Terima kasih mbak Ros, orang kebanyakan memandang agama sebatas baju atau warna orang.. bukan dari bagaimana sikap dan perilaku pribadi orang itu. Oleh sebab itu saya juga tidak suka sembarangan simpati dengan orang yang asal seagama, karena alasan itu, bahkan sering kali risih kalau melihat orang yang hanya gembar-gembor soal agama sementara itu perilakunya tidak pernah diperhatikan kepantasannya di depan orang lain. Sekalipun orang lain itu kafir (anggapan kasarnya) tentu tidak lalu boleh bersikap seenaknya mentang2 menganggap dirinya sudah beragama yang benar, justru mestinya mawas diri jangan sampai sikap dan perilakunya lebih jelek dari orang yang dianggapnya tidak beragama atau beragama yang tidak benar, mawas diri jangan sampai memalukan agama yang dianutnya. Sekalipun agama yang dianut yang paling benar tetapi kalau cara penerapan agamanya tidak benar saya yakin keberagamaannya tidak diterima (berlaku untuk agama apapun). Allah tentu tidak menilai/mengadili hanya sepintas tetapi dari seluruh kehidupan seseorang.
Saya lebih simpati dengan orang sembarangan (tanpa melihat identitas/agamanya) tetapi perilakunya baik, perkara dia nantinya masuk surga atau tidak itu urusan pribadi dia dengan Tuhan. Saya menempatkan Agama adalah spirit/semangat/ruh ajaran yang mendasari untuk berperilaku yang baik dan menyembah Tuhan dengan benar (habluminanas dan habluminallah), sebagai dua dimensi yang tak terpisahkan dan saling berkaitan. Tidak hanya mentang2 menganggap diri benar dalam hal hubungan ke atas lalu mengabaikan hubungan horisontal (gampang marah, gampang tersinggung, membesar-besarkan persoalan, menghalalkan kekerasan bahkan mengahalalkan darah sesama agama yang dianggap sesat - kasus yang menimpa bung Ulil dkk.). Di Jawa Tengah, Jogja, Solo, yang saya tahu banyak sanak keluarga (kumpulan Trah - satu turunan) yang di dalamnya terdiri berbagai macam agama tidak pernah ada masalah. Bahkan sekalipun seorang anggota famili yang pindah agamapun tidak pernah ada yang ribut, karena apa ? Benar-benar saling menghargai dan menempatkan hak pribadi orang lain sebagai hak pribadi yang tidak bisa dibuat oleh orang lain. Kalaupun ada proses awal yang melalui orang lain itupun juga merupakan hasil interaksi antara orang lain dan orang yang mau pindah agama. Dan apabila setelah pindah agama ternyata merasa ada yang tidak pas lalu pindah lagipun adalah mutlak hak pribadi orang tersebut. Jadi soal pindah paksa buat saya tidak perlu diributkan, karena hal yang dipaksakan tidak akan pernah langgeng. Benar salah tidak hanya ditentukan dalam rentang waktu sehari dua hari atau seminggu, tetapi selama hidup. Jadi kalau mau beragama, peganglah prinsip yang benar dan lakukan yang baik dan benar untuk Tuhan dan sesama, nasehati baik2 (selagi masih bisa) kalau ada saudara seagama yang ingin/akan pindah agama.. tetap hargai dia meskipun keputusan akhirnya berpindah agama. Kita saling doakan dan saling berlomba untuk berbuat kebaikan demi Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Wassalam. On 1/11/07, Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya setuju dengan anda. Anak-anak memang adalah ibarat tanah subur untuk menampung benih-benih rohani. Maka tidak salah, umumnya Gereja-gereja, menyelenggarakan Ibadah khusus bagi anak-anak, yang dinamai Sekolah Minggu. Di sanalah mereka dididik tentang ajaran-ajaran Alkitab. Kepada mereka diperkenalkan siapa Yesus dan orang-orang beriman lainnya dalam bentuk