Sekedar urung rembuk, boleh kan?

Thread ini kok jadi ajang emosi? Saya kira pertanyaan dalam thread 
ini sederhana. Yaktu ADA atau TIDAK ADA. 
Saya kok sedih ya, bapak bapak kan itu udah punya umur berapa yah? 
Semestinya jangan terbawa arus emosi dong?

Setelah saya jalan jalan kesitus (blog?) Kopitalisme, wow!!! Banyak 
sekali uraian uraian imajinatif yang (maaf kata) melampaui realitas 
kita. Jujur saya akui pak!

Ide tentang menjadikan kopi dan warung kopi sebagai wadah 
kontemplasi, saya kira adalah sebuah gagasan besar, dibalik pesan 
pesan simbolik berbagai tulisan didalam kopitalisme. 

Ada ungkapan: One of the most universal morning ritual is to drink 
coffe. 

Dan Laws, theories, ideologies are always never enough, simply 
because people is not a static creatures. They are growing, changing 
and moving. But most of us are connected with coffee!

Kedua itu adalah ungkapan yg simple tapi mendalam. Jika penulis buku 
´Filsafat Kopi´ merekam perjalanannya lewat buku. (Saya pernah baca 
di Suara Merdeka, artikel tentang Filsafat Kopi. Saya ingat tanggal 
28 Mei 2006.)  

Maka, kopitalisme merekam filsafat ke-kopi-annya dalam wadah 
aktifitas kehidupannya (maaf jika saya salah). Bukannya untuk 
membandingkan. Tetapi setahu saya menempatkan ´kopi´ sebagai sentral 
ide, saya rasa kopitalisme telah melakukannya bertahun tahun lalu. 
(kebetulan saya juga dari Sulsel) Saya tahu, karena saya salah satu 
pendukung gagasannya di tahun 2001 (dan ribuan lagi orang seperti 
saya)yang memang dia rintis dari warkop ke warkop. Jadi bukan hanya 
diatas kertas/buku, saja. 

Bahkan di milis milis ide nyentriknya telah melalang buana sejak 
awal 2005.

Salam merenunglah. Kurangi terbawa emosi (itu tanda kemenangan 
psikologis bagi kopitalisme)Tunjukkan juga tulisan yg menandingi 
tarian huruf dari kopitalisme. 

