masalah utama kita itu adalah kemandekan ekonomi, atau istilahnya stagnasi. coba lihat, anggaran APBN, APBD, semua macet. bahkan uang pensiun PT DI saja macet, tidak berani dicairkan.
Repotnya.... Ketika Presiden ingin mengurai blunder Republik kita, walah kok malah Wapres tidak setuju. Kepres sudah keluar, Unit Kerja untuk mengkoordinasi Menteri dalam pelaksanaan pembangunan, tapi Wapres tidak setuju, katanya tidak sesuai dengan deal pertama, koordinator menteri ekonomi adalah Wapres. tapi ekonomi mandeg.... banyak pabrik macet... banyak PHK... banyak pengangguran.... setiap hari pengangguran bertambah 5.000 orang... repot Republik kita, koordinator ekonomi, tidak nyambung dengan koordinator politik & hukum... Korupsi itu perlu dikoordinir.. Namanya Ankum, itu atasan yang menghukum, dia yang mengambil tanggung jawab, sekarang ini... Pimpro, Direktur, Kepala Dinas, anggota KPU, semua takut diperiksa KPK. Pimpro PNS, Pimpro BUMN, semuanya pada mandeg. kalau Rakyat bisa bicara, mungkin sudah bawa panci, bawa penggorengan, karena tidak ada yang mau dimasak untuk makan. salam damai, Goenardjoadi Goenawan --- In [email protected], Akhmad Asaad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kritik Bpk Frans Seda tepat sekali. Pak Try diharap akan lebih vokal. > Kita ingat bahwa mengkritisi SBY, dengan melupakan peranan JK dan semua pembantu yang lain, dapat menguntungkan JK dan Golkar dalam persaingan ketat dengan SBY. Menjelang pertarungan 2009. > JK kini secara taktis berpura netral dalam hal reshuffle kabinet karena sekarangpun JK dan PG sangat diuntungkan dalam situasi yang ada. Para pejuang demokrasi hendaknya mengekspos ulah SBY-JK sekaligus dan mencermati kontradiksi kepentingan mereka. > > AA > > > "B.DORPI P." <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=164180 > > Kamis, 11 Januari 2007 > > Tanpa Ketegasan SBY Negara di Ambang Depresi > > > JAKARTA (Suara Karya): Indonesia akan menghadapi depresi ekonomi yang berat di tahun 2007 ini, bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak membuat kebijakan terobosan dan bersikap tegas dalam menangani berbagai persoalan di bidang ekonomi, terutama memerangi kemiskinan dan pengangguran. > "Kalau tidak ada terobosan kebijakan yang diiringi dengan sikap tegas, masyarakat bisa dilanda depresi ekonomi yang hebat dan sulit dipulihkan. Paling lambat sebelum Agustus 2007, harus ada mukjizat yang dibuat Presiden SBY untuk membenahi ekonomi kita," kata ekonom dan mantan Menteri Keuangan Frans Seda dalam dialog publik yang diselenggarakan Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR), di kampus Universitas Atmajaya, Jakarta, Rabu, (10/1). > > Dalam acara itu, hadir sejumlah tokoh GKIR, antara lain mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Moeslim Abdurrahman (cendekiawan Muslim), tokoh Malari Hariman Siregar, anggota Petisi 50 Chrys Siner Key Timu, dan mantan Hakim Agung Bismar Siregar. > > Menurut Frans Seda, meski stabilitas monoter terwujud, suku bunga terkendali, kurs rupiah dan inflasi yang relatif stabil, semua variabel itu tetap saja tidak mampu mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi. Bahkan, gagal menstimulasi kegiatan ekonomi masyarakat. > > "Yang dicapai adalah suatu situasi dan kondisi ekonomi yang deflasi. Stabilitas dengan tingkat produksi yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi berarti telah menjurus ke arah depresi ekonomi, seperti yang terjadi pada tahun 1929/1930 (di Amerika Serikat). Inilah yang kita hadapi dalam memasuki tahun 2007," ujarnya. > > Untuk itu, kata Frans, perlu ketegasan dari pemerintahan Presiden SBY untuk mengantisipasi persoalan ini. "Indonesia akan menghadapi depresi di tahun 2007 kalau tidak ada tindakan tegas dari pemerintahan SBY. Sebelum Agustus, pemerintahan SBY harus menciptakan mukjizat," katanya. > > Menurut Seda, suatu perekonomian dinilai maju bukan karena harga-harga yang rendah, namun karena perekonomian itu sendiri yang terus menerus bertumbuh. "Maka peluang yang dapat dipergunakan pemerintahan SBY dalam ekonomi tahun 2007 adalah menjamin adanya pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar stabilitas moneter," ujarnya. > > Sementara mantan Wakil Presiden Try Sutrisno mengingatkan, Indonesia sebagai negara besar dan memiliki kekayaan yang melimpah akan terus bergejolak jika tidak dikelola dengan baik. "Indonesia ini negara besar, baik wilayah dan kekayaannya. Kalau tidak bisa `me- manage dengan baik, semangat kebangsaannya juga tidak bagus, kita pasti akan terus mengalami gejolak seperti ini," katanya. > > Try Soetrisno juga mengingatkan agar dalam mengelola dan menyelesaikan masalah negara, pemerintah tidak meminta bantuan apalagi mengundang pihak asing. "Jangan coba merengek atau mengundang kekuatan luar untuk campur tangan menyelesaikan persoalan bangsa ini," katanya, tegas. > > (M Kardeni) > > > > > > > > --------------------------------- > New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more at the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes. >