cerita, drama, atau gambar-gambar. Cara pendekatannya disesuaikan dengan usia mereka. Saya yakin sekali seyakin, yakinnya di Sekolah Minggu manapun tidak pernah ada kesempatan para pendidik untuk membahas apalagi untuk menjatuhkan atau menjelekkan agama lain. Biasanya prosedur SM itu mirip dengan ritual di Gereja buat orang dewasa (bernyanyi, berdoa menerima pengajaran). Bulan Agustus yl. saya berkunjung ke Indonesia dan menginap di rumah teman. Keluarga ini beragama Kristen, punya pembantu beragama Islam. Suami/istri, kedua teman saya bekerja (suami pegawai, istri pramugari). Si pembantu mereka ini sangat rajin sembahyang baik subuh maupun magrib. Mereka masih punya anak perempuan berusia 2 1/2 thn.yang otomatis lebih banyak menghabiskan waktu dengan pembantu di rumah sehari-harinya. Setiap sore saat Azan break acara TV si anak menyaksikan baik di TV demikian pembantunya akan naik ke lantai atas untuk sembahyang. Saya jadi tertawa, ketika menyaksikan anak yang bijak ini satu kali. Sore itu dia duduk di depan TV dengan si Mbaknya bersama-sama menonton TV. Tiba-tiba saya mendengar suaranya yang lucu berkata: Mbak gih cembahyang dah maglib, Ika juga ambil ail udu yah! katanya sambil menirukan tayangan di TV itu. Ketika si Mbaknya naik ke kamarnya di atas sambil tersenyum simpul, si Ika kecil masih mengingatkan mbaknya di tangga, mbak janan takut ya, di atas juga ada Yesus ya! teriaknya bagaikan penasehat yang meyakinkan diri sendiri, bahwa mbaknya pasti kembali kepadanya habis sembahyang. Ketika saya menceritakan cerita yang buat saya lucu dan menarik itu pada orangtuanya, mereka hanya tertawa. Si anak ini sudah terbiasa melihat orangtuanya tidak akan meninggalkan tempat tidur sebelum mereka berdoa bersama termasuk dengan si anak. Demikian juga sebelum si anak tidur selalu diajak berdoa bersama. Kehidupan rohani mereka semakin menyuburkan hati anak ini untuk menerima hal-hal yang rohani, tapi karena dia masih 21/2 tahun dia belum bisa membedakan ajaran Islam dari ajaran Kristiani, namun orangtuanya tidak pernah berkata, mengambil air wudu itu adalah ajaran yang menyesatkan dan bukan ajaran Yesus. Anak ini juga pintar dan suka nyanyi, maka sepanjang hari saya akan mendengarkan senandungnya, menyanyikan lagu-lagu yang dia dapat dari SM. seperti Yesus cintaku, Dia cinta kau, kau cinta Dia sambil memperagakannya pada si mbaknya. Kalau mbaknya pergi belanja, dia akan wanti-wanti mbaknya: Mbak ati-ati ya, ada Tuan Yesus, jangan takut ya! Perayaan Natal yang dirayakan di TV selama 'sebulan' telah membuat mereka kebakaran jenggot. Bagaimana dengan acara Azan pagi dan sore yg ditayangkan semua TV setiap hari sepanjang tahun di seluruh Indonesia? Benteng apakah yang dapat dipakai keluarga kristen selama ini? Maaf karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, dapat diterima bahwa mayoritas pembantupun adalah Islam. Jarang sekali umat kristen yang mampu membayar pembantu, mempekerjakan orang kristen, melainkan orang Islam, karena selain tidak pilih kasih, mencari pembantu kristen itu susah. Maka kenyataan, sebaliknya anak-anak orang beragama Islam jarang sekali bersentuhan dengan pengaruh kristiani. Mana ada keluarga Islam yang menerima pembantu dari latar belakang kristen? Pantaskah saudara-saudara yang beraga Islam mengalami ketakutan demikian? Syalom Roslina Al-Mahmud Abbas wrote: > > > Begitulah kalau wawasan dan spiritualitas hanya sebatas jengkal, tidak > ada penghayatan mendalam arti dan makna agama. Jadi