Wah..wah..hebat juga ya sampai anda tahu bahwa berita itu sudah diralat di
acara yang ada sebutkan itu. Sayangnya, anda langsung memotong imel2 terdahulu.
Sehingga orang mungkin tidak begitu tahu kronologinya seperti apa. Jadi agar
tidak ahistoris, saya sertakan lagi ya kronologi yang banyak dikomentari itu di
bawah tulisan anda.
Jika melihat reaksi anda, sepertinya anda salah satu yang disebut di
kronologi sebagai orang-orang yang langsung menghilang setelah ditayangkan
berita bohong itu deh. kalau anda setuju berita itu diralat, kecil sekali
kemungkinanya kalau anda siane. karena siane sendiri kan sudah bilang tidak
bersedia meralat kesalahan dengan dalih akan menjatuhkan kredibilitas globaltv.
Kalau anda yadi, sepertinya juga sangat kecil. karena jika melihat gaya tulisan
anda sepertinya anda tidak pernah menjadi wartawan media cetak (wartawan media
cetak pasti bisa membedakan kata depan dengan kata keterangan). Jadi kalau
boleh saya simpulkan anda mungkin mebi, karena pengalaman anda jadi wartawan ya
baru di lativi kan?
Nah, jika anda bukan siane berarti kan bisa ditanya ke anda, apa betul atasan
anda tidak bersedia meralat kebohongan itu? Juga apakah betul kronologi itu
sesuai kejadian sesungguhnya di kantor anda?
Soal belum tentu semua suka mtv dibanding acara lain globaltv itu kan
berpulang ke penonton. karena memang tidak ada acara lain yang bisa dinikmati
selain mtv kok. Itu kan tebukti dari globaltv yang takut kehilangan mtv,
sehingga walaupun katanya merasa terhina dengan kata2 desta-vincent di mtv
bujang (kata desta globaltv itu tv nothing!) nyatanya masih terus memperpanjang
kontrak. Bahkan sekarang mtv berada di bawah manajemen global.
The point is you have to tell the truth as a journalist. Jika berani meralat
ya jangan diralat lagi sama keputusan atasan yang tidak mau meralat.
kristina_thely <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Lho, berita yang salah di Global Tv (penemuan Adam Air, red) bukannya
sudah di ralat hari itu juga di acara "Saksi Mata" yang tayang jam
23.50 WIB. Kalau ada yang bilang tivi enggak boleh salah, mungkin ada
benarnya. tapi amat tidak tepat pernyataan itu. Yang penting khan kita
harus berani meralat kesalahan tersebut. Dari sanalah kita akan
belajar agar tak terjadi hal yang sama dikemudian hari.
Situasi dilapangan yang simpang siur saat hilangnya Adam Air, tentunya
membuat margin kesalahan berkecenderungan untuk terjadi. Belum tentu
semua orang seperti Mike Rumapar, yang lebih suka MTV ketimbang acara
lainnya.
The point is, noone is innocent. Dan berani meralat.
Reno Raines <rain_mustfall@ yahoo.com> wrote:
> Dear miliser,
> Saya tidak mencoba menilai siapa yang salah dalam
> kasus diangkatnya berita "bodoh" "penemuan" bangkai
> pesawat Adam Air di globaltv 4 januari tersebut.
> Yang saya rangkum dari beberapa cerita rekan2
> globaltv, "kebodohan" itu memang ternyata lebih
> diakibatkan kebijakan redaksi globaltv &
> miskoordinasi antarpimpinan redaksi.
>
> Dimulai saat news globaltv menerima laporan dari
> koresponden manado effendi labenjang tentang
> pernyataan pejabat lokal mengenai "....ditemukan
> pesawat adam air di sulawesi utara". Mendapat hal
> ini, produser eksekutif Yadi Hendriana langsung
> meminta para produser yang bertugas segera membuat
> breaking news.
