--- Begin Message ---
Dear miliser,
Saya tidak mencoba menilai siapa yang salah dalam kasus diangkatnya berita
"bodoh" "penemuan" bangkai pesawat Adam Air di globaltv 4 januari tersebut.
Yang saya rangkum dari beberapa cerita rekan2 globaltv, "kebodohan" itu memang
ternyata lebih diakibatkan kebijakan redaksi globaltv & miskoordinasi
antarpimpinan redaksi.
Dimulai saat news globaltv menerima laporan dari koresponden manado effendi
labenjang tentang pernyataan pejabat lokal mengenai "....ditemukan pesawat adam
air di sulawesi utara". Mendapat hal ini, produser eksekutif Yadi Hendriana
langsung meminta para produser yang bertugas segera membuat breaking news.
Beberapa produser mencoba menghubungi effendi yang dijawab belum jelas
ditemukan di mana dan dia merasa belum siap memberitakan, karena informasi itu
didapatkanya dari stringernya. Sehingga kemudian beberapa pihak yang dianggap
lebih tahu soal itu dihubungi, seperti Tim SAR, yang dijawab memang bangkai itu
belum ditemukan hingga saat itu. Karena kepastian masih di awang-awang sejumlah
produser angkat tangan dan tidak berani menayangkan.
Namun yadi tetap pada keputusannya bahwa berita itu harus ditayangkan karena
belum ada media lain yang tahu dan jika belum ada kepastian, isu itu yang akan
diangkat. Maka para produser yang harus tunduk pada perintah atasan akhirnya
dengan terpaksa menayangkan kesalahan yang sebenarnya telah diketahui itu pada
Kilas Global, sekitar pukul 13.30.
Berita itu ditayangkan dengan mengandalkan wawancara per telepon dengan
effendi, yang tentu saja mengakibatkan saat ditanya gelagapan, yang intinya
"...ditemukan pesawatdi sulawesi utara". Belakangan baru diketahui bahwa
stringer effendi salah mendengar informasi, karena ternyata ada "1 kata" dari
pejabat lokal yang mengabarkan penemuan itu yang terlewat olehnya, yaitu kata
"JIKA". Sehingga kira-kira informasi itu berbunyi..."Jika pesawat itu ditemukan
di sulawesi utara".
Di sisi lain, ternyata tayangan berita ini memberi "berkah" bagi globaltv
karena ditonton oleh banyak orang (mungkin tayangan ini ratingnya nanti di atas
rata2 program di globaltv..he..he..). Hal ini terbukti dengan banyaknya telepon
yang masuk ke redaksi menanyakan secara persis lokasi penemuan bangkai pesawat
itu. Tentu saja resepsionis menjadi bingung, sementara awak redaksi tidak ada
yang berani menjawab karena telah menyadari kesalahan informasi itu.
Yadi yang memerintahkan penayangan berita itu malah tidak berani menjawab dan
menolak diwawancara saat Radio Elshinta mencoba mengkonfirmasi info itu. Bahkan
hingga beberapa hari sesudahnya ia tidak pernah mengaktifkan HP. Sikap bungkam
yadi ini juga diikuti dua pimpinan news lain, Pemred Siane Indriani & wapemred
Mebi Prabowo. Mereka langsung menghilang pada 5 januari & baru datang sore
hari. Hari itu mereka hanya memberi instruksi melalui telepon.
Karena tidak ada koordinasi ataupun instruksi lebih lanjut untuk meralat
ataupun minta maaf, pada tayangan saksi mata 4 januari produser yang bertugas
berinisiatif meralat. Anehnya, pada keesokan harinya siane datang ke redaksi
sore hari dan mengajak rapat awaknya. Di rapat itu, siane justru mengatakan
globaltv tidak akan meralat atau minta maaf karena akan "MENJATUHKAN
KREDIBILITAS".
Dari kronologi ini sebenarnya semua dapat menilai bagaimana bentuk
penerjemahan globaltv terhadap etika jurnalistik. Anda yang menilai, apakah
berita itu bohong, kesalahan informasi, kebodohan, atau cari sensasi. Lalu,
apakah koresponden itu patut juga untuk disalahkan?
Reno Raines <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sanksi sebenarnya akan lebih tepat dialamatkan kepada pemred selaku
penanggung jawab divisi news. Di media manapun, pemred adalah pihak
yang harus siap pasang badan jika ada penyimpangan. Jika dia tidak
mau tanggung jawab tentu sanksi harus diterapkan pada wapemred atau
di bawahnya. Hal itu akan lebih bijak dilakukan kalau memang
management globaltv tidak pilih kasih dalam menerapkan peraturan
perusahaan.
Namun yang lebih tepat lagi kalau yang membuat kebijakan untuk
memutuskan menayangkan berita itu diberikan sanksi. Minimal kalau
dia masih memiliki rasa malu lebih baik mengundurkan diri. Itu jauh
lebih baik dibandingkan globaltv hanya menyalahkan koresponden,
sementara penentu kebijakannya malah memecat orang yang hidupnya
bergantung dari kiriman berita ke pusat.
--- In [EMAIL PROTECTED], brigade negra <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> susah memang kalo menilai suatu berita dari sisi rating dan tidak
mengindahkan etika jurnalistik maupun upaya untuk triple cross check
suatu informasi,... seharusnya reporter/kontibutor Global TV di
makassar diberi sangsi karena bisa dianggap melakukan kebohongan
publik,.. tidakkah kontributor ini berpikir bahwa yang sedang
ditulisnya adalah duka keluarga korban dan nyawa ratusan orang?
kenapa dalam hal-hal seperti ini sang kontributor yang hebat ini
tidak mau belajar dari kasus berita bohong sebelumnya yang
mengatakan bahwa pesawat Adam Air telah ditemukan di PolMan? kenapa
tidak berupaya berhati-hati dalam pemberitaan suatu peristiwa yang
menyangkut nyawa orang banyak?
