Sepengetahuan saya, bantuan AS ndak ada yg gratis seh!! namanya aza : soft-loan, dan di belakangnya ada syarat-syarat halus yang hrs dipenuhi oleh penerima bantuan.......jadi ndak ikhlas & tulus......... udah gitu, di Indon juga sebagian besar (katanya!) di korup.....apa iya?
untung aza cuma sedikit, coba kalo banyak? nambah2in utang luar negeri ajah......sementara ndak ada performance significant terhadap pengembangan kemajuan & pembangunan bangsa......... tetep miskin + banyak utang trus negara mo di-gade-in? inget AS, inget korban Citibank dengan credit-card-nya.......... dulu punya tv 14 inch, setelah punya credit card, malah ngga punya tv.... abis, gajinya ndak cukup buat bayar bunga .........hehehe! Salam, "Al-Mahmud Abbas" <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 01/15/2007 05:49 PM Please respond to [email protected] To [email protected] cc Subject Re: [mediacare] Palestina Lebih Prioritas daripada RI Pak Danny salah, yang benar memang AS.. karena AS sudah memprediksi bahwa kalaupun bantuan diberikan lebih ke Indonesia maka oleh Indonesia kemungkinan sebagian toh akan diberikan kepada (untuk membantu) 'saudara2nya' di Palestina. Jadi dari pada jalannya muter2 jangan2 malah habis dikorup lebih baik langsung saja. Mungkin juga jangan2 AS sudah bisik2 dengan para tokoh di sini... (????!!!!!!!!!!!!!!).. ihik..ihik... lucu kwadrat kan ?. Wassalam. On 1/14/07, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: DL - Haaah ..... bantuan AS ke Palestina lebih banyak dibanding bantuan AS ke Indonesia? Mungkin itu sebabnya AS dicaci-maki setan oleh muslim Indonesia, AS bagi-bagi duitnya sedikit sih ke Indonesia, he he he. Anyway, lucu kok tingkah laku muslim Indonesia, bolehlah jadi bahan tontonan banyolan dari luar negeri sini, ihik ihik .......... :-). SUARA PEMBARUAN DAILY The Global Nexus Palestina Lebih Prioritas daripada RI Christianto Wibisono Pada 15 Desember 2006 Or- ganization of Economic Cooperation and Development (OECD) mengumumkan ranking prioritas bantuan luar negeri AS ke Dunia Ketiga. Diluar Irak dan Afghanistan, Indonesia masuk sebagai juru kunci dari 10 besar. Dan yang mengejutkan, Palestina di nomor 9 memperoleh bantuan US$ 180 juta. Sedang Indonesia hanya US$ 161 juta. Karena penduduk Indonesia lebih dari 220 juta, maka jelas per kapita bantuan AS ke Palestina jauh berlipat ganda dibanding Indonesia. Bantuan ke Irak melebihi US$ 10 miliar begitu pula Afghanistan US$ 1,4 miliar. Di luar dua negara yang sedang perang itu, maka Sudan menduduki ranking pertama dengan US$ 771 juta, Ethiopia 625 juta, Mesir 397 juta, Pakistan 362 juta, Yordania 354 juta , Kolumbia 334 juta Uganda 242 juta, Serbia/Montenegro 181 juta. Setelah Palestina dan Indonesia, maka 8 negara lain ialah Haiti US$ 154 juta, Eritrea dan Congo masing masing 141 juta, Kenya 138 juta, Afrika Selatan 137 juta, Meksiko 129 juta, Zambia 124 juta, dan Nigeria 120 juta. Angka bantuan itu di luar bantuan militer yang jelas sangat besar untuk Pakistan dan Mesir dalam perang teror maupun dalam perimbangan terhadap Israel. Perkembangan mutakhir kemelut internal Palestina mengungkapkan bahwa Mesir memberi bantuan kepada kelompok Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas untuk menandingi Hamas. Sebanyak 2.000 laras senjata laras otomatis dan 22.000 dengan dua juta peluru diserahkan melalui Mesir kepada kelompok Fatah. Sementara di Teheran, Wali Kota Mohamad Baqer Qalibaf, pensiunan Marsekal Angkatan Udara, menguasai DPRD Teheran dan hanya menyisakan dua kursi untuk klik pendukung Presiden Ahmadinejad. Qalibaf sangat populer karena memperbaiki jalan raya Teheran yang berkubang, membersihkan sampah, dan membangun rekreasi kanak-kanak di daerah kumuh di selatan Teheran. Ahmadinejad dinilai hanya pintar berpidato mengutuk AS, tapi tidak melakukan tindakan konkret bagi perbaikan ekonomi dan nasib penduduk miskin Iran. Menghadapi Iran, elite politik Arab Saudi juga terpecah dua. Waperdam dan Menhan Pangeran Sultan termasuk garis keras yang tidak ingin melihat Iran menjadi polisi regional Timur Tengah bersenjata nuklir. Sementara kubu Menlu Saud al Faisal bisa menerima dialog dengan Teheran. Akibatnya terjadi dualisme politik Arab Saudi yang tercermin dalam heboh pergantian Dubes Arab Saudi di Washington DC. Selama 22 tahun, Pangeran Bandar (putra Pangeran Sultan) menjadi dubes terlama di Ibukota