Berprestasi Dengan Barang Bekas?
  Oleh: Sinang Bulawan
   
  Hari ini mobil itu untuk kedua kalinya terlihat diparkir di pinggir jalan. 
  Bentuknya sangat menawan. Ketika saya lihat, bagian belakang mobil MPV ini 
  seperti Nissan X-Trail. Baik design body mobil maupun lampunya. Tapi bila 
  dibandingkan antara keduanya, design mobil ini lebih gaya dan modern. Lebih 
  modis. Cocoklah bagi kalangan menegah ke atas. Mungkin harganya mahal. 
  Sewaktu mobil saya berada pada posisi tepat di depannya. Saya perhatikan 
  dengan seksama, ingin tahu merk mobil ini. Di bagian belakang kanan 
  tertulis, DAEWOO. Sebelah kirinya, TACOMA. Jadi ternyata mobil ! Daewoo 
  Tacoma. Buatan Korea. Saya memastikan. Tidak Salah.
  Tidak disangka, mobil Korea sudah sulit dibedakan dengan mobil Jepang. Itu 
  baru satu merk. Masih ada merk lain seperti Hyundai dan KIA. Sama. Semua 
  designnya sudah yahud, tidak diragukan. Pangsa pasar mereka bukan hanya di 
  Indonesia. Amerikapun dilibas. Di sana, di kota-kota besar reklame iklan 
  berbagai merk mobil Korea ada di mana-mana. Pusat penjualan dan suku cadang 
  lengkap. Setara dengan Toyota, Cheverolet, dan Crysler. Hebat, hebat sekali 
  bangsa Korea ini.
  Kalau cuma mobil sih belum apa-apa. Masih adakah yang lain? Masih ada yang 
  lain. Ingat Sa! msung? Itu adalah merk Korea. Merk populer untk HP. 
  Posisinya di pasar sama dengan Nokia buatan Swedia, Motorola buatan 
  Amerika, dan SonyErickson dari Jepang. Pangsa pasarnya mendunia, menduduki 
  rangking kedua setelah Nokia. Samsung juga terkenal untuk produk elektronik 
  mulai dari TV, kulkas, mesin cuci, kipas angin, dan komputer.
  Untuk elektronik selain Samsung masih ada LG. Iya enggak. LG juga sangat 
  terkenal untuk produk televisi dan AC. Belum yang lain-lainnya.
  Tidak hanya untuk mobil dan peralatan elektronik. Di bidang lain Korea 
  sudah menunjukkan bangsa b! erkelas dunia. Contohnya sepak bola. 
  Kesebelasan mereka yang dikenal sebagai Setan Merah, pernah masuk empat 
  besar dunia tahun 2001. Tempat pertandinganpun mereka tidak mau kalah. Di 
  final FIFA 2001 kemarin mereka tuan rumah bersama-sama Jepang.Mereka 
  pantang dikalahkan oleh negara matahari terbit.
  Di lapangan golf, tennis, bulutangkis, atlet-atlet Korea menunjukkan 
  kemampuan mereka. Kerja keras mereka terbukti. Musuh permainan bulutangkis 
  dunia, bagi Indonesia sekarang tidak hanya China, tetapi muncul kekuatan 
  baru. Korea Selatan.
  Semua keberhasilan Korea Selatan, tidak datang dengan sendiri begitu saja. 
  Dengan kerja keras. Hyundai mulai merakit dan memp! roduksi mobil tahun 