> menurut saya seharusnya manajemen Global TV memberikan sangsi
kepada sang kontributor hebat ini, ...
>
>
>
>
> [EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Setelah sebelumnya pemerintah salah memberi informasi
soal penemuan pesawat Adam Air, media malah menambah ruwet masalah.
Globaltv merekayasa berita penemuan pesawat itu, yang katanya ada di
sulawesi utara lewat breaking news kamis, 4 Januari 2007, sekitar
jam 12.00 WIB.
>
> Ironis rasanya kalau berita yang belum pasti sudah ditayangkan
melalui breaking news. Apalagi sampai sekarang globaltv belum
meralat juga berita itu.
>
> Saya sampai merasa bersalah saat meng-SMS rekan saya yang
kerabatnya menjadi korban untuk melihat berita itu. Karena keluarga
teman saya itu sempat berharap menemukan sedikit titik terang dan
mencoba menghubungi globaltv.
>
> Nyatanya saat ditelepon globaltv tidak menjawab secara jelas
dimana pesawat ditemukan. Saat teman saya menelepon ke lanud makasar
akhirnya dijawa bahwa berita di global tv itu bohong. Semua baru
jelas saat saya membaca 2 berita tentang marahnya keluarga korban
terhadap berita globaltv di makasar di detikcom & elshinta.com.
>
> Saya sampai bertanya-tanya, apakah direktur pemberitaan global tv
tidak tahu etika junalistik atau jangan-jangan tidak punya standar
jurnalistik ? Di mana tanggung jawabnya kepada publik?
>
> Bagaimana tanggapan rekan2 globaltv yang ada di milis ini? Apa
sebenarnya yang terjadi di redaksi anda?
>
> Di bawah ini saya copy 2 berita dari detikcom & elshinta.com soal
kemarahan keluarga korban akibat berita ngawur globaltv:
> ----------------------------------------------------------
>
> Keluarga Korban AdamAir Protes Pemberitaan di TV
> Wisnu Yoga detikcom
>
> Makassar - Secercah harapan dirasakan keluarga korban AdamAir
ketika menyaksikan berita di salah satu TV swasta yang menyatakan
bangkai pesawat AdamAir ditemukan di Sulawesi Utara. Namun ketika
mengetahui berita itu belum pasti kebenarannya, mereka marah dan
mencari wartawan TV swasta tersebut yang dianggap berbohong.
>
> Aksi baku pukul hampir saja terjadi di depan ruang VVIP Lanud
Hasanuddin, Makassar , Kamis (4/01/2007). Sekitar pukul 15.00 Wita,
sekitar 10 keluarga korban AdamAir datang untuk mengkonfirmasi
kebenaran berita ditemukannya bangkai pesawat di Kecamatan Nuangan,
Bolaangmongondouw, Sulut.
>
> Namun ketika dijelaskan oleh petugas posko AdamAir bahwa berita
itu tidak benar, beberapa keluarga menjadi marah. Mereka kemudian
mendatangi beberapa wartawan TV yang sedang meliput di ruang VVIP.
>
> "Kalau bikin berita yang benar," teriak Tombokan, salah seorang
keluarga korban asal Manado yang 2 anggota keluarganya menjadi
korban.
>
> Tak puas, Tombokan kemudian mencari wartawan TV swasta yang
dianggapnya telah menyebar kabar bohong. Untungnya niat Tombokan
dihalangi oleh wartawan TV yang lain. "Sudah pak, kita semua disini
capek cari berita," lerai seorang kameramen.
>
> Kejadian itu sempat memancing perhatian sejumlah petugas yang
berada di Lanud Hasanuddin. Dalam jumpa pers di Ruang VVIP, Search
Manager Center Lanud Hasanuddin Marsekal Pertama Eddy Suyanto
menjelaskan, hasil pencarian hari ini belum menemukan lokasi titik
jatuhnya pesawat AdamAir KI 574.
>
> Eddy membenarkan memang ada sinyal ELBa yang berasal dari wilayah
yang disebutkan, tapi saat ini masih dilakukan penelusuran. (bal/bal)
>
> Kontributor TV Swasta Nyaris Dikeroyok Keluarga Korban Adam Air
> 4/1/2007 18:18 WIB
>
> Muhammad Idris - Makassar, Salah seorang kontributor televisi
swasta di Makassar , Sulawesi Selatan nyaris dikeroyok keluarga
korban pesawat Adam Air karena pemberitaannya dinilai merugikan.
> Para keluarga korban menilai, pemberitaan yang dimunculkan melalui
running text di televisi maupun laporan langsung via telepon ke
studio siaran televisi tersebut mengada-ada sehingga sangat
merugikan.
> Insiden ini terjadi di depan ruang VIP Bandara Hasanudin, Kamis
(4/1) siang tadi. Ketika itu Keluarga Patombongan asal Manado
mendatangi pihak Adam Air dan mengonfirmasi kepada petugas bandara
mengenai kebenaran kabar ditemukannya pesawat naas tersebut di salah
satu wilayah Propinsi Sulawesi Utara.
> Setelah mendapat jawaban bahwa berita itu tidak benar, mereka pun
langsung keluar dan mencari sang kontributor televisi swasta itu.
Ketika bertemu, mereka nyaris terlibat adu fisik.
> Untungnya insiden ini berhasil dilerai oleh para wartawan lainnya
yang berada di sana . Akhirnya keluarga korban meninggalkan tempat
itu dan kembali ke hotel transit mereka. (doa)
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question
on Yahoo! Answers.
--- End Message ---