halo sahabat,

Dalam hubungan kita dengan pasangan, serikali kita
dihadapkan pada pilihan pahit, apakah kita bisa
mempercayai seratus persen, ataukah kita harus
senantiasa mengecek keberadaan dan tindakan pasangan
kita.

Contoh sederhana misalnya, saat ini banyak sekali
pasangan yang saling mempermasalahkan sms pasangannya.
 Bahkan ada lagunya yang terkenal,

"Bang sms siapa ini Bang"

Haruskah kita boleh memeriksa sms pada handphone
pasangan kita?

sesungguhnya, ikatan dalam rumah tangga, adalah
didasari oleh itikad baik, artinya secara jangka
panjang, kita diharapkan untuk senantiasa bersandar
pada tanggung jawab kepada anak-anak.

Oleh karena itu, mungkin sebaiknya kita memberikan
kelonggaran privacy kepada pasangan kita, walaupun
kita bisa bersih secara sms, belum tentu pikiran kita
bersih.

Bila ternyata pada pasangan kita terdapat sms mesra,
sikap kita bukanlah harus menghakhiri segalanya, namun
lebih bijaksana, lebih baik dijelaskan akibatnya,
misalnya mendiskusikan apa yang terjadi dengan YZ dan
ME, misalnya.

Dengan demikian kita terhindar pada pilihan pahit
dalam hubungan kita, yaitu masuk dalam hubungan yang
tidak dilandasi rasa percaya.

Pasangan anda harus dianggap sebagai diri anda
sendiri.  bIla anda jujur pada diri sendiri, tidak
perlu anda mencurigai pasangan anda.

Sebaliknya bila anda tidak jujur pada diri sendiri,
tentu tidak ada gunanya anda menuntut pasangan anda
jujur.

Emosi dan rasa benci

Dalam komunikasi kita dengan orang lain, sering kita
temukan efek dari rasa emosi pada diri kita terhadap
lawan bicara kita.  fek tersebut secara tidak sadar
akan selalu muncul, karena sungguh sulit merubah sifat
seseorang, dan masalahnya sifat satu orang sungguh
berlainan dengan sifat orang lain, oleh karena itu
sering kali kita terjebak pada emosi dan rasa benci
pada saat kita berkomunikasi dengan orang lain.

Seolah-olah emosi itu menguasai pikiran kita, sehingga
pikiran kita berkabut.

Orang cenderung untuk memikirkan hal-hal sebagai
berikut:

- Siapa kamu, kok bisa-bisanya menentang pendapat
saya?
- Apa maksud anda mempertanyakan pendapat saya?
- Apa anda tidak tahu siapa saya?
- Mengapa anda kok bersikap demikian?

Pada setiap komunikasi yang kita terima rasanya ada
sosok pembisik yang mengatakan kita harus selalu
mencurihai pendapat orang lain.

Bila kiat mengirim email kepada orang lain misalnya,
kalau tidak dibalas, kita akan sering berpikir, pasti
orang tersebut sombong, atau mereka sungguh tidak
menganggap kita.

Padahal dalam kenyataan hidup, besar kemungkinan tidak
ada orang yang bermaksud jahat kepada kita.

Misalnya: bila pihak lain tidak membalas email kita,
mungkin..:

- pihak lain sedang sibuk, atau
- addressnya berubah, 
- orangnya sudah resign dan digantikan orang lain
- email yang diterima terlalu banyak dan email kita
terselip

Oleh karena itu, ada pepatah mengatakan, "Apa yang
kita lihat tergantung dari paradigma kita"

Misalnya anda ditanya, mobil warna apa yang banyak
jaman sekarang?

Bila anda pikir warna hitam yang paling banyak, maka
mobil warna hitam akan semakin banyak terlihat di
jalan-jalan.

Bila anda pikir warna putih yang banyak, maka semakin
banyak terlihat mobil-mobil warna putih di jalanan.

Oleh karena itu lebih baik kita melatih diri untuk
berpikir positif, karena itu lebih menguntungkan kita,
daripada berpikir negatif.

Adu kekuatan

Dalam hubungan kita dengan orang lain, kita cenderung
untuk adu kekuatan.  Dari kecil kita terbiasa untuk
memperjuangkan pendapat kita supaya disetujui oleh
pihak lain.

Anak kecil akan berpikir seribu cara untuk supaya
keinginannya disetujui oleh orang tuanya, dan sikap
itu terbawa terus sehingga dalam hidup ini kita
berpikir bagaimana caranya supaya pihak lawan dapat
mengikuti kemauan kita, dengan menggunakan kekuatan
kita.

Sering kita lihat, seorang sekretaris atau asisten
menggunakan posisinya untuk menekan orang lain supaya
kemauannya diikuti orang lain.  Atau kita bersikap
menunjukkan siapa kita, atau menekan dengan segala
macam kekuatan kita untuk mendapatkan yang kita
inginkan.

Sikap kita cenderung untuk:

- marah
- menekan menggunakan kekuatan kita
- menggunakan kekuasaan kita

Sehingga hidup kita sendiripun seolah-olah berada
dalam kondisi intense.  Kita sering merasa tertekan. 
Itu semua disebabkan hubungan kita yang buruk dengan
orang-orang lain.

Kepada pembantu rumah tangga misalnya, kita berbicara:

"Tolong ambilkan piring ya"
"Ya nanti ya, sebentar"

Dan kita langsung merasa marah, meras acuriga, mengapa
kok sulit banget hanya mengambilkan piring saja kok
repot?

Padahal dengan hubungan yang baik, kita bisa berpikir
positif, bahwa pembantu rumah tanggapun juga manusia
yang perlu kita ajak komunikasi.  Kalau kita
menganggap dia tidak ada, jangan harap kitapun
dianggap oleh mereka, kecuali dengan terpaksa.

"Tolong ambilkan piring ya...."
"Ya nanti ya, sebentar"
"Oh lagi masak ya, masak apa?"

Toh nanti juga pasti piring diambilkan, dan jangan
lupa mengucapkan,,

"Terimakasih"

Hidup itu sebenarnya tidak untuk dilawan, dikuasai,
atau dihadapi, namuan sesungguhnya hidup itu adalah
untuk diajak bersahabat, dipercaya, dihargai.


salam,
Goenardjoadi Goenawan
http://swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=3195&pageNum=2

Miliki Buku-buku karya Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM.:
* Menjadi Kaya Dengan Hati Nurani
* Mata Air Untuk Dahaga Jiwaku
* Pelangi Kehidupan Entrepreneur
* Memasarkan Dengan Hati (terbit 8 November 2006)
ditulis bersama Ir. Stefanus Indrayana, MBA.:
* Manajemen Berbasis Nurani (Terbit 1 Januari 2007)
* Best Life; Menjalani Hidup Penuh Makna (belum
terbit) 
* Journey to the soul; Piramida Kebutuhan Jiwa 
Penerbit: Elex Media Komputindo



Kirim email ke