Kalau dikatakan orang-orang yang tertelan isu-isu dangkal semacam ini berpikiran sempit dan tak punya modal spiritualitas yang memadai serta lebih banyak muatan theologi-politik barangkali memang benar KARENA : 1. Agama bukanlah sekedar nama yang mengembel-embeli identitas seseorang atau semacam sekedar pulasan warna manusia. 2. Agama bukan sekedar untuk adu banyak kawan atau pengikut untuk menang-menangan secara otot. 3. Agama bukan sekedar tuntutan untuk memperbanyak pengikut dengan cara2 yang instant dan memang tidak bisa dibiakkan dengan cara instant seperti menabur pewarna makanan. 4. Agama bukan plakat yang bisa asal ditempel meskipun orang yang ditempeli tidak sepenuh hati mau ditempeli. 5. Untuk beragama perlu response positif dari setiap individu terhadap suatu agama itu. 6. Beragama bukan kegiatan sesaat, tetapi sebuah aktivitas berkelanjutan/berkembang/bertambah dalam/bertambah intens bersama-sama dengan pengalaman hidup. 7. Beragama adalah percaya bahwa Tuhan Maha Tahu apa yang ada dalam diri maupun latar belakang setiap kegiatan/tindakan manusia. 8. Beragama adalah percaya bahwa Tuhan Maha Melindungi umatNya.
Oleh sebab itu apabila : 1. Tidak ada respons positif dari individu ybs. 2. Tidak ada tindak lanjut untuk mengikuti ajaran. 3. Tentu saja yang paling penting TIDAK ADA INTIMIDASI. kenapa mesti sewot.. anggap aja diajak piknik terus dikasih makan, lebih enak lagi kalau dikasih baju barang 5 stel gitu.. habis itu terserah anda kan ?? hukumnya jelas tidak boleh ada intimidasi dan pemaksaan, mau kembali ke Pengajian dan Masjid adalah hak mutlak setiap pribadi anak2 itu. Soal nyanyi2, berdoa dll. memangnya Allah kalau mau menilai seseorang cuma melihat sekelebat begitu saja ? Tentu secara keseluruhan hidup bukan ? Kenapa meremehkan Allah seolah-olah dengan anak2 itu diajak ke gereja terus dinilai murtad begitu saja ? Bagi saya justru mereka tambah pengalaman, tahu bedanya, untuk kemudian kita kasih tahu cara2 begitu itu kurang baik makanya jangan diikuti. Gitu aja kok repot... Dengan menghembuskan isu2 seperti itu berarti memancing di air keruh, atau memperkeruhkan air setengah keruh untuk mencari keuntungan tertentu. On 1/9/07, manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kerjasama antar-kelompok agama yang diangankan Aquino hanya mungkin jika ditegakkan di atas asumsi bahwa kedua pihak memang dengan tulus dan serius hendak mencari solusi. Masalahnya adalah isu Kristenisasi ini memang sengaja dihembuskan dan dikipasi untuk kepentingan politik. Buat pihak-pihak yang memiliki agenda seperti ini, pikiran jernih, nalar, ketulusan, kejujuran, nurani dsb tidak punya efek apa-apa. Mereka cukup pintar untuk mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, tetapi tak cukup jujur untuk mengakui bahwa ada agenda politik lain yang hendak dicapai lewat isu Kristenisasi. Secara teknis, kerjasama seperti yang digagas Aquino juga akan menemukan masalah di lapangan karena ada banyak kelompok Islam dan banyak kelompok Kristen. Kelompok Islam yang mau diajak kerjasama pastilah kelompok Islam yang tidak peduli dan tak gentar dengan isu Kristenisasi. Kelompok Kristen yang mau diajak kerjasama pastilah kelompok yang tidak punya agenda Kristenisasi. Sebaliknya, kelompok-kelompok radikal yang membungkus agenda-agenda politiknya atas nama agama dan Tuhan tak akan mau berpartisipasi dalam kerjasama itu. Sudah ada banyak gerakan dan paguyuban yang hendak menjembatani kedua agama, seperti Interfidei dll, tetapi memang persoalanya tidak terletak pada mereka yang berpikir sehat dan mau bergabung dalam gerakan itu. Troublemaker-nya adalah para