PLESIRAN TEMPO DOELOE: Batavia in Nineteenth Century Kumpulnya di Parkir Timur Senayan deketnya Hotel Sultan (doeloe bernama Hotel Hilton, sekarang soedah berobah) Minggu 14 Januari 2007 jam 07.30 pagi Rp. 100 ribu per orang, sudah termasuk: (roti buaya) (makan siang)
(minuman dingin) (naik Bus Big Bird) (diceritakan oleh) (Scott Merrillees) (Alwi Shahab) (Max de Bruijn) (Liliek Suratminto) -------------------------------------------------------------------------------- "Lho..lho..lho... kok judul plesiran ini kayak judul buku ??? itu khan buku yang memuat foto-foto Jakarta Jadul ???" "...Ja, tentoe sadja! oentoek djalan-djalan kali ini kitaorang akan koelilingin Djakarta sambil dengerin para achli kota Djakarta berseloroh perihal kota kita tertjinta ini sedari awal hingga perkembangannja, marika adalah Scott Merrillees si toekang toelis jang poenja boekoe bertadjoek: "Batavia in Nineteenth Century Photographs", Alwi Shahab toekang tjeritera riwajat Djakarta, Max de Bruijn sang achli loekisan hasil goresan Johannes Rach jang soeka gambar keadahan kota Djakarta di abad 18 dan brikoetnja Liliek Suratminto, achli batjain itoe batoe nisan jang ada di koeboeran belanda di seantero Djakarta". waah.. seru banget plesirannya, rugi bandar nih kalo gak ikutan, yuk, yak, yuk, mari ikutan aja.. PLESIRAN TEMPO DOELOE: Batavia in Nineteenth Century Minggoe 14 Januari 2007, dari oedjoeng oetara hingga ke tengah-tengah kota, diceritain sepoeasnja riwajat kota ini Nih, nih, nih dengerin... startnya dari Pelabuhan Sunda Kelapa, sambil mandangin Menara Syahbandar yang fotonya ada di bukunya Pak Scott, trus kita ke Kampong Arab Pekodjan, lantas ke daerah Benedenstad (kota bawah) yang sekitaran Jakarta Kota, terus masuk ke dalemnya Museum Sejarah Jakarta, kemudian kucuk-kucuk-kucuk *suara kaki berjalan* :) ngeliet terowongan yang di depan Stasiun Jakarta Kota yang sekarang mau dibikin tunnel, yang menghubungkan antara Museum Bank Mandiri dan Stasiun Beos (nama bekend buat Stasiun Jakarta Kota), trus.. trus.. trus... kita belok kiri ke gereja di luar tembok Batavia (walaaah dimana lagi tuh?), abis itu kite lietin makam dari seorang gubernur jenderal VOC yang merintah untuk membunuh Pieter Eberveld seorang mestizo (sekarang disebut indo) peranakan Jerman-Siam yang katanya mau bikin makar di malam tahun baru 1722. oh iya tentang riwayatnya si Pieter, bisa kita liet prasastinya di Museum Sejarah Jakarta tadi (atau lebih bekend disebut Museum Fatahillah). lalu kitaorang ke arah Glodok melintasi Kampong Tjina, tempat orang-orang Tjina di djaman doeloe dipusatkan disini (kita gak masuk ke dalem kawasan ini, hanya melintasi saja karena kita langsung bergerak ke Molenvliet). Setelah itu mengamati kawasan Molenvliet yang berada di sekitar Jl. Hayam Wuruk (doeloe bernama Jl. Molenvliet Oost) Jl. Gajah Mada (doeloe Jl. Molenvliet West). Pernah denger Hotel Des Indes? Hhhmmm sekarang udah gak ada, tapi tau gaaak hotel di Jakarta, yang sudah ada ada sejak jaman Belanda, yang sampe sekarang masih beroperasi hotelnya? (nah lho..dimana tuh, penasaran khan) Belok kiri pas di Harmoni (yap! nama kawasan ini diambil dari nama gedung societeit di djaman doeloe yang terletak di sekitar istana kepresidenan, di buku Pak Scott ada fotonya di bagian cover, dan di pelem jadul juga ada gambarnya!) okeh belok kiri melintasi kawasan Noordwijk (sekarang Jl. Juanda) dan Rijswijk (sekarang Jl. Veteran), lalu teruuuusss aja sampe Passer Baroe, ngiderin kawasan ini bentar, cari tahu toko-toko legendaris di jaman voordeoorlog (sebelum perang), wah ada tuh kita pelemnya pas tahun 1941, ada gambar noni-noni belanda naik mobil kap terbuka disopirin sama orang bermuka Jawa (keren bok gaya noni-nya, sekarang kalo masih idup, usianya udah 80 tahunan kali yah :) Sekelarnja poesing-poesing Passer Baroe, kitaorang