Markus


--- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Rahadian,
> 
> This weirdo clearly hasn't got any balls. Entah dia harus 
dikasihani atau dikutuki...
> 
> Saya sih tak merasa perlu pamer apa yang telah saya lakukan di 
luar institusi saya tanpa terima bayaran, atau berapa sering saya 
harus tekor dari kocek sendiri bahkan untuk melakukan sesuatu yang 
resmi di institusi saya. I'm no megalomaniac, man. Jadi, kita ketawa-
ketiwi aja baca igauan filsuf patah arang ini.
> 
> Anda benar, intelektual tulen mestinya makin berkiprah, semakin 
rendah hatilah dia dan semakin jaga mulut. Bukannya malah koar-koar 
mendewakan diri sendiri dan sibuk mencari cacat orang lain. 
> 
> manneke
> 
> 
> -----Original Message-----
> 
> > Date: Wed Jan 10 13:39:28 PST 2007
> > From: "Rahadian Permadi" <[EMAIL PROTECTED]>
> > Subject: [mediacare] Re: Just Checking: Apakah Indonesia 
Memiliki Philosopher?
> > To: [email protected]
> >
> > 
> > Manneke,
> > 
> > Mungkin ada baiknya diabaikan saja si pengidap skizowaria...eh 
maksud
> > saya skizomania. Tampaknya dia juga tidak mendapatkan tanggapan 
di
> > beberapa milis.
> > 
> > Kalau diskusinya sampai panas, misalnya membenturkan antara 
akademisi
> > dengan yang lainnya, maka akan diarahkan pada pertanyaan: apakah 
yang
> > sudah anda lakukan tanpa melibatkan institusi akademis anda? Saya
> > menangkap kesan arogan di sini. Seolah-olah banyak akademisi 
atau mereka
> > yang diserang hanya duduk dan diam di menara gading. Seingat 
saya Romo
> > Mangun, seorang intelektual sekaligus rohaniwan, tidak banyak 
pamer
> > ketika bekerja untuk kali Code dan Kedung Ombo. Begitu juga 
almarhum
> > Herbert Feith, ia tidak berkoar-koar menantang akademisi lain 
ketika
> > bekerja di Timor dan tempat lainnya. Sartre dan Bertrand Russell 
juga
> > tidak menyindir para dosen di negara lain ketika mocking 
tribunal untuk
> > perang Vietnam diprakarsai oleh mereka.
> > 
> > Sekarang malah lari ke topik budaya yang jelas-jelas katanya 
sendiri
> > sangat elusive. Filsuf indonesia? Wah mungkin cuma dia kali. 
Mungkin
> > perlu ditanya sama dia apakah indonebia itu bisa disebut filsuf?
> > Gagasannya orisinil dan cemerlang : )
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote:
> > >
> > > Miliser hypersex ini bikin ulah lagi. Masih dengan gayanya 
yang tak
> > bermutu itu. Memindahkan sebuah diskusi dari satu milis ke milis 
lain
> > (dengan memakai nama samaran yang berbeda-beda), lalu memotong-
motong
> > isi posting seseorang tanpa etika sama sekali, serta 
memanipulasinya
> > sedemikian rupa dengan tujuan disinformasi dan penyesatan orang 
banyak.
> > Ketika direspons, dia menghilang dengaan sikap yang sangat 
pengecut,
> > lalu loncat ke milis lain dan menebar racun di sana.
> > >
> > > Inilah manusia sok pintar tapi tak punya kejujuran ataupun 
integritas.
> > Budayawan/sosisolog palsu yang senantiasa asyik berkasak-kusuk 
dan tidak
> > membawa manfaat apa-apa bagi orang lain di sekitarnya. Jika 
banyak
> > manusia Indonesia yang seperti ini, tak heranlah jika kondisi 
Indonesia
> > saat ini penuh dengan karut-marut pada stadium gawat.
> > >
> > > Untuk kesekian kalinya saya usulkan kepada Anda, jika berani 
berdikusi
> > serius tentang krisis budaya di Indonesia, dan jika ingin 
memindahkan
> > diskusi dari satu milis ke milis lain, cobalah menyertakan thread
> > lengkap dari awal, bukan cuma sepotong-sepotong yang disampaikan 
dengan
> > cara abusive untuk kepentingan diri sendiri. Jika tak berani 
melakukan
> > diskusi yang jujur dan terhormat, ya saya anggap saja Anda ini 
pengecut
> > ingusan yang tak tahu malu.
> > >
> > > Mari kita lihat, adakah miliser mediacare yang akan menyambut
> > postingan Anda ini dengan serius. Setelah itu, kita akan lihat 
juga cara
> > dan gaya Anda dalam menanggapinya. barang busuk tetaplah busuk,
> > sekalipun dibungkus dengan kata-kata muluk sekeren apapun.
> > >
> > > May CULTURE be with you.
> > >
> > > manneke
> > > PS: By the way, untuk pertanyaan Anda: "Apakah Indonesia 
memiliki
> > philosopher?" Jawabannya, "Ya. Dan cuma ada satu. Sayangnya, dia
> > philosopher gadungan yang megaloman dan skizofrenik. Namanya? 
kadang
> > (Hyper)Sekspeare kadang Das Kopiupilan." Cilakalah bangsa ini...
> > >
> > >
