Kebetulan salah atu yang diwawancara itu adik saya. Menurut dia wartawannya aneh kok nanya-naya soal pribadi. Terus die ga di kasih tau bahwa bakalan ditulis soal blog dia kira yang ditulis mengenai pertanyaan-pertanyaan pribadi tersebut.
Memang tampakanya wartawannya wartawan baru. regrads On 1/8/07, radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya terus terang agak kurang nyaman membaca artikel yang ditulis wartawan KOMPAS rekan Yulvianus Harjono dengan judul "Diary yang Diakses di Seluruh Dunia.. " http://www.kompas.co.id/ver1/Iptek/0701/05/210026.htm Ada beberapa hal yang terus terang bikin saya, dan mungkin pembaca lain, kurang nyaman, yaitu: 1. Judul menggunakan istilah "Diary". Apa tidak lebih baik menggunakan istilah "Buku Harian" atau "Catatan Harian"? Bukankah KOMPAS sebagai koran harian terkemuka mustinya jadi panutan dalam berbahasa Indonesia? 2. Baca paragraf pertama hingga keempat sama sekali tidak ada penjelasan tentang Debbie yang diwawancarai itu ada di kota mana. Juga dimana Unikom, Dipati Ukur, dan Cileunyi? Anehnya, rekan Yulvianus justru amat memperhatikan detail seperti Debbie yang dikenal tomboy, tapi lupa pada unsur 4 W (Who, Why, Where, When) + 1 H saat menulis laporan. Mohon lain kali KOMPAS lebih teliti, karena "Where" adalah unsur yang amat mendasar dalam jurnalistik. Saya pribadi, karena kerap bertandang ke Bandung, tak perlu tebak-tebak buah manggis. Saya simpulkan, wawancara pasti dilakukan di kota Bandung, dan Debbie adalah gadis Malang (bukan malang nasibnya) yang kuliah di Bandung. Tapi bagaimana dengan pembaca KOMPAS yang tak pernah ke Bandung, dan tak tahu apa itu Unikom, Dipati Ukur dan Cileunyi? Apa musti bertanya pada rumput yang bergoyang? 3. Setelah dibaca secara keseluruhan, "Bandung" baru muncul pada paragraf kelima, yang terlekat pada nama sekolah: SMA Taruna Bakti Bandung. *"....Lain lagi dengan yang dilakukan Ventry (18), siswi SMA Taruna Bakti Bandung. Gadis bertubuh mungil ini memilih secure dengan tidak menghubungkan situs blog-nya degan mesin pencari teman semacam Friendster. Untuk itu, ia pun sengaja memilih open source Weblog. Penyedia blog yang tidak bersifat interkoneksi open portal..."* Komentar: - Penggunaan istilah "memilih secure". Kenapa tidak pakai istilah dalam Bahasa Indonesia saja? Misal diganti dengan "memilih aman" atau "memilih nyaman" saja? - Situs blog-nya degan? Mungkin maksudnya "dengan"? "Degan" (Bahasa Jawa) adalah sejenis kelapa muda. - Sungguh paragraf yang amat membingungkan dan susah dicerna. Amat tidak nyambung. Apa hubungan "secure" dengan blog, mesin pencari, friendster, open source, dan weblog? Sepertinya si narasumber asal ngomong dengan merangkai-rangkai istilah dalam internet tetapi ditangkap mentah-mentah oleh rekan Yulvianus tanpa diurai dan dicerna lebih dalam.
-- Seperti tanah, walaupun subur, ia takkan bisa produktif tanpa penyemaian. Demikian juga pikiran, tanpa budaya takkan pernah menghasilkan buah yang berkualitas. Seneca sawung.blogspot.com
