lama kelamaan saya ikut baca tulisan ini menarik juga ya...
tanpa bicara ada yang pasti dalam hidup ini,kecuali ketidak pastian itulah yang
pasti...maka saya melihat,das kopintal mau memecahkan batasan batasan yang ada
selama ini dianut manusia...baik kategori ilmiah ataupun "religi"??
benarkah???kalau kpikental hanya berani mengobark abrik 'metode" ilmiah dan
"keterbatasan" manusia yang secara ilmiah membatasi pikirannya maka selayaknya
harus berani pula bicara bahwa "tidak boleh" ada batasan atas religi??benarkah
begitu??artine,religi ya budaya juga bukan??
benar nggak ya??
"Well... I am SeksPeare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
DAS KOPIkenTAL: Kuliah Buayaan 101
Das Kopikental, kali ini akan menguraikan penempatan terminologi ´Budayawan´
yg nampaknya jungkir balik, karena Sang Pengkhotbah, ngeloyor bangun pagi belum
gosok gigi dan juga nggak minum kopi yg cukup.
Sebelumnya, saya ajak untuk mengamati kalimat yang sangat luar biasa dalam
hal jumpalitan, (sambil membaca silakan membayangkan seorang gadis manis dgn
rok mini, dgn kaki berbulu lebat, di pinggir lapangan berteriak bertiak sambil
jungkrak jingkrak) sebagai berikut:
Quote 01:
Tapi, sebagai seorang "budayawan," saya mesti bersabar dan bermurah hati pada
orang-orang yang masih picik budaya seperti Kopiupilan ini. Dari pada
"kucing-kucingan" terus, lebih baik saya kasih kuliah dikit ya tentang budaya.
Nama kuliahnya "Kebudayaan 101." Oke. Semoga setelah ini Anda tak lagi
menggunakan istilah-stilah seperti "budaya," "budayawan," "akademisi" secara
jungkir-balik.
Quote 02:
Ia boleh bicara agama, boleh bicara tentang 'petrus' (penembak misterius),
tentang santet, tentang tuyul, tentang UFO, tentang apapun juga yang terkait
dengan manusia, tetapi kerangka dan pijakannya adalah ILMIAH, bukan ilahiah,
bukan supranatural, bukan militeristik, atau apapun yang lain di luar kategori
ilmiah. Ia bisa saja seorang akademisi, tetapi tak harus selalu demikian.
Goenawan Mohamad bukan akademisi, tetapi jelas budayawan (lihat Catatan
Pinggir-nya).
Quote 03:
Mau bicara sistem religi dan nilai-nilai, atau produk seni, atau berbagai
institusi dan aktivitas manusia, semuanya diwadahi oleh istilah generik
"budaya." Dalam hal ini, siapapun bisa mengaku sebagai "budayawan", mulai dari
AA Gym sampai Das Kopiupilan.
Kopitalisme:
Dalam Quote 03 diatas, terlihat kedogolan Pengkhotbah Kebudayaan kita ini,
Kok saya ada di samping Aa Gym? Apakah dalam tulisan tulisan saya menyandarkan
pemahaman berdasarkan ke-Ilahian?...
Kopitalisme:
Kita akan melihat siapa yang JUNGKIR BALIK...
Plato, Socrates, Galileo Galilei, atau siapapun para pemikir yang melakukan
kajian fikiran dan tindakan berdasarkan fikirannya tsb yg TIDAK bersandarkan
pada ke-Ilahian, disebut: Philosopher. Diantaranya bisa saja ada yg merangkap
sbg scientist. Juga ada disebut sbg Intelektual, berdasarkan perannya dalam
bidang kemasyarakatan.
B. Aa Gym, yg melakukan kajian fikiran dan tindakannya berdasarkan landasan
ke-Ilahian, disebut: Agamawan, Kiai, Uztad. Namun dalam tindakan dan peran
masyarakatannya de facto- mampu mempengaruhi tata nilai, budaya berfikir,
bertindak, serta merasa (based on religion) bagi masyarakat luas. Dalam konteks
ini, perannya dapat mempunyai dimensi kebudayaan. Maka beliau bisa disebut
sebagai: Budayawan. (tidak ada penggunaan tanda kutip)
Emha Ainun Nadjib, Iwan Fals, dll. Adalah: Seniman. Namun dalam
aktifitasnya, mereka juga mempunyai dimensi kebudayaan dalam peran
kemasyarakatan. Maka, beliau juga bisa disebut sbg: Budayawan. (juga, tidak ada
penggunaan tanda kutip)
Ketiga point A, B, C, jika dalam tindakannya memiliki peran
sosial-kemasyarakatan yg bisa teraplikasikan ketengah-tengah masyarakatnya atau
sebagai solution maker yg menawarkan pandangan dan pemikiran alternatif atas
masalah dalam kurun waktu, era dan zamannya -tanpa harus dibawah ketiak sebuah
institusi- Maka mereka disebut: INTELEKTUAL!.
Lalu, dimanakah/siapakah ´Budayawan˙? (perhatikan tanda kutip)
Budayawan PAKAI tanda kutip adalah guru, dosen yg berstatus staff pengajar ilmu
budaya. Yg berkhotbah tentang budaya dalam ruang ruang pengap dinding kampus
dan bersembunyi di bawah ketiak institusi. Karena tidak dikenal adanya dikotomi
budaya tanda kutip dan budaya dgn tanda kutip, maka dalam Kopitalisme, mereka
diistilahkan sbg: Budayawan Akademistik.
Lalu, siapa yg jungkir balik dalam penggunaan terminologi? Dalam kamus Kitab
al-Wikipedia saja TIDAK diketemukan adanya dikotomi antara Budayawan Tanda
Kutip.
Selanjutnya ada kalimat, sbb:
Quote 04:
Inilah manusia sok pintar tapi tak punya kejujuran ataupun integritas.
Budayawan/sosisolog palsu yang senantiasa asyik berkasak-kusuk dan tidak
membawa manfaat apa-apa bagi orang lain di sekitarnya. Jika banyak manusia
Indonesia yang seperti ini, tak heranlah jika kondisi Indonesia saat ini penuh
dengan karut-marut pada stadium gawat.
Kopitalisme:
Sejak kapan Kopitalisme mengaku sebagai Budayawan/Sosiolog? Kopitalisme bukan
siapa siapa. Dari sejak jamannya tikus pake dasi, Kopitalisme mengaku hanya
sebagai seorang traveller yg senang minum kopi dan metertawai kepintaran orang
pintar, diantaranya adalah seorang Buayawan... Eh... Salah ketik, maaf,
deh... Hahaha...
Demikian Kuliah Kebuayaan 101, kita kali ini.
May FUN be with you.
Kopitalisme
http://kopitalisme.tk
http://kopitalisme.blogspot.com
Note: Hasil kajian dari Waroeng Kopi Institute. Biar dianggap ilmiah -bukan-
ilahiah, maka pake istilah kajian institute, segala macem. Hahahaha...)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people
who know.