Topik agama selalu menjadi topik yang sensitif mengarah pada perpecahan, kebencian terhadap suatu kelompok tertentu bila tidak ditanggapi dengan akal sehat dan dewasa. Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang mayoritas bisa dikatakan masih rendah pun ikut berpengaruh terhadap bagaimana masyarakat mengolah informasi yang mereka baca, lihat ataupun dengar.
Menurut pengamatan saya berdasarkan berbagai informasi yang saya dengar, baca dan lihat, topik agama belakangan ini bukan lagi menjadi suatu topik yang seharusnya bisa menciptakan kerukunan namun berubah menjadi usaha 'penyeragaman' keyakinan. Kebebasan masyarakat untuk memeluk agama yg diyakininya serta menjalankan ibadah sesuai keyakinannya (pasal 29 UUD'45) telah banyak dilanggar dengan banyaknya tindakan2 baik verbal maupun nonverbal yang saling mendiskreditkan pemeluk agama tertentu. Apa salahnya menjadi berbeda? bukankah manusia memang kodrat manusia untuk berbeda antara satu dengan yang lainnya? Jenis kelamin saja diciptakan berbeda, apalagi agama? Apa tujuan seseorang memiliki agama? Kalau misalkan saja memeluk sesuatu agama bukannya menciptakan kerukunan namun kebencian, apakah lebih baik saya tidak punya agama saja? (nanti dicap Atheis, malah bikin masalah baru lagi). Siapa yang bisa menjamin 'surga'nya seorang manusia? sesama manusiakah? kalaupun iya, wah hebat ya! karena ada manusia yang 'berani' menentukan 'surga' manusia yang lain. Sulit ya hidup rukun di Indonesia. Kerukunan telah menjadi hal yang mahal di Indonesia. Sampai kapan ini akan berlangsung? -----eka----- ----- Original Message ---- From: sobratsobat <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, January 9, 2007 10:51:34 PM Subject: [mediacare] Omong-omong soal kristenisasi Aku forward email dari milis Sabili soal kristenisasi. Buatku jelas kalau isu ini telah dengan seenak udelnya diartikan sesuai dengan selera orang yang bersangkutan. Judulnya saja pakai tanda tanya, artinya yang nulis juga belon yakin tapi sudah melempar isu. Ini bukan lagi kesalehan dalam beragama tapi kebencian dan kecurigaan. -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] com [mailto:[EMAIL PROTECTED] com] On Behalf Of A Nizami Sent: 09 Januari 2007 18:17 To: media dakwah; sabili; padhang-mbulan; Saksi Subject: [Sabili] Kristenisasi Lewat Program Natal di TV? Assalamu'alaikum wr wb, Bulan Desember dan 1 Januari lalu ada 3 momen penting. Tanggal 25 Desember: Natal, 30 Desember: Idul Adha, dan 1 Januari: Tahun Baru Masehi. Ternyata sejak awal bulan Desember hingga tanggal 8 Januari kemarin gaung Natal masih muncul di TV-TV Swasta. Entah itu lewat lagu-lagu natal, film-film natal, ucapan2 natal, serta acara perayaan Natal. Idul Adha yang merupakan hari besar ummat Islam nyaris terendam oleh acara natal di TV. Seolah-olah mayoritas penduduk Indonesia ini bukan Muslim. Begitu gencarnya acara Natal di TV hingga sebulan lebih, sampai-sampai anak saya, Hana, yang berusia kurang dari 5 tahun berkata, "Ma aku mau masuk Kristen" Istri saya dan saya segera memberi tahu bahwa orang-orang Kristen itu musyrik. Mereka menyembah 3: Tuhan yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Sementara Islam menyembah hanya 1 Tuhan yang Maha Kuasa. Dengan kejadian itu, ada baiknya kita mewaspadai acara TV terutama jika memasuki bulan Desember. Sepertinya acara natal di TV yang jor-joran sebulan penuh (bahkan bisa lebih) sudah jauh dari kewajaran. Demikian pula hiasan-hiasan natal di mal-mal di mana penjaga toko yang mayoritas muslim disuruh mengenakan topi Santa Claus. Sangat menyedihkan. Ada baiknya surat ini kita renungi: Al Kafiruun: 1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
