Maaf saya terlambat nimbrung di sini. Masalah Naik Haji, sebenarnya bukanlah masalah baru, melainkan sudah ratusan bahkan ribuan tahun usianya dan berjalan terus menerus secara berulang-ulang. Ditinjau dari segi waktu dan pengalaman pihak penyelenggara yang bersifat International ini sudah seharusnya administrasi dan organisasinya punya buanyak sekali kesempatan untuk belajar memperbaiki effisiensi dalam menjalankan ibadah ini. Namun fakta menyatakan, setiap tahun korban meninggal mencapai ratusan, itu hanya yang dari Indonesia belum tercatat korban meninggal dari negara lain. Apakah ada unsur kesengajaan dalam hal ini, sebab pada umumnya umat Islam meyakini bahwa setiap umat yang meninggal disana akan langsung masuk sorga? kalau demikian dapatkah hal itu dikategorikan dengan bunuh diri secara tidak langsung demi cita-cita untuk menjadi penghuni surga? Atau hal itu terjadi semata-mata karena ketidak mampuan pihak bersangkutan dalam pembelajaran managment? Pihak penyelenggara yaitu pihak Arab Saudi yang mengantongi keuntungan BESAR melalui ritual agama ini dengan pelanggannya, dalam hal ini Indonesia misalnya tidak mampu menyediakan fasilitas yang nyaman?
Salahkah kalau saya membuat perbandingan, yang sebenarnya bertujuan untuk evaluasi di sini? Perbandingan yang saya maksud adalah berdasarkan pengamatan secara umum saja. Menurut pengamatan saya, setiap umat mempunyai kecenderungan untuk mengkultuskan satu tempat. Misalnya umat Islam, senang dan merasa bahagia kalau mereka bisa ke Mesjid pada waktunya, katakanlah hari pada saat sembahyang Jumat. Orang Kristen senang pergi ke Gereja pada hari minggu, orang Budha senang pergi ke Klenteng kalau mereka ingin berdoa/sembahyang. Demikianlah kalau diperluas, bahwa umumnya umat Islam punya keinginan untuk naik haji ke Mekah. Orang kristen punya kerinduan yang dalam untuk bisa jalan-jalan ke Israel, menyaksikan daerah-daerah bersejarah yang tercatat dalam Alkitab. Atau mungkin orang Khatolik pengen sekali bisa menyaksikan kota Vatikan dan Peter Place di Roma. Bedanya kenaikan haji adalah bahagian dari keimanan Islam semenatara, perjalanan ke Israel atau ke Roma, hanyalah bahagian dari keinginan pribadi lepas pribadi, tanpa mengurangi atau menambah nilai keimanan bahkan tidak mempengaruhi status sosial si orang tersebut. Maka otomatis perjalanan yang dilakukan orang kristen baik ke Roma maupun ke Israel adalah atas resiko dan tanggungjawab sendiri. Sudah dapat diprediksi bahwa perjalanan demikianpun akan jauh lebih mahal. Namun kalau dihitung-hitung dari segi jumlah pertahunnya, jumlah orang kristen dengan jumlah orang Islam dari Indonesia yang melakukan perjalanan seperti ini adalah berimbang. Bedanya, belum pernah ada berita bahwa orang Kristen yang sedang mengadakan perjalanan di Israel atau Vatikan meninggal, secara tragis, seperti yang diisuekan baru-baru terjadi di Mekah sana. Saya masih ingat, berapa puluh tahun yg lalu, ketika dalam paspor Indonesia masih tercatat: Berlaku untuk seluruh dunia kecuali Israel (Btw paspor Malasya masih demikian), namun ada puluhan orang bahkan ratusan orang Kristen yang berhasil menginjakkan kakinya di Israel dan kembali dengan selamat. Bagian imigrasi Israel bahkan mempermudah perjalanan itu dengan banyak cara, walaupun menurut sejarah bangsa Israel mencatat, orang Israel menilai bahwa mereka telah dibantai penganut "Kristen" berulangkali seperti terakhir dilakukan Hitler di seluruh Eropa. Pada tahun 2001, ketika saya mengajukan Visa dari konsulat Israel di Jerman, waktu itu saya berdomosili di Jerman, mereka sengaja memberi Visa dalam lembaran terpisah yang tdk ditempelkan pada paspor. Mungkin karena pihak diplomatik Israel, tidak menginginkan hal buruk akan terjadi bagi penduduk Indonesia yg tdk