orang gila yang tak mau bergabung di situ dan tetap asyik melakukan destruksi di mana-mana lewat perusakan dan penyebaraan fitnah. Mereka ini lebih nyaman bergerak di luar segala bentuk kerjasama, yang hanya akan berfungsi melumpuhkan mereka. manneke -----Original Message----- > Date: Tue Jan 09 00:37:59 PST 2007 > From: "wreddya hayunta" <[EMAIL PROTECTED] <aquino%40digi.net.id>> > Subject: [mediacare] Re: Geger "Kristenisasi" di Depok > To: [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com> > > Ida, ide saya soal forum tersebut pada intinya dimaksudkan untuk > menggeser persoalan kristenisasi dari wilayah emosional ke wilayah > rasional, yaitu kerjasama antar dua elemen agama dalam menangani suatu > masalah bersama. > > Saya pribadi berpendapat jika betul ada kristenisasi dg tipu muslihat, > maka itu adalah masalah serius. Tipu menipu tentu tidak sesuai dg > ajaran agama manapun. > > Selain itu forum kerjasama macam itu bisa menggeser isu dari ruang > gelap penuh konspirasi ke ruang terang yang bisa dimonitor oleh kedua > belah pihak. > > Namun resiko jualan kita slah dibeli atau kita salah membeli jualan > orang tetap saja bisa terjadi. Namun paling tidak dalam kerjasama > seperti itu tercipta ruang dialog antara dua komunitas agama. > > Cara ketiga soal media watch tetap perlu jalan, hanya saja sebaiknya > dilakukan oleh "pihak luar" yang ingin berdiri tanpa memakai identitas > agama. > > Soal merespon seperti yang dilakukan oleh FMS, tidak ada banyak > rohaniwan kristen yang mau capek2 menulis seperti dia. Entah karena > minder,menghindari konflik atau bagaimana. > > Banyak orang menganggap remeh soal kristenisasi sebagai isu pinggiran. > Padahal kalau dilihat secara holistik, isu ini berdampingan erat dg > isu anti demokrasi, anti hak asasi manusia, anti barat, anti komunis > dan anti-anti lainnya. > > Ini karena inti dari semua isu tersebut adalah suasana yang dihidupkan > sehingga seolah-olah suatu komunitas sedang terancam oleh pihak luar. > Komunitas ini adalah komunitas tidak berdosa dan murni sedangkan pihak > luar itu digambarkan sebagai penuh konspirasi, ada agenda terselubung > dan lain-lain. (Lihat saja dimedia-media tertentu headlinenya sering > berbunyi "agenda di balik A", "agenda di balik paham B" dan lain-lain. > Seolah-olah semuanya menyimpan agenda terselubung. > > Setiap konflik komunal di Indonesia sedikit banyak dimulai dari > positioning seperti ini (positioning kita-mereka; kita baik - mereka > jahat). Inilah kenapa isu kristenisasi menjadi amat penting untuk > diseriusi. > > > > --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "idakhouw" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Saya mengerti poin Aquino menyangkut counter terhadap forum anti > > pemurtadan, namun Rahadian juga benar: dengan 'membeli' jualan > politik > > golongan garis keras berarti akan membenturkan Kristen dengan Islam > > garis keras. Sementara tentang bermitra yang diajukan Aquino, ini > agak > > sulit karena saya kira sangat jelas tema kristenisasi ini adalah > > jualan politik, spirit utamanya bukan melindungi umat Islam. > > > > Jadi saya setuju ide Rahadian yang mengambil 'jalur ketiga': media > > watch atau semacamnya, dengan memperhatikan beberapa catatan > > problem2nya; atau seperti sudah dilakukan tokoh2 Kristen: merespon, > > tapi tidak 'membeli' jualan politik golongan garis keras (lihat > > artikel FMS di bawah). > > > > Banyak hal perlu disoroti selain soal media massa yang sudah dibahas > > Aquino dengan sangat mengena. > > > > Aquino juga mengingatkan saya soal poin baptisan. Betul, biasanya > > baptis