Halo Pak Maneke...

Saya mengerti rasa gemesnya anda diewer-ewer oleh "Sang Pendobrak 
kemapanan" model Kopitalisme, namun mungkinkah kita bisa berasumsi 
positif, mengajak teman kita Kopitalisme berkenalan, orang bilang 
Tak Kenal maka Tak Sayang.. 

Orang sabar dikasihi Tuhan, makanya kok bisa "muncul hari ini di 
milis ini, sebagaimana di milis lain tiba-tiba bermunculan nama-nama 
baru yang rame-rame mendukung Kopitalisme seperti semacam pengerahan 
massa".

Mungkin orang-orang itu masih memiliki belas kasih, rasa kasihan 
rasa empati, terhadap apa?  terhadap rasa kebencian yang ditimbulkan 
dari tulisan Bapak.. "philosopher gadungan yang megaloman dan 
skizofrenik. Namanya? kadang (Hyper)Sekspeare kadang Das Kopiupilan" 
itu menyakitkan hati, mungkin bukan kepada Kopitalisme namun banyak 
orang-orang lain yang juga merasa dirinya minder, terpojok, 
terkucilkan terinjak, nah rasa empatinya akan timbul.

Seperti kejadian yang menimpa yang baru menikah lagi... masyarakat 
benci bukan kepadanya, namun benci kepada kehidupannya sendiri, yang 
banyak dibohongi, diselingkuhi, dikhianati, dibrengseki suaminya 
masing-masing..

Saya sendiri tadinya juga emosi menghadapi figur Kopitalisme.. namun 
setelah berkenalan, ya biasa-biasa saja pak, bisa diajak diskusi 
baik-baik, dan sering minum kopi dan makan nasi rawon bersama-sama 
di tempat masing-masing (Kopitalisme di Kroasia) sambil ngobrol.

Mungkin besok Kopitalisme pakai nama "Mariana" atau "Rani", mungkin 
anda tidak seemosi ini ya..

