[HALAMAN GANJIL] Memulai dan Mengakhiri dengan Buku ---------------------------------- >> Anwar Holid
Aku mengakhiri tahun 2006 dengan manis: menjadi fasilitator kelas Seuramo Teumuleh yang amat mengesankan dan dilimpahi berbagai kejadian mengasyikkan, termasuk berkenalan dengan orang-orang mengagumkan, ramah, dan menyenangkan. Seuramo Teumuleh adalah program baca-tulis bagi kalangan umum dan pelajar di Banda Aceh, diadakan Baraka Perbukuan, didukung BRR NAD-Nias dan Katahati Institute. Aku bahkan berani menganggap pengalaman ini sama menggetarkannya sebagaimana dulu aku diterima kerja di sebuah penerbit yang benar-benar aku harapkan, digaji jutaan, atau menemukan CD Nusrat Fateh Ali Khan dan Youssou N'Dour. Setiap kali orang bertanya tentang perjalananku ke Aceh, aku selalu menjawab dengan semangat: 'Sangat mengesankan!' Begitu kembali ke rumah kami yang berdiri di antara kepadatan rumah lain, hanya dipisahkan oleh gang atau tembok dan pagar, aku mendapati sejumlah hadiah untuk memasuki tahun 2007: kalender, kartu pos, dan tentu saja buku-buku dari para rekanan yang baik dan ramah. Mereka di antaranya berasal dari penerbit, koran, perpustakaan, penulis, dan lembaga perbukuan lain. Dalam hati aku yakin akan mengawali tahun 2007 ini dengan optimisme, sama ketika aku dulu memulai tahun 2006. Aku berdoa dan berharap bisa meraih kesuksesan-kesuksesan lebih pada tahun ini. Persis ketika itu juga aku takjub oleh keselamatan dan berkah yang aku alami. Selain komputer kantor yang aku gunakan tiba-tiba crash dan laptop yang aku pakai terserang Brontok, rasanya aku tidak mengalami kemalangan lain. Kemalangan terakhir terkait virus Brontok itu ialah aku gagal menyelesaikan order dari Baiquni untuk menyunting naskah tentang Hasan Nasrullah. Aku senantiasa heran dengan kebaikan dan keselamatan yang aku terima, lepas bahwa aku memang senantiasa berdoa untuk itu. Persisnya ialah aku sampai detik ini dikecualikan sebagai orang yang mengalami kecelakaan fatal misalnya pesawat yang aku tumpangi lenyap tanpa bekas, kapal laut karam entah di mana, atau terkurung dalam sebuah kebakaran mengerikan. Aku selalu hanya bisa bersyukur atas keselamatan itu, tak lebih dan tak kurang. Tapi pada Desember 2006 kejadian menyebalkan juga berlangsung di dunia perbukuan Bandung, yaitu pembubaran paksa diskusi filsafat sosial dan ekonomi politik 'Gerakan Marxist Internasional Kontemporer, Perkembangan dan Masa Depan Gerakan Marxist di Dunia, dan Sekilas Tantang Organisasi dan Gerakan Buruh di Kanada,' pada Selasa, 14 Desember 2006. Aku tahu kabar ini dari Fenfen, waktu aku sengaja menelepon dia malam-malam dari Banda Aceh, setelah itu muncul beritanya di milis, kemudian majalah Tempo. Aku sempat membicarakan hal ini dengan teman-teman di Seuramo Teumuleh. Mereka bilang agar ormas yang membubarkan diskusi itu---namanya Permak---digugat ke pengadilan, misalnya lewat class action. Harapannya, bila menang, biar mereka kapok, jera, merasa bersalah, bahwa tindakan semena-mena itu selain norak juga mengganggu orang lain. Waktu pertama kali dengar kejadian itu, aku spontan bilang, 'Apa sih maksudnya mereka berbuat itu? Bukannya ini jaman reformasi dan momen anti-PKI atau komunisme juga sudah basi?' Aku membayangkan alangkah jijik dan hina bila aku