> > > -----Original Message-----
> > >
> > > > Date: Tue Jan 09 06:52:06 PST 2007
> > > > From: "Well... I am SeksPeare" well_seks_peare@
> > > > Subject: [mediacare] Just Checking: Apakah Indonesia Memiliki
> > Philosopher?
> > > > To: [email protected]
> > > >
> > > > Pertanyaan ini mungkin ada kaitannya dgn thread *Daya Fikir* 
(di
> > milis lain)
> > > >
> > > > Dijelaskan bahwa ada kultur (ilmiah, institusi) dan ada
> > &#733;kultur&#733; (non ilmiah, non institusi)
> > > > Dalam penjelasan tersebut, dikatakan bahwa Gunawan Muhammad, 
adalah
> > budayawan (pokok pemikirannya, tidak bersandar pada pendekatan -
so
> > called- ilahiah, tdk sama halnya dgn Aa Gym, yg ditempatkan 
sebagai
> > budayawan dalam tanda kutip)...
> > > >
> > > > Pertanyaan saya adalah:
> > > > 1. Mengapa tdk menggunakan saja terminologi *Philisopher* 
terhadap
> > Gunawan Muhammad?... Mengapa harus ada dikotomi budayawan *dalam 
tanda
> > kutip* dan *tanpa tanda kutip*? (Intellectual Exercise?)
> > > >
> > > > Quote 01: Ia bisa saja seorang akademisi, tetapi tak harus 
selalu
> > demikian. Goenawan Mohamad bukan akademisi, tetapi jelas 
budayawan. (End
> > of quote/Manneke Budiman/FPK)
> > > >
> > > > Quote 02: lalu bagaimana dengan AA Gym? Dalam 
pengertian "budayawan"
> > superlonggar di awal kuliah saya, ia bisa saja diberi 
label "budayawan"
> > (seperti yang dilakukan Kopiracun). Namun, dari sudut pandang 
ilmu
> > budaya, AA Gym bukan budayawan (tanpa tanda kutip).
> > > >
> > > > 2. Masuk dalam pertanyaan selanjutnya: WHAT IS CULTURE?
> > > >
> > > > Bagi yg ogah (malas?) buka referensi, saya bermurah hati 
untuk
> > membukakan anda, sbb: (tolong perhatikan highlight)
> > > > ---------------------------------------------
> > > > Wikipedia:
> > > > Culture (from the Latin cultura stemming from colere, 
meaning "to
> > cultivate"), generally refers to patterns of human activity and 
the
> > symbolic structures that give such activity significance. 
Different
> > definitions of "culture" reflect different theretical bases for
> > understanding, or criteria for evaluating, human activity.
> > > >
> > > > Anthropologists most commonly use the term "culture" to 
refer to the
> > universal human capacity to classify, codify and communicate 
their
> > experiences symbolically. This capacity has long been taken as a
> > defining feature of the humans. However, primatologists such as 
Jane
> > Goodall have identified aspects of culture among human's closest
> > relatives in the animal kingdom.[1] it can be also said that " 
it is the
> > way people live in accordance to beliefs, language, history, or 
the way
> > they dress. "
> > > > ----------------------------------------------
> > > > Apakah ada dikotomi pembedaan budayawan tanda kutip dan 
budayawan
> > dengan tanda kutip?...
> > > >
> > > > So, again: WHAT IS CULTURE?...
> > > > Pertanyaan ini saya lempar ke rekan se *warung kopi* sebagai 
bahan
> > kajian untuk *warung kopi institute*. Dgn meminta penjelasan 
murni hasil
> > olah fikir anda sendiri.
> > > >
> > > > Kopitalistic Verses:
> > > > 1. Budaya/Kultur adalah interaksi manusia dgn alam, manusia 
dgn
> > manusia dan manusia dgn dirinya. (SeksPeare/Apakabar/2005)
> > > > 1-a. Dalam interaksi itu menghasilkan result berupa faith, 
believe
> > system, ataupun menghasilkan filsafat.
> > > >
> > > > 2. Budaya (Kultur) adalah terminologi yg dihasilkan oleh 
pengkajian
> > akademik (symbolic) untuk menjelaskan sebuah -atau beberapa- 
dimensi
> > (mistis-fisis/realistis) yg belum berhasil terumuskan melalui 
penjelasan
> > hard-science.
> > > >
> > > > Your OWN Version:
> > > > 1............................................
> > > > 2............................................
> > > > dst.
> > > >
> > > > Dalam sebuah stadion sepak bola, penonton menilai dan 
menikmati
> > hasil aktifitas dari permainan para atlitnya, bukan semata 
cheerleader
> > maupun komentatornya. Cheerleader dan komentator hanya berstatus:
> > Penggembira.
> > > >
> > > > Salam Intellectual Exercise
> > > >
> > > > Kopitalisme
> > > > http://kopitalisme.tk
> > > > http://kopitalisme.blogspot.com
> > > > Rekan rekan sedang mengumpulkan berbagai artikel yg 
membicarakan
> > kemandulan dan impotensi kaum intelektual kita.
> > >
> > 
> > 
> >
>


Kirim email ke