Radio Nederland Siaran Indonesia - Ranesi http://www.ranesi.nl/tema/temahukdanham/suara_perempuan070108/profil_wiwiek_wiratha070109 Profil Wiwiek Wiratha Perempuan Karir Asal Indonesia Juliani Wahjana
09-01-2007
'Keramahtamahan merupakan modal penting dalam berbisnis', ujar Wiwiek Wiratha,
perempuan karir yang memimpin Deva Travel, perusahaan biro perjalanan di
Belanda. Wiwiek membuka perbincangan dengan mengatakan bahwa kegiatan utamanya
adalah membahagiakan diri sendiri karena, demikian lanjutnya, 'apabila saya
bahagia maka saya akan bisa membahagiakan orang lain'. Wujud membahagiakan
orang lain itu dipraktekkan dalam bentuk charity atau amal karena satu persen
dari pendapatan perusahaan disumbangkan kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan
di Indonesia. Berikut profil pemilik Deva Travel.
Berbagai kesibukan
Kesibukan memimpin Deva Travel itu tidaklah mengurangi kecintaannya memberi les
menari kepada murid-muridnya. 'Menari sudah mendarah daging karena sejak kecil
sewaktu masih di Padang Bay Bali saya sudah menari. Ibu saya penari, kakek saya
juga penari adat', demikian jelas Wiwiek.
Wiwiek juga seringkali diundang oleh sekolah-sekolah di Utrecht, Belanda
Tengah, untuk memberi pengarahan kepada murid-murid tentang peluang kerja bagi
para pendatang. Perusahannya Deva Travel juga membuka peluang bagi mahasiswa
yang hendak mencari tempat magang. Suara Perempuan sempat hadir dalam diskusi
di sebuah sekolah menengah di Utrecht, di mana murid-murid dengan antusias
berdiskusi dengan Wiwiek.
Di tengah berbagai kesibukan itu, Wiwiek juga memiliki kesibukan lain yaitu
menjadi orang tua tunggal bagi satu-satunya putra kesayangannya. Ketika ditanya
bagaimana ia membagi waktu untuk itu semua, jawabnya sederhana: 'karena saya
orangnya bahagia dan saya melakukan sesuatu dengan rasa bahagia'. Memang
kebahagian itu terpancar dari wajah Wiwiek yang tak pernah lepas dari senyuman.
Wiwiek, yang datang ke Belanda ketika berusia 18 tahun, tidak pernah bermimpi
akan memiliki perusahaan sendiri di negeri orang. Namun gejolak dalam kehidupan
pribadinya serta keprihatinannya melihat situasi di Indonesia pada waktu itu,
membuat Wiwiek nekad mengambil keputusan untuk mendirikan perusahaan. 'Saya
sama sekali buta, tidak tahu harus ke mana. Saya tanya ke teman ke instansi
mana saya harus pergi untuk mendaftarkan perusahaan. Di sanapun saya masih
bingung akan mendirikan perusahaan apa dan apa namanya'. Demikian kenang
Wiwiek. Akhirnya Deva Travel dilahirkan pada 2002.
Tantangan terbesar
Menurut Wiwiek, tantangan terbesar dalam memiliki sebuah perusahaan adalah diri
sendiri. 'Kita harus konsekuen dengan apa yang kita ucapkan dan janjikan untuk
konsumen kita. Kita juga harus konsekuen dengan produk yang kita jual'.
Kepuasaan konsumen menjadi tujuan utama. 'Dan sebagai seorang perempuan dari
Indonesia, sebenarnya kita sudah memiliki modal yang sangat baik, yaitu
keramahtamahan kita', demikian ujar Wiwiek. Wiwiek menceritakan bahwa sebelum
mendirikan perusahaan, ia pernah ke biro-biro perjalanan untuk melakukan survei.
'Jangankan duduk berlama-lama, tiga menit saya sudah harus keluar', demikian
cerita Wiwiek. Hal inilah yang dihindari oleh Wiwiek dalam memberikan pelayanan
kepada konsumen. 'Keramahtamahan, sudah merupakan kemenangan tersendiri bagi
kita yang ingin berhasil di sini'. Demikian nasehat Wiwiek.
Sebagai seorang pengusaha perempuan yang banyak menghadapi rekan-rekan pria
dalam bidang pariwisata ini, Wiwiek mengatakan tidak merasa rendah diri. Justru
sebaliknya, Wiwiek harus mampu menunjukkan bahwa posisi mereka setara. Wiwiek
bepegang pada pepatah Bali 'desa kala patra' atau 'tempat, waktu, dan
kejadian', artinya kita harus bisa menyesuaikan diri dengan ketiga hal
tersebut. Demikian jelas Wiwiek.
Nasehat
Sebelum menutup perbincangan, Wiwiek juga ingin menyampaikan pesan kepada
perempuan yang ingin berkarir atau memulai usaha seperti dirinya. 'Saran saya
jadilah diri kita sendiri serta percaya bahwa apa yang kita buat itu akan
membahagiakan diri kita sendiri dan kemudian membahagiakan orang lain. Di
samping itu bersainglah dengan sehat. Jangan membuat lingkungan bisnis sebagai
ajang yang tidak bersahabat'.
Kalau kita berbisnis secara bersahabat maka kita akan bisa membuat netwerk
(jaringan kerja, red) yang luar biasa. 'Dan saya kira apabila perempuan
Indonesia yang datang ke Belanda ini ingin maju, maka janganlah melupakan asal
usul mereka bahwa mereka berasal dari Indonesia. Justru tunjukkanlah hal itu
serta sekali lagi konsekuen dengan produk kita'. Demikian Wiwiek Wiratha.
Nah....siapa yang akan mengikuti jejak Wiwiek selanjutnya?
Wawancara ini disiarkan pada 31 Desember 2006 dan 7 januari 2007 dalam
acara Suara Perempuan.
--------------------------------------------------------------------------------
Hak cipta Radio Nederland 2006 Disclaimer
12598155
Description: Binary data
12598161
Description: Binary data