sampai pernah jadi bagian ormas seperti itu. Amit-amit. Setelah kejadian di Ultimus itu, di banyak perempatan di Bandung muncul spanduk slogan antikomunisme ditulisi Pilox amatiran. Salah satunya di mulut Geger Kalong Girang, jalan ke arah pesantren Daarut Tauhid. Salah satu eksponen Permak ternyata ormas Islam, dan itu membuat aku bertanya-tanya Islam seperti apa yang mereka praktikkan bila sampai gagal toleran terhadap perbedaan dan kehendak orang lain. Mengkhawatirkan. Jadilah salah satu prioritasku begitu sampai di Bandung adalah mampir ke Ultimus, bertemu dengan para pengelolalnya. Poin paling menjengkelkan dan menyedihkandari pembubaran paksa diskusi itu ialah kerugian yang diderita Ultimus. Akibat kerusuhan itu Ultimus tutup kira-kira sepuluh hari. Kerugian materi yang mereka derita banyak sekali, apalagi bila mengingat bahwa mereka adalah toko kecil yang tengah berusaha keras bertahan dan mengembangkan bisnis buku. Buku-buku mereka di malam 14 Desember itu banyak yang dicuri oleh anggota Permak, termasuk kaos (t-shirt). Prakiraan kerugian uang yang mereka derita ialah enam jutaan. Dari sisi imateri, reputasi Ultimus tercemar dan jatuh, membuat orang takut dan enggan ke sana. Boleh dibilang kejadian itu merupakan pencemaran nama baik. Pada hari pertama mereka buka setelah terpaksa tutup, toko sepi sekali, nggak ada calon pembeli. Aku kasihan sekali. Aku bilang pada Bilven, salah seorang pengelolanya, 'Kalian ini kerja susah-payah bikin toko buku, nggak dibantu pemerintah sama sekali, eh, baru mau berkembang sedikit sudah digempur oleh ormas dengan alasan norak begitu.' Dia hanya ketawa-ketawa. 'Gimana rasanya toko libur sepuluh harian?' lanjutku. 'Yah... aku bilang ke teman-teman nikmati saja seperti liburan akhir tahun,' jawab dia tertawa-tawa. Untungnya teman-teman Ultimus tetap semangat setelah kejadian itu. Yang aku khawatirkan ialah dampaknya bagi industri perbukuan, terutama justru melemahkan peran toko buku alternatif sebagai tempat yang asyik buat dikunjungi. Lainnya ialah masyarakat perbukuan jadi waswas bila gerakan sweeping buku-buku 'Kiri' muncul lagi. Ajaib bahwa anak-anak muda yang bersemangat bekerja keras dan mengisi aktivitas dengan bermanfaat itu malah digebuk oleh sesama pemuda yang intoleran. Entah perasaan seperti apa yang muncul dalam jiwa eksponen Permak itu; apa mereka bangga, puas, merasa jadi pahlawan pembela bangsa dan negara? Di akhir Desember aku mengirim sejumlah buku bekas dan baru ke teman-teman di Asoe Kaya, Banda Aceh. Buku itu tadinya ingin aku titipkan di Potluck, tapi karena lama nggak sempat aku urus, jadi terbengkalai di kantor. Puluhan buku itu aku tambah dengan contoh-contoh media alternatif dan free magazine. Harapanku teman-teman Asoe Kaya bisa memperoleh semangat dari sana, jangan sampai mereka kecewa karena yang aku kirim hanya 'itu' termasuk media-media alternatif yang hanya berupa foto kopian. Maksudku ialah agar mereka sama-sama bersemangat untuk membuat hal serupa. Aku betul-betul merasa lega waktu mengirimnya, berharap bisa memberi sesuatu yang bermanfaat. Waktu membawa paket itu, aku merasa heroik. Aku berharap perasaan itu masih wajar. Setelah kasus Ultimus cukup reda, muncul toko buku baru di Bandung, namanya Alebene. Kali ini di Flamboyant Center, dekat