>
> Beberapa produser mencoba menghubungi effendi yang
> dijawab belum jelas ditemukan di mana dan dia merasa
> belum siap memberitakan, karena informasi itu
> didapatkanya dari stringernya. Sehingga kemudian
> beberapa pihak yang dianggap lebih tahu soal itu
> dihubungi, seperti Tim SAR, yang dijawab memang
> bangkai itu belum ditemukan hingga saat itu. Karena
> kepastian masih di awang-awang sejumlah produser
> angkat tangan dan tidak berani menayangkan.
>
> Namun yadi tetap pada keputusannya bahwa berita
> itu harus ditayangkan karena belum ada media lain
> yang tahu dan jika belum ada kepastian, isu itu yang
> akan diangkat. Maka para produser yang harus tunduk
> pada perintah atasan akhirnya dengan terpaksa
> menayangkan kesalahan yang sebenarnya telah
> diketahui itu pada Kilas Global, sekitar pukul
> 13.30.
>
> Berita itu ditayangkan dengan mengandalkan
> wawancara per telepon dengan effendi, yang tentu
> saja mengakibatkan saat ditanya gelagapan, yang
> intinya "...ditemukan pesawatdi sulawesi utara".
> Belakangan baru diketahui bahwa stringer effendi
> salah mendengar informasi, karena ternyata ada "1
> kata" dari pejabat lokal yang mengabarkan penemuan
> itu yang terlewat olehnya, yaitu kata "JIKA".
> Sehingga kira-kira informasi itu berbunyi..." Jika
> pesawat itu ditemukan di sulawesi utara".
>
> Di sisi lain, ternyata tayangan berita ini memberi
> "berkah" bagi globaltv karena ditonton oleh banyak
> orang (mungkin tayangan ini ratingnya nanti di atas
> rata2 program di globaltv..he. .he..). Hal ini
> terbukti dengan banyaknya telepon yang masuk ke
> redaksi menanyakan secara persis lokasi penemuan
> bangkai pesawat itu. Tentu saja resepsionis menjadi
> bingung, sementara awak redaksi tidak ada yang
> berani menjawab karena telah menyadari kesalahan
> informasi itu.
>
> Yadi yang memerintahkan penayangan berita itu
> malah tidak berani menjawab dan menolak diwawancara
> saat Radio Elshinta mencoba mengkonfirmasi info itu.
> Bahkan hingga beberapa hari sesudahnya ia tidak
> pernah mengaktifkan HP. Sikap bungkam yadi ini juga
> diikuti dua pimpinan news lain, Pemred Siane
> Indriani & wapemred Mebi Prabowo. Mereka langsung
> menghilang pada 5 januari & baru datang sore hari.
> Hari itu mereka hanya memberi instruksi melalui
> telepon.
>
> Karena tidak ada koordinasi ataupun instruksi
> lebih lanjut untuk meralat ataupun minta maaf, pada
> tayangan saksi mata 4 januari produser yang bertugas
> berinisiatif meralat. Anehnya, pada keesokan harinya
> siane datang ke redaksi sore hari dan mengajak rapat
> awaknya. Di rapat itu, siane justru mengatakan
> globaltv tidak akan meralat atau minta maaf karena
> akan "MENJATUHKAN KREDIBILITAS" .
>
> Dari kronologi ini sebenarnya semua dapat menilai
> bagaimana bentuk penerjemahan globaltv terhadap
> etika jurnalistik. Anda yang menilai, apakah berita
> itu bohong, kesalahan informasi, kebodohan, atau
> cari sensasi. Lalu, apakah koresponden itu patut
> juga untuk disalahkan?
>
>
>
> Reno Raines <rain_mustfall@ yahoo.com> wrote:
> Sanksi sebenarnya akan lebih tepat
> dialamatkan kepada pemred selaku
> penanggung jawab divisi news. Di media manapun,
> pemred adalah pihak
> yang harus siap pasang badan jika ada penyimpangan.