  1960an. Samsung tahun 1970an. Sudah lama, 30-40 tahun yang lalu. sekarang 
  masa memetik panen. Mereka kalah lebih dulu dari Jepang yang memulai tahun 
  1930an. Beda 30 tahun. Tetapi sekarang perbedaan tersebut tidak berbekas 
  lagi. Produk Korea Selatan sudah sekelas. Pemasaran sudah bersaing. Untuk 
  HP, Samsung sudah menang. Sepak bola mereka sudah di atas Jepang. Tinggal 
  mobil, tetapi ini hanya soal waktu.
  Ini semua bermula dari VISI. Hanya satu negara di dunia yang menetapkan 
  visi mereka. Negara lain tidak. Selama ini kita tahunya visi dan misi hanya 
  milik perusahaan-perusaha an saja. Visi dapat diartikan sebagai cita-cita 
  perusahaan yang harus ditanamkan ke dalam seluruh komponen perusahaan, 
  salah satunya karyawan. Lha kalau Korea Selatan lebih ekstrim. Negara 
  menetapkan VISI mereka yaitu "Ingin meng! alahkan bangsa Jepang dalam 
  segala hal di tahun 2000". Apakah tercapai? Lihat saja sendiri. Visi 
  tersebut sudah merasuki seluruh komponen Korea Selatan, terutama rakyatnya. 
  Mereka kesetanan, mereka menjadi maniak kerja, terobsesi dengan cita-cita 
  negara mereka. Dan, BERHASIL.
  Keberhasilan ini dimulai dari individu-individu yang memiliki keinginan 
  kuat memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Terciptalah produk-produk 
  handal hasil dari semangat kerja tinggi dan keinginan berprestasi. Kinerja 
  perusahaan terangkat dan maju mendunia. Kwalitas mutu dijadikan dasar 
  sebagai pedoman untuk menjadi World Class Company. Keberhasilan 
  perusahaan-perusaha an Korea Selatan di dunia memberikan multiflier effect 
  terhadap nama negara dan bangsa itu sendiri sehingga menjadi World Class 
  Country. Sejajar dengan Amerika, Inggris, Jerman, dan Jepang. M! ereka 
  sukses karena mereka berpikir, berbicara, berkerja mengenai masa depan dan 
  bagaimana caranya agar mereka dapat mewujudkannya. Mereka akan terus 
  memikirkan ke mana tujuan mereka dan bagaimana agar mereka sampai ke sana 
  secepat mungkin.
  Visi merupakan cita-cita yang ditulis, dibaca, dihapal, dihayati, 
  dilaksanakan, dan diukur. Dengan membangun kebiasaan yang berorientasi ke 
  masa depan berarti kita menciptakan sebuah visi jangka panjang tentang kita 
  sendiri, keluarga kita, perusahaan kita, dan negara kita. Kebiasaan 
  berpikir mengenai arah yang hendak dituju dan di mana harus mengakhiri, 
  akan membawa dampak besar terhadap kesuksesan kita. Semakin jelas kita 
  mengembangkan visi mengenai target beberapa tahun ke depan, semakin besar 
  kecenderungan kita mengambil langkah-langkah yang akan mengantarkan kita ke 
  sana dari hari ke hari.
   
