan
emosi
> > seraya mengabaikan substansi masalah.
> > Saya rasa, berita dari hidayatullah itu justru perlu diangkat secara
luas,
> > selama kita bersedia membicarakannya secara dingin.
> > Maksud saya begini:
> >
> > Pertama-tama, kalau berita itu benar, saya rasa itu persoalan
serius. Dan
> > kita ditantang untuk menjawab sebuah pertanyaan besar: apakah layak
> > penyebaran agama dilakukan dengan cara menipu dan mengiming-imingi
> > anak-anak? Apakah penyebaran agama layak dapat dilakukan dengan
prinsip
> > 'tujuan menghalalkan cara'. Saya akan menjawab tidak. Lebih dari itu
saya
> > menyarankan agar kita bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap
> > bentuk-bentuk penyebaran agama dengan cara tidak etis semacam itu.
> >
> > Kedua, kalau berita itu benar, apakah model penyebaran agama semacam
itu
> > mewakili arus utama dalam organisasiu-organisasi Kristen, atau
sekadar
> > mewakili kalangan ekstrem tertentu. Sepanjang yang saya ketahui, ini
> > adalah gaya kalangan radikal Kristen tertentu dan bukan ciri
mainstream
> > Kristen. Karena itu, sebagaimana layaknya kita harus membedakan
antara
> > arus utama umat islam dengan kelompok radikal Islam, kita juga tidak
> > mudah2 menuduh apa yang terjadi sebagai kesalahan umat Kristen
secara
> > umum. Dalam hal ini, saya menyarankan juga teman-teman beragama
Kristen
> > bisa menjelaskan secara proporsional kepada umat non-Kristen tentang
kaum
> > Kristen eksklusif tersebut.
> >
> > Ketiga, bagaimana kalau berita itu ternyata tidak benar? Karena itu,
> > alih-alih langsung bereaksi keras, yang bisa dipertanyakan adalah
> > kesahihan berita Hidayatullah tersebut. Apakah ini ditulis dengan
gaya
> > 'jurnalisme katanya' seperti yang secara sangat memalukan terjadi
dalam
> > kasus pemberitaan 'adam air' , atau memang dengan mengikuti
> > prinsip-prinsip jurnalistik yang benar. Kalau tidak salah sih,
berita ini
> > tidak ditulis dengan peliputan berimbang (cover both sides).
Akibatnya
> > akurasi dan kebojektifannya pun mungkin bisa diragukan.
> >
> > Saya rasa dengan bersikap lebih hati-hati semacam ini, berita-berita
buruk
> > semacam ini justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di masa
depan.
> > Kalau setiap berita buruk dihadapi dengan cercaan, saya kuatir kita
justru
> > tidak cukup siap menghadapi kondisi-kondisi yang mensyaratkan
respons
> > bersama.
> >
> > Salam
> >
> > ade%
> >
>
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com