kolam renang Karang Setra, kolam tempat aku belajar renang selama SD sampai SMP (dan gagal-gagal saja). Aku nggak bisa datang ke pembukaan toko buku itu pada 06 Januari itu karena berbagai alasan, padahal awalnya sudah berencana bakal datang. Segala yang berhubungan dengan buku tampaknya selalu membuat aku antusias. Baru pada 08/01, sehabis pertemuan Habitat Kelompok Kina di Cibodas, aku dan Lalang ke Alebene. Wahh... ternyata tempatnya enak juga. Luas dan rapi. Hanya saja di beberapa ruang lantainya sudah pada retak. Aku tadinya menyangka itu adalah tipikal toko buku komunitas, yang punya satu ruang, ... ternyata kelas kakap. Gimana bukan? Tag Alebene itu Showroom Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Alebene berkonsep 'Achiever Center', one-stop learning center. Maka di sini ada tempat kursus, play group, play house (apaan nih?), jungle gym, dan cafe. Waktu kelalang-keliling, Ilalang senang banget ada di situ. Tapi sayang, dia sudah nggak boleh belanja buku karena beberapa minggu sebelumnya sudah diberi hadiah semesteran cukup banyak. Tapi toh akhirnya dia merajuk juga. Kata dia, 'Ayah mau beli buku nggak?' Kataku, 'Nggak. Lalang mau ya?' Dia jawab, 'Mau sih, tapi kalau ayah nggak beli, Lalang juga nggak.' Memang begitu cara dia meminta. Setelah pilih-pilih, dia minta dibelikan buku stiker dinosaurus. Untung toko buku baru, jadi didiskon 20 %. Ruang di ALebene dipilah per penerbit. Menurutku ini bakal menyulitkan pembeli, karena mereka bisa ketemu buku sejenis berkali-kali di ruang berlainan. Yang sudah hadir di situ seingatku adalah penerbit GPU, Kanisius, Elex, Andi, Mizan, Gramedia Majalah, Gagas Media, MQS, Lawang Buku Distributor, serta ruang buku dan alat sekolah dan toko perhiasan. Sambil lihat-lihat, toko itu lama-lama dimasuki anak-anak yang dibawa orangtuanya. Barangkali habis renang di Karang Setra atau sekalian belanja di supermarket sebelahnya. Sambil bayar buku buat Lalang, aku tanya ke kasir, 'Alebene itu apa artinya?' Dia jawab sambil memberi kembalian, 'Sayap-sayap kebaikan.' Sebenarnya, kira-kira sampai pertengahan 2006 lalu di dekat Flamboyant Center, ada juga konter toko buku di kompleks MM The Nice Shop Setiabudhi. Tapi karena rugi dan tempat itu ditutup, toko buku itu juga lenyap entah ke mana. Pembukaan Alebene itu mungkin jadi awal yang bisa menyemangati industri perbukuan di Bandung. Tiga hari kemudian aku janjian dengan Yohan untuk menjual buku-buku warisan paman Fenfen di Reading Lights, Gandok. Kebanyakan buku resep makanan Barat yang dicetak mewah. Itu sisa buku yang dulu belum tersortir ketika ada seorang desainer eksterior memborong buku taman dan tanaman. Kami cuma berharap buku itu 'masih berguna', artinya masih ada yang mau beli lagi, dan buat kami ada manfaatnya. Buku itu tak pernah kami baca, hanya dilihat-lihat buat membayangkan nikmat masakan yang tersaji. Hasil penjualan buku itu inginnya aku gunakan buat beli diapers. He he he... jual buku dapat diapers. Waktu pulang, aku senang karena buku-buku di rumah lebih rapi dan terseleksi. Lain waktu aku harus menyortir lagi buku-buku atau bacaan yang wajar aku singkirkan dari jejeran rak. Tapi, setiap kali aku lihat-lihat jajaran buku sambil menggendong Shanti sampai tertidur, aku merasa sejumlah buku