Maaf kalau anda menangkapnya demikian. Ini mungkin terpengaruh gaya
guyonan si kopi itu. Hal yang membuat saya dan juga Manneke prihatin
adalah setiap kali ia muncul dan melontarkan kritik terhadap sosiolog
dan antropolog, sekarang malah sosiolog dan budayawan, ia tak pernah
menjelaskan sosiolog dan antropolog mana yang membuat ulah.

Kalau diskusinya menjadi semakin panas, ia malah melontarkan pertanyaan
kepada kita tentang apa yang telah kita lakukan terhadap masyarakat?
Anda bisa cek lagi bagaimana pertanyaan ini dilontarkan di sela-sela
diskusi. Saya tidak mau pamer kepada siapapun tentang apa yang telah
saya lakukan. Biarlah orang lain mengatakan apa yang telah saya perbuat.

Saya pernah berdebat cukup panjang dengan kopitalisme ini di milis Forum
Pembaca Kompas. Ada banyak tulisan saya yang tidak ditanggapi. Saya
awalnya serius tetapi dalam diskusi dengan orang lain malah menyebut
otak saya kepelintir. Anda bisa cek lagi dengan menggunakan alat
pencarian di milis tersebut.

Sinismenya dengan dunia akademis bisa dipahami. Banyak akademisi yang
tidak menunjukkan integritasnya dan asyik dengan menara gadingnya. Namun
apakah dengan demikian ia berhak untuk menutup mata terhadap sumbangan
akademisi, sekalipun cuma pikiran tetapi memiliki pengaruh cukup besar
dalam sejarah. Ini yang saya keberatan.

Kemenangan psikologis? Kalau memang itu yang dimaui dan dianggap penting
oleh kopitalisme, saya tidak akan membantah. Toh topik yang diangkat
juga menjadi pilihan bagi miliser apakah mereka akan menanggapi atau
tidak.