koelilingin Lapangan Banteng (doeloe bernama Waterlooplein), mendengar para achli riwajat kota Djakarta bertjeritera tentang saboeah gedong jang doeloenja maoe digoenaken sebagi istananja Gouverneur-Generaal Herman Willem Daendels, tetapi kamodian tida djadi kerna Daendels soedah keboeroe dipanggil poelang kampong dan berperang di Europa. oh iya disini djoega ada Patung J.P.Coen, jang di tahon koetika tentera Jepang masoep ke Batavia, itoe patoeng ditoeroenin, katanja sih patoeng itoe didjadiken persediaan oentoek amoenisi. yap, sekali lagi, kitaorang poenjain itoe pelem tatkala si patoeng ditoeroenken.. Abis itu kita ke sekeliling Monas, yang pada jaman sebelom merdeka, bernama Koningsplein (Koning = King, Plein = Field, jadi berarti Lapangan Raja yakh?) disini juga banyak bangunan dari djaman doeloe yang masih berdiri kokoh. Terakhir, kitaorang aken berkoendjoeng ke Museum Prasasti (atau doeloe lebih bekend disebut Kebon Jahe Kober). Jangan lupa yah pada bawa kamera, handycam atau apa aja, karena sekarang berfoto di museum-museum di DKI Jakarta, buat para pengunjung KAGAK DIPUNGUT BAYARAN SEPESERPUN (cihhuuuuuuuuyyy...) *jingkrak-jingkrak* Yap, seperti kitaorang bilang tadi, rugi bandar kalo gak ikutan plesiran ini karena ini boleh dibilang Plesiran All Star, dimana bertabur-tabur bintang-bintang yang sangat faham mengenai sejarah Jakarta, dan cara mereka ceritain tuh enak banget, suwer dah loe-loe pade aken terbuai dan berdecak kagum akan pengetahuan mereka akan kota Jakarta kita yang tercinta ini, makanya ngedaftar yuk, udah banyak lho yang ikutan, awas bangkunya abis *keluh* Oh iya plesiran ini diperkirakan kelar jam 2an atau lebih karena tergantung seberapa semangat mereka bercerita :) Bila kapengen ikoetin ini programma, kirim email sadja ke [EMAIL PROTECTED] dan onkost plesiran di-reken pantes tjoema Rp.100.000 per persoon, itoe soeda termasuk naik Bus AC Big Bird. Djikaloe soeda mendaftar, lantas dibersilahken di- transfer ke BCA 237 142 56 93 cabang Pondok Indah, atas nama ADE HARDIKA PURNAMA dan toeloeng ja djoega dikonfirmasiken via sms ke no: 0818 94 96 82, dan via email atau fax ke 769 62 73 (maap, doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tapi bisa dioper kepada orang laen or teman) nah, kaloe-kaloe maoe gaboeng dengen mailling- listnja, klik aja alamat ini: [EMAIL PROTECTED] Toeloeng perhatiannya, dikarenakan sudah mefet dengan hari pelaksanaannya, maka toean-njonja diharepken dengen sanget amet oentoek kasi kirim doeit selekasnja, kerna Bus Big Birdnya mesti di-bajar tjepet agar kitaorang nanti bisa ni'mati plesiran di hari minggoe, djadi kaloe-kaloe, soeda mendaftar, sigra transfer itoe doeit ke rekening kitaorang ja! Doeit sebesar Rp.100.000 dapet ditransfer sasoedahnja mendaftar (dan soeda dapet confirmatienja), tjara bajarnja sebagi brikoet: misalnja: Btari Karlinda (wwuuiiiiiiiiih bintang pelem 80an banget, pakabar mbak?) ada di nomer urut 6, maka mbak Btari transfernja Rp.100.006 (kalau di mesin ATM ketiknya Rp.100006 <<< angka 6 di belakang mengacu ke nomer urut) djadi bajarnja boekan Rp.100.000 sadja, tetapi juga ditambah Rp.6 sebagi no.urut, tida apa-apa yah.. Moehoen ma'af kaloe soerat-listrik (email) ini bikin toean dan njonja sekonjong-konjong terkoedjoet sehingga hampir bikin djantoeng tjopot, kerna baroe taoe perkara programma ini baroe hari ini, kerna kitaorang memang baroe sadja dapet chabar Pak Scott berkoendjoeng ke Djakarta baroe bebrapa hari blakangan ini, djadinja oentoek menjamboet Pak Scott di Djakarta, maka kitaorang bikinin diaorang programma speciaal, en ini djoega atas permintaan segenap anggauta milis Batmus (Sahabat Museum) oentoek bisa plesiran barengan sama penoelis boekoe jang jahoed itoe :) Memoedjiken dengen hormat, Ade Purnama (Adep) SAHABAT MUSEUM [EMAIL PROTECTED] 0818 94 96 82