salam damai,
Goenardjoadi Goenawan

--- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Oh, ini salah satu temennya toh yang datang untuk menyelamatkan 
Kopiupilan yang cuma berani hit-and-run itu? Nggak heranlah kalo 
penuh pujian setinggi langit. Tembak-tembakan antara saya dan 
Kopiracun udah berlangsung lama bahkan sebelum tiba-tiba nama Anda 
muncul hari ini di milis ini, sebagaimana di milis lain tiba-tiba 
bermunculan nama-nama baru yang rame-rame mendukung Kopitalisme 
seperti semacam pengerahan massa. 
> 
> Saya nggak peduli Anda sesama Makassar kek, atau ikut proyeknya 
dia tahun 2001 kek, atau pengunjung setia blog-nya yang Anda sbeut 
eksentrik itu. Saya kira beda antara saya dan Kopipahit pujaan Anda 
itu adalah saya tak pernah koar-koar di milis-milis mengenai apa 
kehebatan saya dan saya sudah berbuat apa saja untuk orang lain. 
Apalagi pake menyebar kisah-kisah tentang kehebatan diri sendiri 
dalam blog. Saya cuma bisa senyum-senyum saja baca tahun-tahun 
penting Koptalisme (2001, 2005). Baru mulai muncul tahun 2000-an 
toh? Lalu sudah sedemikian pongahnya menganggap orang lain yang beda 
pendapat dengannya sebagai orang yang BELUM melakukan apa-apa bagi 
masyarakat? Oh, my God...
> 
> Anda tanya tulisan saya mana sebagai counter bagi postingan 
Kopikentalpahit? Tahukah Anda bahwa diskusi ini bermula di milis 
Forum Pembaca Kompas, lalu secara tak bertanggung jawab dan tanpa 
etika dipindahkan kemari secara sepotong-sepotong dan dengan taktik 
hit-and-run oleh jagoan kebanggaan Anda itu? Kalo mau liat pemikiran 
saya lengkap yang meresponsi Konkopilan, pergilah di milis FPK dan 
ikuti jalannya dskusi di situ. Saya nggak punya kebiasaan kutu 
loncat memindahkan suatu debat dari satu lilis ke milis lain, 
apalagi dengan dipenggal-penggal secara abusive untuk menyesatkan 
opini orang yang tak tahu cerita seutuhnya.
> 
> Selamat merenung jugalah. Saya tak terlalu peduli Anda mau anggap 
ini kemenangan psikologis Kopikentalpahit atau apalah. Yang mana 
yang membuat Anda senang sajalah. Anda kira terus saya jadi ciut 
gitu? He he he. "Tarian huruf" Kopitalisme? Ha ha ha... sebuah 
metafor yang sangat bombastis. Bagi saya sih ini lebih tampak 
seperti simptom huruf yang lagi sekarat daripada sebuah tarian. 
Kayanya Anda dan 'guru' Anda ini satu cetakan deh. Hopeless case...
> 
> manneke
> 
> 
> -----Original Message-----
> 
> > Date: Thu Jan 11 12:24:07 PST 2007
> > From: "markus_tandipajung" <[EMAIL PROTECTED]>
> > Subject: [mediacare] Re: Just Checking: Apakah Indonesia 
Memiliki Philosopher?
> > To: [email protected]
> >
> > Sekedar urung rembuk, boleh kan?
> > 
> > Thread ini kok jadi ajang emosi? Saya kira pertanyaan dalam 
thread 
> > ini sederhana. Yaktu ADA atau TIDAK ADA. 
> > Saya kok sedih ya, bapak bapak kan itu udah punya umur berapa 
yah? 
> > Semestinya jangan terbawa arus emosi dong?
> > 
> > Setelah saya jalan jalan kesitus (blog?) Kopitalisme, wow!!! 
Banyak 
> > sekali uraian uraian imajinatif yang (maaf kata) melampaui 
realitas 
> > kita. Jujur saya akui pak!
> > 
> > Ide tentang menjadikan kopi dan warung kopi sebagai wadah 
> > kontemplasi, saya kira adalah sebuah gagasan besar, dibalik 
pesan 
> > pesan simbolik berbagai tulisan didalam kopitalisme. 
> > 
> > Ada ungkapan: One of the most universal morning ritual is to 
drink 
> > coffe. 
> > 
> > Dan Laws, theories, ideologies are always never enough, simply 
> > because people is not a static creatures. They are growing, 
changing 
> > and moving. But most of us are connected with coffee!
> > 