--- In [email protected], "markus_tandipajung"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sekedar urung rembuk, boleh kan?
>
> Thread ini kok jadi ajang emosi? Saya kira pertanyaan dalam thread
> ini sederhana. Yaktu ADA atau TIDAK ADA.
> Saya kok sedih ya, bapak bapak kan itu udah punya umur berapa yah?
> Semestinya jangan terbawa arus emosi dong?
>
> Setelah saya jalan jalan kesitus (blog?) Kopitalisme, wow!!! Banyak
> sekali uraian uraian imajinatif yang (maaf kata) melampaui realitas
> kita. Jujur saya akui pak!
>
> Ide tentang menjadikan kopi dan warung kopi sebagai wadah
> kontemplasi, saya kira adalah sebuah gagasan besar, dibalik pesan
> pesan simbolik berbagai tulisan didalam kopitalisme.
>
> Ada ungkapan: One of the most universal morning ritual is to drink
> coffe.
>
> Dan Laws, theories, ideologies are always never enough, simply
> because people is not a static creatures. They are growing, changing
> and moving. But most of us are connected with coffee!
>
> Kedua itu adalah ungkapan yg simple tapi mendalam. Jika penulis buku
> ´Filsafat Kopi´ merekam perjalanannya lewat buku. (Saya pernah
baca
> di Suara Merdeka, artikel tentang Filsafat Kopi. Saya ingat tanggal
> 28 Mei 2006.)
>
> Maka, kopitalisme merekam filsafat ke-kopi-annya dalam wadah
> aktifitas kehidupannya (maaf jika saya salah). Bukannya untuk
> membandingkan. Tetapi setahu saya menempatkan ´kopi´ sebagai
sentral
> ide, saya rasa kopitalisme telah melakukannya bertahun tahun lalu.
> (kebetulan saya juga dari Sulsel) Saya tahu, karena saya salah satu
> pendukung gagasannya di tahun 2001 (dan ribuan lagi orang seperti
> saya)yang memang dia rintis dari warkop ke warkop. Jadi bukan hanya
> diatas kertas/buku, saja.
>
> Bahkan di milis milis ide nyentriknya telah melalang buana sejak
> awal 2005.
>
> Salam merenunglah. Kurangi terbawa emosi (itu tanda kemenangan
> psikologis bagi kopitalisme)Tunjukkan juga tulisan yg menandingi
> tarian huruf dari kopitalisme.
>
> Markus
>
>
> --- In [email protected], manneke manneke@ wrote:
> >
> >
> > Rahadian,
> >
> > This weirdo clearly hasn't got any balls. Entah dia harus
> dikasihani atau dikutuki...
> >
> > Saya sih tak merasa perlu pamer apa yang telah saya lakukan di
> luar institusi saya tanpa terima bayaran, atau berapa sering saya
> harus tekor dari kocek sendiri bahkan untuk melakukan sesuatu yang
> resmi di institusi saya. I'm no megalomaniac, man. Jadi, kita ketawa-
> ketiwi aja baca igauan filsuf patah arang ini.
> >
> > Anda benar, intelektual tulen mestinya makin berkiprah, semakin
> rendah hatilah dia dan semakin jaga mulut. Bukannya malah koar-koar
> mendewakan diri sendiri dan sibuk mencari cacat orang lain.
> >
> > manneke
> >
> >
> > -----Original Message-----
> >
> > > Date: Wed Jan 10 13:39:28 PST 2007
> > > From: "Rahadian Permadi" lubas77@
> > > Subject: [mediacare] Re: Just Checking: Apakah Indonesia
> Memiliki Philosopher?
> > > To: [email protected]
> > >
> > >
> > > Manneke,
> > >
> > > Mungkin ada baiknya diabaikan saja si pengidap skizowaria...eh
> maksud
> > > saya skizomania. Tampaknya dia juga tidak mendapatkan tanggapan
> di
> > > beberapa milis.
> > >
> > > Kalau diskusinya sampai panas, misalnya membenturkan antara
> akademisi
> > > dengan yang lainnya, maka akan diarahkan pada pertanyaan: apakah
> yang
> > > sudah anda lakukan tanpa melibatkan institusi akademis anda? Saya
> > > menangkap kesan arogan di sini. Seolah-olah banyak akademisi
> atau mereka
> > > yang diserang hanya duduk dan diam di menara gading. Seingat
> saya Romo
> > > Mangun, seorang intelektual sekaligus rohaniwan, tidak banyak
> pamer
> > > ketika bekerja untuk kali Code dan Kedung Ombo. Begitu juga
> almarhum
> > > Herbert Feith, ia tidak berkoar-koar menantang akademisi lain
> ketika
> > > bekerja di Timor dan tempat lainnya. Sartre dan Bertrand Russell
> juga
> > > tidak menyindir para dosen di negara lain ketika mocking
> tribunal untuk
> > > perang Vietnam diprakarsai oleh mereka.
> > >
> > > Sekarang malah lari ke topik budaya yang jelas-jelas katanya
> sendiri
> > > sangat elusive. Filsuf indonesia? Wah mungkin cuma dia kali.
> Mungkin
> > > perlu ditanya sama dia apakah indonebia itu bisa disebut filsuf?
> > > Gagasannya orisinil dan cemerlang : )
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote:
> > > >
> > > > Miliser hypersex ini bikin ulah lagi. Masih dengan gayanya
> yang tak
> > > bermutu itu. Memindahkan sebuah diskusi dari satu milis ke milis
> lain
> > > (dengan memakai nama samaran yang berbeda-beda), lalu memotong-
> motong
> > > isi posting seseorang tanpa etika sama sekali, serta
> memanipulasinya
> > > sedemikian rupa dengan tujuan disinformasi dan penyesatan orang
> banyak.
> > > Ketika direspons, dia menghilang dengaan sikap yang sangat
> pengecut,
> > > lalu loncat ke milis lain dan menebar racun di sana.
> > > >
> > > > Inilah manusia sok pintar tapi tak punya kejujuran ataupun
> integritas.
> > > Budayawan/sosisolog palsu yang senantiasa asyik berkasak-kusuk
> dan tidak
> > > membawa manfaat apa-apa bagi orang lain di sekitarnya. Jika
> banyak
> > > manusia Indonesia yang seperti ini, tak heranlah jika kondisi
> Indonesia
> > > saat ini penuh dengan karut-marut pada stadium gawat.
> > > >
> > > > Untuk kesekian kalinya saya usulkan kepada Anda, jika berani
> berdikusi
> > > serius tentang krisis budaya di Indonesia, dan jika ingin
> memindahkan
> > > diskusi dari satu milis ke milis lain, cobalah menyertakan thread