punya hubungan diplomatik secara formal dengan Israel. Saya mengagumi cara penghargaan mereka bagi pribadi-pribadi yang ingin menginjakkan kaki di negara mereka dan bahkan melindungi mereka sedemikian rupa. Katakanlah bahwa tindakan bijak itu atas dasar *mengeruk *keuntungan dari devisa turis, menurut saya syah-syah saja bukan, tapi mereka benar-benar bertanggungjawab atas keuntungan yang mereka terima? Sebagai warga negara Indonesia, saya memang diperiksa di Airport lebih teliti dari anggota rombongan lainnya, yang bukan orang Indonesia, itupun saya anggap wajar. Ketelitian mereka menghasilkan yang terbaik bagi para tamu mereka. Sampai sekarang, walaupun mereka adalah sasaran utama para terroris, namun pesawat mereka masuk kategori paling terjamin keamanannya. Setiap kali saya ke sana (bulan Februari 07 ini saya akan ke sana lagi), saya selalu bertemu dengan rombongan-rombongan turis Indonesia, di segala musim, tidak tergantung kapan. Sudah tentu saya juga bertemu dengan ribuan turis manca negara di sana. Nah kalau ditinjau dari segi keamanan, sebenarnya resiko kematian di Israel akan jauh lebih tinggi daripada di Arab Saudi bukan? Saya masih ingat, ketika kami pertama kali ke sana, mertua saya sangat cemas. "Kalian mau bunuh diri di sana? tanya mereka, sebab kami memang terbang hanya 5 hari setelah bom intivada yang pertama di Hotel di Tel Aviv, 1 Juni 2001. Namun pada kali yang kedua, mereka malah ikut, walaupun papa mertua saya adalah sekularism, alias tdk percaya. Dari segi udara atau iklim geografinya, kedua negara ini tidak berbeda sama sekali.Pada musim panas, luar biasa panasnya, diatas 40 drajat C, tapi diseluruh tempat seluruh fasilitas selalu memuaskan. Negara itu dihubungkan oleh jalan bagus dari Utara sampai Selatan dan dari Barat ke Timur. Tidak ada jalan berlubang. Saya coba menuturkan hal ini bukan untuk melecehkan pihak Islam yang selalu mengalami kecelakaan demi kecelakaan itu, melainkan sebagai bahan perbandingan positip dalam mengevaluasi kejadian demi persaingan yang positip. Mohon dimaafkan kalau ada yang salah. Salam Roslina budi satria wrote: > > Masalah haji adalah masalah nasional dan terjadi tiap tahun, dan > seharusnya kedepannya lebih baik dan bermanfaat secara ekonomis dan > nyaman. Tapi apa daya, walau sudah terjadi pergantian pimpinan > nasional (presiden dipilih langsung) pun masalah haji tidak kunjung > beres.Mengapa? > Masak iya presiden tidak melihat dan mendengar kisruh dan KKN-nya > urusan haji ini? > Apa saja yg ia lakukan? > masyarakat sudah hilang harapan, harus bagaimana lagi ketika terbukti > pemerintah tidak tanggap akan rakyatnya. > sudahlah,.... > > fight stupidity by government > fight corruption > ibud > > > cathlea <[EMAIL PROTECTED] <mailto:cathlea%40pelita-air.com>> wrote: > Memang rasanya ga mungkin pergi haji diurus sendiri karena jika > terjadi sesuatu maka siapa yang akan bertanggung jawab? biar murah > mungkin ada komponen2 dari biaya itu yang diurus sendiri seperti > misalnya suntik manginitis, koper, baju, dokter (check kesehatan), > untuk tiket pesawat, pemondokan, tenda mina, dan catering mungkin bisa > diurus oleh oleh travel/pihak swasta kecuali pasport hanya oleh > Departemen Agama yang bekerja sama dengan Departemen Kehakiman cq > Ditjend. Keimigrasian. Pertanyaan yang timbul adalah apakah kalo > dialihkan ke swasta akan lebih murah? karena ONH plus aja mahal lo...... > Kalo selama ini ongkos haji tiap tahun naik, kemungkinan sewa > pesawatnya, avtur dan catering juga naik tiap tahunannya, makanya > disesuaikan. Sayang saat perhitungan penetapan komponen biaya tidak > diikut sertakan luar yang independen.....makanya masyarakat berasumsi > macam-macam jadinya (lumrah juga kalo masyarakat berfikir seperti itu....) > >