> > Kedua itu adalah ungkapan yg simple tapi mendalam. Jika penulis 
buku 
> > ??Filsafat Kopi?? merekam perjalanannya lewat buku. (Saya pernah 
baca 
> > di Suara Merdeka, artikel tentang Filsafat Kopi. Saya ingat 
tanggal 
> > 28 Mei 2006.)  
> > 
> > Maka, kopitalisme merekam filsafat ke-kopi-annya dalam wadah 
> > aktifitas kehidupannya (maaf jika saya salah). Bukannya untuk 
> > membandingkan. Tetapi setahu saya menempatkan ??kopi?? sebagai 
sentral 
> > ide, saya rasa kopitalisme telah melakukannya bertahun tahun 
lalu. 
> > (kebetulan saya juga dari Sulsel) Saya tahu, karena saya salah 
satu 
> > pendukung gagasannya di tahun 2001 (dan ribuan lagi orang 
seperti 
> > saya)yang memang dia rintis dari warkop ke warkop. Jadi bukan 
hanya 
> > diatas kertas/buku, saja. 
> > 
> > Bahkan di milis milis ide nyentriknya telah melalang buana sejak 
> > awal 2005.
> > 
> > Salam merenunglah. Kurangi terbawa emosi (itu tanda kemenangan 
> > psikologis bagi kopitalisme)Tunjukkan juga tulisan yg menandingi 
> > tarian huruf dari kopitalisme. 
> > 
> > Markus
> > 
> > 
> > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote:
> > >
> > > 
> > > Rahadian,
> > > 
> > > This weirdo clearly hasn't got any balls. Entah dia harus 
> > dikasihani atau dikutuki...
> > > 
> > > Saya sih tak merasa perlu pamer apa yang telah saya lakukan di 
> > luar institusi saya tanpa terima bayaran, atau berapa sering 
saya 
> > harus tekor dari kocek sendiri bahkan untuk melakukan sesuatu 
yang 
> > resmi di institusi saya. I'm no megalomaniac, man. Jadi, kita 
ketawa-
> > ketiwi aja baca igauan filsuf patah arang ini.
> > > 
> > > Anda benar, intelektual tulen mestinya makin berkiprah, 
semakin 
> > rendah hatilah dia dan semakin jaga mulut. Bukannya malah koar-
koar 
> > mendewakan diri sendiri dan sibuk mencari cacat orang lain. 
> > > 
> > > manneke
> > > 
> > > 
> > > -----Original Message-----
> > > 
> > > > Date: Wed Jan 10 13:39:28 PST 2007
> > > > From: "Rahadian Permadi" <lubas77@>
> > > > Subject: [mediacare] Re: Just Checking: Apakah Indonesia 
> > Memiliki Philosopher?
> > > > To: [email protected]
> > > >
> > > > 
> > > > Manneke,
> > > > 
> > > > Mungkin ada baiknya diabaikan saja si pengidap 
skizowaria...eh 
> > maksud
> > > > saya skizomania. Tampaknya dia juga tidak mendapatkan 
tanggapan 
> > di
> > > > beberapa milis.
> > > > 
> > > > Kalau diskusinya sampai panas, misalnya membenturkan antara 
> > akademisi
> > > > dengan yang lainnya, maka akan diarahkan pada pertanyaan: 
apakah 
> > yang
> > > > sudah anda lakukan tanpa melibatkan institusi akademis anda? 
Saya
> > > > menangkap kesan arogan di sini. Seolah-olah banyak akademisi 
> > atau mereka
> > > > yang diserang hanya duduk dan diam di menara gading. Seingat 
> > saya Romo
> > > > Mangun, seorang intelektual sekaligus rohaniwan, tidak 
banyak 
> > pamer
> > > > ketika bekerja untuk kali Code dan Kedung Ombo. Begitu juga 
> > almarhum
> > > > Herbert Feith, ia tidak berkoar-koar menantang akademisi 
lain 
> > ketika
> > > > bekerja di Timor dan tempat lainnya. Sartre dan Bertrand 
Russell 
> > juga
> > > > tidak menyindir para dosen di negara lain ketika mocking 
> > tribunal untuk
> > > > perang Vietnam diprakarsai oleh mereka.
> > > > 
> > > > Sekarang malah lari ke topik budaya yang jelas-jelas katanya 
> > sendiri
> > > > sangat elusive. Filsuf indonesia? Wah mungkin cuma dia kali. 
> > Mungkin
> > > > perlu ditanya sama dia apakah indonebia itu bisa disebut 
filsuf?
> > > > Gagasannya orisinil dan cemerlang : )