> Jika dia tidak
> mau tanggung jawab tentu sanksi harus diterapkan
> pada wapemred atau
> di bawahnya. Hal itu akan lebih bijak dilakukan
> kalau memang
> management globaltv tidak pilih kasih dalam
> menerapkan peraturan
> perusahaan.
>
> Namun yang lebih tepat lagi kalau yang membuat
> kebijakan untuk
> memutuskan menayangkan berita itu diberikan sanksi.
> Minimal kalau
> dia masih memiliki rasa malu lebih baik mengundurkan
> diri. Itu jauh
> lebih baik dibandingkan globaltv hanya menyalahkan
> koresponden,
> sementara penentu kebijakannya malah memecat orang
> yang hidupnya
> bergantung dari kiriman berita ke pusat.
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, brigade negra
> <redhawk_alpha@ ...>
> wrote:
> >
> > susah memang kalo menilai suatu berita dari sisi
> rating dan tidak
> mengindahkan etika jurnalistik maupun upaya untuk
> triple cross check
> suatu informasi,.. . seharusnya reporter/kontibutor
> Global TV di
> makassar diberi sangsi karena bisa dianggap
> melakukan kebohongan
> publik,.. tidakkah kontributor ini berpikir bahwa
> yang sedang
> ditulisnya adalah duka keluarga korban dan nyawa
> ratusan orang?
> kenapa dalam hal-hal seperti ini sang kontributor
> yang hebat ini
> tidak mau belajar dari kasus berita bohong
> sebelumnya yang
> mengatakan bahwa pesawat Adam Air telah ditemukan di
> PolMan? kenapa
> tidak berupaya berhati-hati dalam pemberitaan suatu
> peristiwa yang
> menyangkut nyawa orang banyak?
> > menurut saya seharusnya manajemen Global TV
> memberikan sangsi
> kepada sang kontributor hebat ini, ...
> >
> >
> >
> >
> > [EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Setelah sebelumnya pemerintah salah memberi
> informasi
> soal penemuan pesawat Adam Air, media malah menambah
> ruwet masalah.
> Globaltv merekayasa berita penemuan pesawat itu,
> yang katanya ada di
> sulawesi utara lewat breaking news kamis, 4 Januari
> 2007, sekitar
> jam 12.00 WIB.
> >
> > Ironis rasanya kalau berita yang belum pasti sudah
> ditayangkan
> melalui breaking news. Apalagi sampai sekarang
> globaltv belum
> meralat juga berita itu.
> >
> > Saya sampai merasa bersalah saat meng-SMS rekan
> saya yang
> kerabatnya menjadi korban untuk melihat berita itu.
> Karena keluarga
> teman saya itu sempat berharap menemukan sedikit
> titik terang dan
> mencoba menghubungi globaltv.
> >
> > Nyatanya saat ditelepon globaltv tidak menjawab
> secara jelas
> dimana pesawat ditemukan. Saat teman saya menelepon
> ke lanud makasar
> akhirnya dijawa bahwa berita di global tv itu
> bohong. Semua baru
> jelas saat saya membaca 2 berita tentang marahnya
> keluarga korban
> terhadap berita globaltv di makasar di detikcom &
> elshinta.com.
> >
> > Saya sampai bertanya-tanya, apakah direktur
> pemberitaan global tv
> tidak tahu etika junalistik atau jangan-jangan tidak
> punya standar
> jurnalistik ? Di mana tanggung jawabnya kepada
> publik?
> >
> > Bagaimana tanggapan rekan2 globaltv yang ada di
> milis ini? Apa
> sebenarnya yang terjadi di redaksi anda?
> >
> > Di bawah ini saya copy 2 berita dari detikcom &
> elshinta.com soal
> kemarahan keluarga korban akibat berita ngawur
> globaltv:
> >
>
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
> >
> > Keluarga Korban AdamAir Protes Pemberitaan di TV
>
=== message truncated ===
Eka Zulkarnain
---------------------------------
Any questions? Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.