instan hanya ada di gereja2/gerakan2 'baru' (aliran Protestan > > atau bahkan sudah bukan Protestan lagi) yang organisasinya sangat > > cair, biasanya tidak punya liturgi dan pegangan ajaran baku (secara > > ekstrim bisa dibandingkan dengan Katolik yang punya rumusan baku > > pegangan ajaran hasil konsili). > > Seperti di Katolik, di Gereja2 Protestan mainstream (mainstream > > Protestan ini pun sebuah identitas yg tidak tunggal!) juga > disyaratkan > > melewati masa belajar agama (catechism) dulu sebelum masuk ritual > > baptisan. > > > > Dan seperti dengan tepat digambarkan Romo Magnis di bawah, gerakan2 > > baru itu tidak ada dalam lingkup Persekutuan Gereja-gereja di > > Indonesia (PGI), yang disepakati sebagai perwakilan Kristen Protestan > > di Indonesia. > > > > Tidak seperti Katolik Roma, Protestan bukanlah suatu identitas > > homogen, MASING2 Gereja Protestan punya kewenangan merumuskan ajaran, > > organisasi dll.nya sendiri. Jadi PGI (perhatikan kata > > "Persekutuan"/Communion dalam PGI) juga tidak punya kewenangan > > mengatur 'rumah-tangga' anggotanya (apalagi terhadap gerakan2 baru yg > > bukan anggota), selain sebagai sebuah communion. > > Dalam organisasi Islam juga saya rasa serupa: NU atau Muhammadiyah > > tidak bisa dimintai tanggungjawab atas apa yang dilakukan HTI, MMI, > > misalnya. > > > > Saya prihatin juga kalau tiap kali ada isu kristenisasi, PGI (apalagi > > KWI) yang kena getah harus memberi keterangan. > > Jadi bagaimana? saya pernah usul ke teman yg dekat dengan pimpinan > > PGI: perlu diadakan semacam workshop/seminar/pembekalan buat pekerja > > media massa menyangkut aliran2 dalam Protestan, dan dimana posisi > > gerakan2 baru ini. Setidaknya orang media paham duduk perkaranya bila > > muncul lagi isu kristenisasi. > > Namun saya mengerti, mungkin terlalu banyak agenda lebih penting lain > > di negeri yang dilanda persoalan tak habis2nya ini. > > > > (Sudah terbit buku dengan judul: "Berbagai Aliran Di Dalam dan Di > > Sekitar Gereja" karya Dr. Jan Aritonang, terbitan BPK Gunung Mulia > th...) > > > > Hal lainnya adalah jantung temanya itu sendiri: soal dakwah, > > Kristenisasi, Islamisasi. > > > > Rahadian bertanya apakah Kristenisasi ini ada atau tidak. Saya > pribadi > > sulit mengemukakan pendapat kalau yang dimaksud adalah sebuah > tindakan > > tidak etis (mengajak/'memaksa' masuk Kristen dengan iming2 materi) > > saya tidak pernah ketemu langsung, jadi informasi yang saya dapat > > sebatas laporan "Jurnalistik Katanya" dan selalu bias serta > tendensius. > > > > Makanya harus jelas juga definisi kristenisasi; sejauh yang pernah > > saya temukan (kelompok sempalan Protestan) adalah kelompok yang ingin > > melakukan penginjilan yg saya rumuskan sebagai dakwah dalam arti > > sempit, yaitu memperkenalkan YESUS KRISTEN pada orang lain. Apakah > ini > > termasuk kristenisasi? saya tidak tahu apa batasan2 gerakan masuk > > kategori kristenisasi/islamisasi atau masih dalam koridor dakwah > > (tentang dakwah, Ade Armando sudah menjelaskannya dengan mengena). > > > > Saya sendiri lebih setuju praktek yang saya namakan dakwah dalam arti > > luas: memanusiakan manusia, mempraktekkan inti ajaran Yesus: Kasih. > > Kasih yang melampaui dan bukan hanya milik AGAMA KRISTEN saja, bebas > > dari sekat2 (di email lalu saya menggambarkan kira2 spt yang > dilakukan > > Bunda Teresa dan Romo Mangun itulah yang saya maksud) > > > > Di bawah ini sebuah artikel Romo Magnis di tahun 2005 di Kompas yg > > difwd di milis lain (di bagian akhir disinggung khusus soal > > kristenisasi yang ditanyakan Rahadian) > > > > Salam, > > Ida Khouw