  Bagaimana dengan Indonesia?
  Periode tahun 1980-1990an, Indonesia dianggap sebagai raksasa baru. The 
  Tiger in Asia. Kita semua merasakan itu. Negara aman dan tentram. Kehidupan 
  masyarakat cukup sejahtera. Ini karena Presiden Soeharto pada saat itu 
  sangat brilian membuat suatu visi jangka panjang. REPELITA. Rencana 
  Pembangunan Lima Tahun. Selama lima Repelita, beliau berhasil. Repelita 
  sama saja sebagai "blue print". Layaknya patron pada kain, yang harus 
  dilalui gunting. Ini bagi penjahit. Tapi begitulah adanya. Kita membuat 
  dulu rencana garis yang akan kita lalui. Baru kita berjalan mengikutinya.
  Dalam era tersebut, setiap saat rutin di TV kita melihat rapat-rapat 
  kabinet yang dipimpin Soeharto di Bina Graha. Semua dilaporkan, dimonitor, 
  dan dinilai kinerjanya. Program Keluarga Berencana berjalan, Program 
  Pendidikan 6 tahun berjalan, Pemberantasan Buta Huruf berjalan, Program 
  Pertanian berjalan, Program Transmigrasi berjalan, sektor industri 
  dihidupkan untuk kepentingan pertanian dan mengurangi pengangguran. 
  Sehingga pada tahun 1995 diharapkan negara kita lepas landas. Sayang 
  disayang, krisis ekonomi memporakporandakan semua cita-cita Soeharto. 
  Termasuk kita semua. Bukan tinggal landas yang dicapai tetapi industri 
  pesawat kita malah nyungsep. Bank-bank rubuh dan harus dimerger. BUMN 
  diprivatisir. Seluruh sendi perekonomian jadi lemah karena hantaman badai 
  krisis. Baru nyata kelemahan kita selama era Soeharto. Ekonomi dimonopoli 
  segelintir konglomerat yang kuat berkolusi dengan mantan presiden tersebut. 
  Ditambah lagi adanya kekuatan keluarga presiden yang mencampuri kekuasaan 
  dengan kepentingan bisnis.
  Tahun 1997 sebagai awal krisis, bisa dikatakan sampai sekarang belum 
  menunjukkan kepulihan. Di mana-mana terjadi pengangguran, kegiatan industri 
  satu persatu bukan berkembang malahan gulung tikar. Mulai dari pabrik 
  sepatu sampai tekstil. Kehidupan semakin sulit. Tidak hanya untuk keluarga 
  tetapi juga bagi perusahaan dan pemerintah.
  Di emperan Pasar Senen dan Lapangan Urip di Jatinegara, baju-baju bekas 
  sangat laris. Baju bekas impor dari Singapore, Taiwan, Jepang, dan Korea. 
  Ini menunjukkan sudah begitu rendah pendapatan ra! kyat kita. Tidak bisa 
  beli baju baru, bekas juga ndak apa-apa. Jangan heran di jalanan juga ada 
  bus-bus bekasan Jepang. Bus PPD dengan masih ada tulisan Jepang. Bila naik 
  KRL bisa juga dikenali ada gerbong-gerbong bekas Jepang. Bukan hanya 
  rakyat, perusahaanpun sudah mengalami kesulitan dana untuk investasi. Naik 
  pesawat?, apalagi. Sudah terbukti selain Garuda indonesia, maka sebagian 
  besar pesawat-pesawat yang dioperasikan perusahaan penerbangan swasta 
  adalah pesawat bekas. Umurnya sudah di atas 10 tahun. Jadi jangan heran 
  kalau ada pesawat yang jatuh karena kerusakan mesin. Ini semua belum 
  lengkap. Pernah juga kan mendengar atau membaca koran kalau pemerintah kita 
  dulu ada rencana membeli kapal-kapal perang bekas dari Jerman.
  Itulah kondisi negara kita sekarang ini. Hidup semakin sulit. Bahkan 
  baru-baru ini a! da rakyat yang terpaksa makan nasi aking, karena tidak 
  lagi sanggup beli beras.
  Apakah dengan keadaan seperti itu kita bisa berprestasi?
  Masihkah mau berkelit lagi? Bisa jadi ada yang mengatakan, "bukankah 
  prestasi negara tidak hanya bisa diukur dari kesejahteraan ekonomi, namun 
  bisa juga dari prestasi olah raga?" Baik, mari kita nilai. Bagaimana dengan 
  Asian Games di tahun 2006? Dari total pengumpulan medali terlihat jelas 
  kalau prestasi kita jauh di bawah Malaysia dan Singapore. Bagaimana dengan 
  prestasi Korea Selatan? Sudah pasti kita kalah.
  "Bung!, tolong dengar." Bukan hanya Korea Selatan, tetapi Vietnampun 
  sekarang semakin maju, tetapi mengapa negara kita justru semakin mundur?
  Bangunlah Indonesiaku. Mari kita goreskan visi kita lagi. Mari kita 
  tuliskan keinginan-keinginan kita ke depan bersama-sama. Kalau tidak ada 
  yang memimpin, mulailah dari diri masing-masing. Tulislah 
  keinginan-keinginan mu untuk waktu ke depan, baik untuk pencapaian 
  cita-citamu sendiri maupun untuk kepentingan bangsa dan negara. 
  Bangsa dan Negara kita tercinta. 
  Indonesia Raya.
  sinangbulawan@ yahoo,com/ A>
   
   
  Ana Gustini K
  PT. Tempo Inti Media

 
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get 
things done faster.

Kirim email ke