AS. Baru 15 bulan lalu ia digantikan oleh Pangeran Turki bin Faisal (saudara dari Menlu Pangeran Saud) yang ditarik dari Dubes di London. Sebelumnya Turki adalah Kepala Dinas Intelijen Arab Saudi, yang mengatur pengungsian keluarga Bin Laden dari AS , segera setelah teror 911. Pangeran Bandar tetap mondar mandir ke Washington bahkan Dubes Turki bin Faisal tidak tahu menahu kedatangan apalagi misi Bandar ke Ibukota AS. Ternyata Bandar melakukan manuver langsung ke Gedung Putih untuk tidak terlalu moderat dalam menghadapi Iran. Dubes Turki al Failsal mengundurkan diri dan akan diganti oleh diplomat muda Adel Al Jubier alumnus Georgetown University Washington DC. Adel sudah menjadi jubir dan public relations andal untuk Arab Saudi, bahkan sejak era Dubes Bandar bin Sultan. Diplomasi Global Di tengah percaturan diplomatik global yang serba "selingkuh" itu, bagaimana Indonesia bisa mencuat agar bisa mempunyai leverage atau bargaining position yang kuat dan memperoleh prioritas dalam ranking kepentingan global AS. Eduardo Lachica, mantan kolumnis The Wall Street Journal adalah pengagum Susilo Bambang Yudhoyono. Ia heran mengapa ide cemerlang Yudhoyono tentang Irak yang dilontarkan di Bogor tidak bergema. Saya menyatakan bahwa orang di Indonesia semua sibuk dan was-was kalau ada insiden dalam kunjungan mampir Bush ke Bogor. Jadi orang tidak mempunyai gagasan, wawasan, atau wacana untuk memanfaatkan pertemuan itu secara substansial. Kecuali mengamankan teater diplomatik itu secara audio visual. Substansi apa yang mestinya diperjuangkan oleh Indonesia dalam diplomasi global yang begitu rumit bila kita terjebak pada sikap apriori anti-AS, anti-Bush, anti-Barat, anti-asing dan segala macam retorika yang lebih Hamas dari Hamas, lebih Hezbollah dari Hezbollah, dan mungkin lebih Arab dari Arab Saudi sendiri. Hamas dan Hezbollah pun sekarang harus belajar berdiplomasi jika ingin memasuki medan kekuasaan politik dan tidak bisa lagi mengandalkan teorisme atau kekerasan. Fatah di bawah Mahmoud Abbas sekarang malah menjadi mitra yang dipercaya AS dalam melahirkan Palestina yang bersedia berkoeksistensi dengan Israel. Mesir dan Yordania dengan cerdik berdiplomasi dengan Israel dan kemudian menagih kuitansi bantuan militer ekonomi ke AS, yang jumlahnya tercermin dalam ranking yang diumumkan OECD. Begitu pula Pakistan dan India, semuanya berbentuk kemitraan strategis bernilai miliaran dolar. Pertanyaan Eduardo Lachica yang gagasannya untuk mengorbitkan ide perdamaian Timur Tengah dari Jakarta tentu sulit saya jawab karena publik dan elite di Jakarta, dalam persaingan domestik kadang-kadang tidak memperhitungkan kepentingan nasional secara arif bijaksana. Lebih Agresif Artinya, kalau Riyadh, Kairo, dan Amman berhati-hati dalam menyambut kemenangan Hezbollah yang berarti dominasi Iran di Timur Tengah yang semakin kokoh, maka elite Jakarta tampaknya malah lebih agresif dari Arab Saudi, Mesir, dan Yordania dalam "mengagungkan Teheran" sebagai kiblat dan model kekuatan mbalelo anti-AS. Dengan permainan diplomatik seperti itu, tentu saja Jakarta sulit "menjual agenda strategis". Penasihat Presiden Dr Syahrir menyatakan tidak akan mungkin kekuatan ekstremis radikal merebut kekuasaan di Indonesia. Kekuatan moderat, toleran, dan pluralis akan tetap dominan, mayoritas, dan menentukan politik luar negeri RI. Mudah-mudahan optimisme Bung Syahrir benar dan Jakarta bisa tegak punya misi, visi, dan strategi sendiri untuk mengutamakan kepentingan nasional Indonesia ketimbang menjadi "antek" siapapun. Mungkin kalau nanti ada waktu Eduardo Lachica yang akan berkunjung ke Jakarta untuk menjual ide Jakarta Plan for Middle East Peace Settlement, bisa bertemu Dr Syahrir dan juga Presiden Yudhoyono. Tentu saja semua itu harus bermuara konkret supaya Indonesia, tidak sekadar jadi "anak bawang". Melainkan benar benar memperoleh posisi dan intangible maupun tangible benefit yang setara dengan posisinya. Lucu sekali kalau demo di depan Hotel Indonesia memaki AS dan membela Palestina. Sementara Palestinanya sendiri kebagian bantuan yang jauh berlipat ganda dari RI yang malah cuma jadi footnote dalam daftar bantuan AS. Semua hanya gara-gara kita kurang bisa berdiplomasi, tapi ahli dalam demonstrasi hura maki tanpa manfaat. Penulis adalah pengamat masalah internasional Last modified: 8/1/07
gifRADPbjxeNn.gif
Description: GIF image