pergi dari tempatnya. Di antara buku yang 'hilang' itu antara lain Angsa-Angsa Liar (Jung Chang) dan A Beautiful Mind (Sylvia Nasar), dua buku yang amat mengesankan hadiah GPU. Angsa-Angsa Liar sudah sering sekali dipinjam teman-teman, tapi A Beautiful Mind jarang. Nah... ke mana dua buku itu kini pergi? Aku berharap mampir ke tempat yang baik. Memang buku yang dipinjam selalu kami catat; tapi toh kadang itu kurang berfungsi sebagai pengingat agar dikembalikan tepat waktu. Di Reading Lights pula aku 'menemukan' buku babon tentang kritik sastra, yaitu Principles of Literary Criticism (I.A. Richards). Buku itu terbit pada 1924 oleh Routledge & Kegan Paul, terus dicetak ulang, hingga edisi yang aku pegang ini masih diterbitkan kembali oleh Routledge Classics. Ah, gila, ada buku dan penerbit dengan perjalanan sepanjang itu, terus beriringan. Alangkah langgeng persahabatan mereka. Aku membacai hadiah buku dengan harapan mendapat kejutan dan hal mengesankan, termasuk 'Kepompong' (Indah Darmastuti), terbitan Jalasutra yang aku sunting. Aku teringat lagi pada kesan humoris dalam roman berselimut dunia arsitektur dan keindahan para pecinta alam itu. 'Gelang Giok Naga' (Leny Helena) terbitan Qanita aku habiskan dengan memuaskan juga. Aku hanya senyam-senyum dan geleng-geleng oleh empat endorsement untuk debut itu. Rasanya terlalu bombastik. Salah satunya dari Andrea Hirata, 'Sebuah novel yang memikat dalam segala aspeknya.' Tipikal endorsement, klise. Leny Helena berkisah tentang empat perempuan Cina yang ditautkan oleh legenda naga dan gelang gioknya. Tautan itu konsisten dia jaga, hasilnya juga menarik, walau kadang aku merasa ada sejumlah hal drastik muncul, dengan cerita lompat terlalu jauh. Dibandingkan 'Kepompong' yang sederhana, 'Gelang Giok Naga' sarat oleh muatan tema. Novel itu cukup ambisius, di dalamnya ada tema kesetaraan gender, intrik politik dan kekuasaan di zaman Dinasti Ching, kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia, akhirnya konflik identitas, Reformasi 1998 dan kisah cinta lintas etnis. Leny Helena cukup luwes juga menulis; wajar bila naskah ini awalnya memenangi sayembara cerita bersambung Femina. Selama membacanya, aku berandai-andai mungkin menarik bila novel ini difilmkan. Konflik tentang identitas di sana juga tergali cukup banyak. GPU memberi aku empat buku, termasuk naskah print proof The Historian (Elizabeth Kostova) agar aku bisa membaca lebih awal atau merespons lebih panjang. Aku sempat menulis tentang The Historian untuk Matabaca, meski belum dipublikasi. Sekarang naskah proof itu dibaca Fenfen, sementara aku memilih 'Harga Sebuah Impian' (Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Bud Gardner). Itu adalah terjemahan dari Chicken Soup for the Writer's Soul, salah satu dari lebih dari 105 judul seri Chicken Soup for the Soul yang ditujukan khususnya bagi mereka yang terlibat atau tertarik pada dunia tulis menulis. Sebenarnya, melampaui dunia kepenulisan itu ada 'inspirasi' yang diharapkan bisa membuat setiap pembaca semangat, apa pun latar belakang mereka. Sering kita menerima spam inspirasional entah dari siapa, dan kalau momennya tepat kisah seperti itu selalu mengesankan. Terbayang, andai 'Harga Sebuah Impian' bisa aku bagi isinya pada teman-teman ketika