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote:
> > > > >
> > > > > Miliser hypersex ini bikin ulah lagi. Masih dengan gayanya 
> > yang tak
> > > > bermutu itu. Memindahkan sebuah diskusi dari satu milis ke 
milis 
> > lain
> > > > (dengan memakai nama samaran yang berbeda-beda), lalu 
memotong-
> > motong
> > > > isi posting seseorang tanpa etika sama sekali, serta 
> > memanipulasinya
> > > > sedemikian rupa dengan tujuan disinformasi dan penyesatan 
orang 
> > banyak.
> > > > Ketika direspons, dia menghilang dengaan sikap yang sangat 
> > pengecut,
> > > > lalu loncat ke milis lain dan menebar racun di sana.
> > > > >
> > > > > Inilah manusia sok pintar tapi tak punya kejujuran ataupun 
> > integritas.
> > > > Budayawan/sosisolog palsu yang senantiasa asyik berkasak-
kusuk 
> > dan tidak
> > > > membawa manfaat apa-apa bagi orang lain di sekitarnya. Jika 
> > banyak
> > > > manusia Indonesia yang seperti ini, tak heranlah jika 
kondisi 
> > Indonesia
> > > > saat ini penuh dengan karut-marut pada stadium gawat.
> > > > >
> > > > > Untuk kesekian kalinya saya usulkan kepada Anda, jika 
berani 
> > berdikusi
> > > > serius tentang krisis budaya di Indonesia, dan jika ingin 
> > memindahkan
> > > > diskusi dari satu milis ke milis lain, cobalah menyertakan 
thread
> > > > lengkap dari awal, bukan cuma sepotong-sepotong yang 
disampaikan 
> > dengan
> > > > cara abusive untuk kepentingan diri sendiri. Jika tak berani 
> > melakukan
> > > > diskusi yang jujur dan terhormat, ya saya anggap saja Anda 
ini 
> > pengecut
> > > > ingusan yang tak tahu malu.
> > > > >
> > > > > Mari kita lihat, adakah miliser mediacare yang akan 
menyambut
> > > > postingan Anda ini dengan serius. Setelah itu, kita akan 
lihat 
> > juga cara
> > > > dan gaya Anda dalam menanggapinya. barang busuk tetaplah 
busuk,
> > > > sekalipun dibungkus dengan kata-kata muluk sekeren apapun.
> > > > >
> > > > > May CULTURE be with you.
> > > > >
> > > > > manneke
> > > > > PS: By the way, untuk pertanyaan Anda: "Apakah Indonesia 
> > memiliki
> > > > philosopher?" Jawabannya, "Ya. Dan cuma ada satu. Sayangnya, 
dia
> > > > philosopher gadungan yang megaloman dan skizofrenik. 
Namanya? 
> > kadang
> > > > (Hyper)Sekspeare kadang Das Kopiupilan." Cilakalah bangsa 
ini...
> > > > >
> > > > >
> > > > > -----Original Message-----
> > > > >
> > > > > > Date: Tue Jan 09 06:52:06 PST 2007
> > > > > > From: "Well... I am SeksPeare" well_seks_peare@
> > > > > > Subject: [mediacare] Just Checking: Apakah Indonesia 
Memiliki
> > > > Philosopher?
> > > > > > To: [email protected]
> > > > > >
> > > > > > Pertanyaan ini mungkin ada kaitannya dgn thread *Daya 
Fikir* 
> > (di
> > > > milis lain)
> > > > > >
> > > > > > Dijelaskan bahwa ada kultur (ilmiah, institusi) dan ada
> > > > &#733;kultur&#733; (non ilmiah, non institusi)
> > > > > > Dalam penjelasan tersebut, dikatakan bahwa Gunawan 
Muhammad, 
> > adalah
> > > > budayawan (pokok pemikirannya, tidak bersandar pada 
pendekatan -
> > so
> > > > called- ilahiah, tdk sama halnya dgn Aa Gym, yg ditempatkan 
> > sebagai
> > > > budayawan dalam tanda kutip)...
> > > > > >
> > > > > > Pertanyaan saya adalah:
> > > > > > 1. Mengapa tdk menggunakan saja terminologi 
*Philisopher* 
> > terhadap
> > > > Gunawan Muhammad?... Mengapa harus ada dikotomi budayawan 
*dalam 
> > tanda
> > > > kutip* dan *tanpa tanda kutip*? (Intellectual Exercise?)
> > > > > >
> > > > > > Quote 01: Ia bisa saja seorang akademisi, tetapi tak 
harus 
> > selalu
> > > > demikian. Goenawan Mohamad bukan akademisi, tetapi jelas 
