Kritik Bpk Frans Seda tepat sekali. Pak Try diharap akan lebih vokal.
  Kita ingat bahwa mengkritisi SBY, dengan melupakan peranan JK dan semua 
pembantu yang lain, dapat menguntungkan JK dan Golkar dalam persaingan ketat 
dengan SBY. Menjelang pertarungan 2009.
  JK kini secara taktis berpura netral dalam hal reshuffle kabinet karena 
sekarangpun JK dan PG sangat diuntungkan dalam situasi yang ada. Para pejuang 
demokrasi hendaknya mengekspos ulah SBY-JK sekaligus dan mencermati kontradiksi 
kepentingan mereka.
   
  AA
  

"B.DORPI P." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=164180
   
  Kamis, 11 Januari 2007

  Tanpa Ketegasan SBY Negara di Ambang Depresi 


  JAKARTA (Suara Karya): Indonesia akan menghadapi depresi ekonomi yang berat 
di tahun 2007 ini, bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak membuat 
kebijakan terobosan dan bersikap tegas dalam menangani berbagai persoalan di 
bidang ekonomi, terutama memerangi kemiskinan dan pengangguran.     
   "Kalau tidak ada terobosan kebijakan yang diiringi dengan sikap tegas, 
masyarakat bisa dilanda depresi ekonomi yang hebat dan sulit dipulihkan. Paling 
lambat sebelum Agustus 2007, harus ada mukjizat yang dibuat Presiden SBY untuk 
membenahi ekonomi kita," kata ekonom dan mantan Menteri Keuangan Frans Seda 
dalam dialog publik yang diselenggarakan Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya 
(GKIR), di kampus Universitas Atmajaya, Jakarta, Rabu, (10/1).   
  
   Dalam acara itu, hadir sejumlah tokoh GKIR, antara lain mantan Wakil 
Presiden Try Sutrisno, Moeslim Abdurrahman (cendekiawan Muslim), tokoh Malari 
Hariman Siregar, anggota Petisi 50 Chrys Siner Key Timu, dan mantan Hakim Agung 
Bismar Siregar.   
  
   Menurut Frans Seda, meski stabilitas monoter terwujud, suku bunga 
terkendali, kurs rupiah dan inflasi yang relatif stabil, semua variabel itu 
tetap saja tidak mampu mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi. Bahkan, gagal 
menstimulasi kegiatan ekonomi masyarakat.   
  
   "Yang dicapai adalah suatu situasi dan kondisi ekonomi yang deflasi. 
Stabilitas dengan tingkat produksi yang rendah dan tingkat pengangguran yang 
tinggi berarti telah menjurus ke arah depresi ekonomi, seperti yang terjadi 
pada tahun 1929/1930 (di Amerika Serikat). Inilah yang kita hadapi dalam 
memasuki tahun 2007," ujarnya.   
  
   Untuk itu, kata Frans, perlu ketegasan dari pemerintahan Presiden SBY untuk 
mengantisipasi persoalan ini. "Indonesia akan menghadapi depresi di tahun 2007 
kalau tidak ada tindakan tegas dari pemerintahan SBY. Sebelum Agustus, 
pemerintahan SBY harus menciptakan mukjizat," katanya.   
  
   Menurut Seda, suatu perekonomian dinilai maju bukan karena harga-harga yang 
rendah, namun karena perekonomian itu sendiri yang terus menerus bertumbuh. 
"Maka peluang yang dapat dipergunakan pemerintahan SBY dalam ekonomi tahun 2007 
adalah menjamin adanya pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar stabilitas moneter," 
ujarnya.   
  
   Sementara mantan Wakil Presiden Try Sutrisno mengingatkan, Indonesia sebagai 
negara besar dan memiliki kekayaan yang melimpah akan terus bergejolak jika 
tidak dikelola dengan baik. "Indonesia ini negara besar, baik wilayah dan 
kekayaannya. Kalau tidak bisa `me-manage dengan baik, semangat kebangsaannya 
juga tidak bagus, kita pasti akan terus mengalami gejolak seperti ini," 
katanya.   
  
   Try Soetrisno juga mengingatkan agar dalam mengelola dan menyelesaikan 
masalah negara, pemerintah tidak meminta bantuan apalagi mengundang pihak 
asing. "Jangan coba merengek atau mengundang kekuatan luar untuk campur tangan 
menyelesaikan persoalan bangsa ini," katanya, tegas.   
      
   (M Kardeni)
   
   
   



                
---------------------------------
 New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more 
at the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes.

Kirim email ke