masih di Banda Aceh, waaah... tentu kami akan lebih semangat lagi. Tentu karena aku berkecimpung di dunia penulisan/penerbitan, buku tentang penulisan ternyata cukup banyak, meski sejauh ini pangsa pasarnya kecil. Buku tentang penulisan lain hadiah GPU ialah Be A Writer, Be A Celebrity! karya Andrei Aksana. Waah, dia MEMANG penulis selebritis. Ini buku motivasi dan tips tentang menulis novel laris. Mirip 'pengantar penerbitan', termasuk cara memoles draft, membuat editor tertarik pada naskah, fungsi editor (tampaknya dia berhasil bekerja sama dengan editor), menceritakan yang sesungguhnya terjadi di dalam dapur penerbitan, bagaimana berstrategi menerbitkan, dan seterusnya. Buku itu sangat bagus buat para penulis pemula. Semua hal mendasar tentang penulisan dan penerbitan dia bahas; cara membahasnya singkat dan penyampaiannya mirip poin per poin. Nilai lebih: buku didesain dengan sangat bagus, termasuk pilihan kertas mewah. Di masa ketika novel pop terbit seperti hujan deras, tampaknya buku itu bisa membuka rahasia bagaimana melahirkannya. Yang menurutku menarik, meski Andrei Aksana dikenal sebagai novelis pop, dia sering mengutip penulis serius, seperti H.B. Jassin dan Albert Camus. Buku ke-4 ialah 'Pandji Wisaksana: Mata Hati Sang Pioneer Indonesia.' Ternyata, itu biografi orang yang ada di balik kesuksesan merek 'Pioneer' dan Lions Club Indonesia, sebuah cabang dari lembaga filantropik terbesar di dunia, Lions Clubs International. Buku itu ditulis sederhana; tiap bab diawali informasi sesuai topik, kemudian diakhiri tanya jawab; sisanya berisi foto. Waktu pertama kali membuka buku itu, aku tertegun oleh sebuah sabda yang ditulis di sayap buku itu, ditaruh tepat di bawah foto Sang 'Pioneer': Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah dengan cuma-cuma (Mat 10:8). Persis. Betapa banyak yang aku dapat cuma-cuma, termasuk buku, kebaikan, berkah, keselamatan, dan segala rupa lainnya? Tentu saja itu melawan jargon 'no one rides for free.' Memang pada akhirnya segala sesuatu berinteraksi, saling memberi, merespons, menanti, dan memulai. Mengakhiri Desember 06 dan memasuki Januari 07 ini membuat aku semangat. Aku punya motif, keinginan, sarana, dan diberkahi kemampuan tertentu. Aku teringat ucapan Ruly tentang pentingnya meraih sukses-sukses kecil, sebelum akhirnya wajar berusaha tentang sukses lebih besar. Di antara kesuksesan itu selalu ada kerikil, ujian, kegagalan, kehilangan, termasuk yang sebenarnya di luar tanggung jawab kita, tapi kadang-kadang harus diterima. Itulah hidup. Ia menyeluruh, berisi semua; jadi kita pun harus mengalami yang memang mesti terjadi.[]15/01/07 Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 | Telepon: (022) 2037348 | HP: 08156-140621 | Email: [EMAIL PROTECTED] Never underestimate people. They do desire the cut of truth. Jangan meremehkan orang. Mereka sungguh ingin kebenaran sejati. © Natalie Goldberg ---------------------------------------------------------------------- Esai, resensi, artikel, dan lebih banyak tulisan. Kunjungi dan dukung blog sederhana ini: http://halamanganjil.blogspot.com ____________________________________________________________________________________ Cheap talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates. http://voice.yahoo.com