> > budayawan. (End
> > > > of quote/Manneke Budiman/FPK)
> > > > > >
> > > > > > Quote 02: lalu bagaimana dengan AA Gym? Dalam 
> > pengertian "budayawan"
> > > > superlonggar di awal kuliah saya, ia bisa saja diberi 
> > label "budayawan"
> > > > (seperti yang dilakukan Kopiracun). Namun, dari sudut 
pandang 
> > ilmu
> > > > budaya, AA Gym bukan budayawan (tanpa tanda kutip).
> > > > > >
> > > > > > 2. Masuk dalam pertanyaan selanjutnya: WHAT IS CULTURE?
> > > > > >
> > > > > > Bagi yg ogah (malas?) buka referensi, saya bermurah hati 
> > untuk
> > > > membukakan anda, sbb: (tolong perhatikan highlight)
> > > > > > ---------------------------------------------
> > > > > > Wikipedia:
> > > > > > Culture (from the Latin cultura stemming from colere, 
> > meaning "to
> > > > cultivate"), generally refers to patterns of human activity 
and 
> > the
> > > > symbolic structures that give such activity significance. 
> > Different
> > > > definitions of "culture" reflect different theretical bases 
for
> > > > understanding, or criteria for evaluating, human activity.
> > > > > >
> > > > > > Anthropologists most commonly use the term "culture" to 
> > refer to the
> > > > universal human capacity to classify, codify and communicate 
> > their
> > > > experiences symbolically. This capacity has long been taken 
as a
> > > > defining feature of the humans. However, primatologists such 
as 
> > Jane
> > > > Goodall have identified aspects of culture among human's 
closest
> > > > relatives in the animal kingdom.[1] it can be also said 
that " 
> > it is the
> > > > way people live in accordance to beliefs, language, history, 
or 
> > the way
> > > > they dress. "
> > > > > > ----------------------------------------------
> > > > > > Apakah ada dikotomi pembedaan budayawan tanda kutip dan 
> > budayawan
> > > > dengan tanda kutip?...
> > > > > >
> > > > > > So, again: WHAT IS CULTURE?...
> > > > > > Pertanyaan ini saya lempar ke rekan se *warung kopi* 
sebagai 
> > bahan
> > > > kajian untuk *warung kopi institute*. Dgn meminta penjelasan 
> > murni hasil
> > > > olah fikir anda sendiri.
> > > > > >
> > > > > > Kopitalistic Verses:
> > > > > > 1. Budaya/Kultur adalah interaksi manusia dgn alam, 
manusia 
> > dgn
> > > > manusia dan manusia dgn dirinya. (SeksPeare/Apakabar/2005)
> > > > > > 1-a. Dalam interaksi itu menghasilkan result berupa 
faith, 
> > believe
> > > > system, ataupun menghasilkan filsafat.
> > > > > >
> > > > > > 2. Budaya (Kultur) adalah terminologi yg dihasilkan oleh 
> > pengkajian
> > > > akademik (symbolic) untuk menjelaskan sebuah -atau beberapa- 
> > dimensi
> > > > (mistis-fisis/realistis) yg belum berhasil terumuskan 
melalui 
> > penjelasan
> > > > hard-science.
> > > > > >
> > > > > > Your OWN Version:
> > > > > > 1............................................
> > > > > > 2............................................
> > > > > > dst.
> > > > > >
> > > > > > Dalam sebuah stadion sepak bola, penonton menilai dan 
> > menikmati
> > > > hasil aktifitas dari permainan para atlitnya, bukan semata 
> > cheerleader
> > > > maupun komentatornya. Cheerleader dan komentator hanya 
berstatus:
> > > > Penggembira.
> > > > > >
> > > > > > Salam Intellectual Exercise
> > > > > >
> > > > > > Kopitalisme
> > > > > > http://kopitalisme.tk
> > > > > > http://kopitalisme.blogspot.com
> > > > > > Rekan rekan sedang mengumpulkan berbagai artikel yg 
> > membicarakan
> > > > kemandulan dan impotensi kaum intelektual kita.
> > > > >
> > > > 
> > > > 
> > > >
> > >
> > 
> >
>


Kirim email ke