> > > lengkap dari awal, bukan cuma sepotong-sepotong yang disampaikan
> dengan
> > > cara abusive untuk kepentingan diri sendiri. Jika tak berani
> melakukan
> > > diskusi yang jujur dan terhormat, ya saya anggap saja Anda ini
> pengecut
> > > ingusan yang tak tahu malu.
> > > >
> > > > Mari kita lihat, adakah miliser mediacare yang akan menyambut
> > > postingan Anda ini dengan serius. Setelah itu, kita akan lihat
> juga cara
> > > dan gaya Anda dalam menanggapinya. barang busuk tetaplah busuk,
> > > sekalipun dibungkus dengan kata-kata muluk sekeren apapun.
> > > >
> > > > May CULTURE be with you.
> > > >
> > > > manneke
> > > > PS: By the way, untuk pertanyaan Anda: "Apakah Indonesia
> memiliki
> > > philosopher?" Jawabannya, "Ya. Dan cuma ada satu. Sayangnya, dia
> > > philosopher gadungan yang megaloman dan skizofrenik. Namanya?
> kadang
> > > (Hyper)Sekspeare kadang Das Kopiupilan." Cilakalah bangsa ini...
> > > >
> > > >
> > > > -----Original Message-----
> > > >
> > > > > Date: Tue Jan 09 06:52:06 PST 2007
> > > > > From: "Well... I am SeksPeare" well_seks_peare@
> > > > > Subject: [mediacare] Just Checking: Apakah Indonesia Memiliki
> > > Philosopher?
> > > > > To: [email protected]
> > > > >
> > > > > Pertanyaan ini mungkin ada kaitannya dgn thread *Daya Fikir*
> (di
> > > milis lain)
> > > > >
> > > > > Dijelaskan bahwa ada kultur (ilmiah, institusi) dan ada
> > > &#733;kultur&#733; (non ilmiah, non institusi)
> > > > > Dalam penjelasan tersebut, dikatakan bahwa Gunawan Muhammad,
> adalah
> > > budayawan (pokok pemikirannya, tidak bersandar pada pendekatan -
> so
> > > called- ilahiah, tdk sama halnya dgn Aa Gym, yg ditempatkan
> sebagai
> > > budayawan dalam tanda kutip)...
> > > > >
> > > > > Pertanyaan saya adalah:
> > > > > 1. Mengapa tdk menggunakan saja terminologi *Philisopher*
> terhadap
> > > Gunawan Muhammad?... Mengapa harus ada dikotomi budayawan *dalam
> tanda
> > > kutip* dan *tanpa tanda kutip*? (Intellectual Exercise?)
> > > > >
> > > > > Quote 01: Ia bisa saja seorang akademisi, tetapi tak harus
> selalu
> > > demikian. Goenawan Mohamad bukan akademisi, tetapi jelas
> budayawan. (End
> > > of quote/Manneke Budiman/FPK)
> > > > >
> > > > > Quote 02: lalu bagaimana dengan AA Gym? Dalam
> pengertian "budayawan"
> > > superlonggar di awal kuliah saya, ia bisa saja diberi
> label "budayawan"
> > > (seperti yang dilakukan Kopiracun). Namun, dari sudut pandang
> ilmu
> > > budaya, AA Gym bukan budayawan (tanpa tanda kutip).
> > > > >
> > > > > 2. Masuk dalam pertanyaan selanjutnya: WHAT IS CULTURE?
> > > > >
> > > > > Bagi yg ogah (malas?) buka referensi, saya bermurah hati
> untuk
> > > membukakan anda, sbb: (tolong perhatikan highlight)
> > > > > ---------------------------------------------
> > > > > Wikipedia:
> > > > > Culture (from the Latin cultura stemming from colere,
> meaning "to
> > > cultivate"), generally refers to patterns of human activity and
> the
> > > symbolic structures that give such activity significance.
> Different
> > > definitions of "culture" reflect different theretical bases for
> > > understanding, or criteria for evaluating, human activity.
> > > > >
> > > > > Anthropologists most commonly use the term "culture" to
> refer to the
> > > universal human capacity to classify, codify and communicate
> their
> > > experiences symbolically. This capacity has long been taken as a
> > > defining feature of the humans. However, primatologists such as
> Jane
> > > Goodall have identified aspects of culture among human's closest
> > > relatives in the animal kingdom.[1] it can be also said that "
> it is the
> > > way people live in accordance to beliefs, language, history, or
> the way
> > > they dress. "
> > > > > ----------------------------------------------
> > > > > Apakah ada dikotomi pembedaan budayawan tanda kutip dan
> budayawan
> > > dengan tanda kutip?...
> > > > >
> > > > > So, again: WHAT IS CULTURE?...
> > > > > Pertanyaan ini saya lempar ke rekan se *warung kopi* sebagai
> bahan
> > > kajian untuk *warung kopi institute*. Dgn meminta penjelasan
> murni hasil
> > > olah fikir anda sendiri.
> > > > >
> > > > > Kopitalistic Verses:
> > > > > 1. Budaya/Kultur adalah interaksi manusia dgn alam, manusia
> dgn
> > > manusia dan manusia dgn dirinya. (SeksPeare/Apakabar/2005)
> > > > > 1-a. Dalam interaksi itu menghasilkan result berupa faith,
> believe
> > > system, ataupun menghasilkan filsafat.
> > > > >
> > > > > 2. Budaya (Kultur) adalah terminologi yg dihasilkan oleh
> pengkajian
> > > akademik (symbolic) untuk menjelaskan sebuah -atau beberapa-
> dimensi
> > > (mistis-fisis/realistis) yg belum berhasil terumuskan melalui
> penjelasan
> > > hard-science.
> > > > >
> > > > > Your OWN Version:
> > > > > 1............................................
> > > > > 2............................................
> > > > > dst.
> > > > >
> > > > > Dalam sebuah stadion sepak bola, penonton menilai dan
> menikmati
> > > hasil aktifitas dari permainan para atlitnya, bukan semata
> cheerleader
> > > maupun komentatornya. Cheerleader dan komentator hanya berstatus:
> > > Penggembira.
> > > > >
> > > > > Salam Intellectual Exercise
> > > > >
> > > > > Kopitalisme
> > > > > http://kopitalisme.tk
> > > > > http://kopitalisme.blogspot.com
> > > > > Rekan rekan sedang mengumpulkan berbagai artikel yg
> membicarakan
> > > kemandulan dan impotensi kaum intelektual kita.
> > > >
> > >
> > >
> > >
> >
>



Kirim email ke