ketika anaknya > bilang pengin masuk kristen gara2 nonton TV sudah kebakaran jenggot > bagaikan mau digarong dan dikeroyok seribu syaiton, lantaran tak tahu > apa dan bagaimana ilmu agama dan tidak tahu bagaimana memberi tahu > tentang agama-agama kepada anak-anaknya. Tetangga saya orang kristen > tidak pernah heboh ketika anaknya pinten adzan dan menirukan sholat > gara2 setiap hari melihatnya di TV, bahkan dengan santainya menjadi > bahan obrolan tanpa sedikitpun kelihatan khawatir anaknya masuk Islam. > Saya kira tidak perlu dibesar-besarkan selama kita masih sepakat > sebagai negara Pancasila yang mengakui agama-agama lain sebagai agama > yang baik dan mengajarkan kebaikan. Proteksi memang perlu dilakukan > tetapi akan lebih baik tidak perlu dengan menyulut kebencian yang > mengotori nurani. > > Wassalam. > > > On 1/9/07, *sobratsobat* <[EMAIL PROTECTED]<sobratsobat%40yahoo.com> > <mailto:[EMAIL PROTECTED] <sobratsobat%40yahoo.com>>> wrote: > > Aku forward email dari milis Sabili soal kristenisasi. Buatku jelas > kalau isu ini telah dengan seenak udelnya diartikan sesuai dengan > selera orang yang bersangkutan. Judulnya saja pakai tanda tanya, > artinya yang nulis juga belon yakin tapi sudah melempar isu. Ini bukan > lagi kesalehan dalam beragama tapi kebencian dan kecurigaan. > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] <sabili%40yahoogroups.com> <mailto:sabili%<sabili%25> 40yahoogroups.com> > [mailto: [EMAIL PROTECTED] <sabili%40yahoogroups.com> <mailto: sabili% <sabili%25>40yahoogroups.com>] > On Behalf > Of A Nizami > Sent: 09 Januari 2007 18:17 > To: media dakwah; sabili; padhang-mbulan; Saksi > Subject: [Sabili] Kristenisasi Lewat Program Natal di TV? > > Assalamu'alaikum wr wb, > Bulan Desember dan 1 Januari lalu ada 3 momen penting. > Tanggal 25 Desember: Natal, 30 Desember: Idul Adha, dan 1 Januari: > Tahun Baru Masehi. > > Ternyata sejak awal bulan Desember hingga tanggal 8 Januari kemarin > gaung Natal masih muncul di TV-TV Swasta. Entah itu lewat lagu-lagu > natal, film-film natal, ucapan2 natal, serta acara perayaan Natal. > > Idul Adha yang merupakan hari besar ummat Islam nyaris terendam oleh > acara natal di TV. Seolah-olah mayoritas penduduk Indonesia ini bukan > Muslim. > > Begitu gencarnya acara Natal di TV hingga sebulan lebih, sampai-sampai > anak saya, Hana, yang berusia kurang dari 5 tahun berkata, "Ma aku mau > masuk Kristen" Istri saya dan saya segera memberi tahu bahwa > orang-orang Kristen itu musyrik. Mereka menyembah 3: > Tuhan yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. > Sementara Islam menyembah hanya 1 Tuhan yang Maha Kuasa. > > Dengan kejadian itu, ada baiknya kita mewaspadai acara TV terutama > jika memasuki bulan Desember. Sepertinya acara natal di TV yang > jor-joran sebulan penuh (bahkan bisa lebih) sudah jauh dari kewajaran. > > Demikian pula hiasan-hiasan natal di mal-mal di mana penjaga toko yang > mayoritas muslim disuruh mengenakan topi Santa Claus. Sangat > menyedihkan. > > Ada baiknya surat ini kita renungi: > > Al Kafiruun: > > 1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, > 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. > 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah 4. Dan aku tidak > pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah 5. dan kamu tidak pernah > (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. > 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." > > === > > >
