Yang ini adalah salah satu cerita (beneran) dari mosaik sejarah transportasi di negeri ini. Beberapa
kali saya naik pesawat, feri, kereta, atau bis. Kecuali bus way (sementara), semua armada adalah mengkhawatirkan kalau tidak mengerikan. Tidak hanya itu, jangan tanya soal keterlambatan, ketidak nyamanan, copet, pengamen tanpa bakat sedikit pun, dll...Semua hal yg menyebalkan pada armada angkutan ini ternyata tetap ditolerir oleh penumpang, termasuk diri saya. Mengapa? Mungkin ini salah satu jawaban. Suatu saat saya naik KRL (ini pasar berjalan antara Bogor-Jakarta, yg salah satu pelanggan temporernya adalah pejabat eselon 1 nya Habibie pd waktu itu) pada jam berangkat kerja. Akibat aliran listrik terputus, kereta berhenti jauh dari stasiun terdekat. Setelah 2 jam berhenti, pada pukul 10 an pagi, udara mulai sesak, penumpang masih ramai kayak pasar. Banyak yg mengeluh banyak pula yg santai sambil main gaple. Tidak tahu apa sebabnya, tiba2 seorang ibu berteriak ngritik PJKA dengan baju penuh peluh. Dengan santainya seorang penumpang yg main gaple menanggapi: "Sudah lah bu, gak usah emosi, kereta itu kayak bini, biar kita omeli, kita naiki" .......... Mungkin cletukan ini juga menjadi alasan kita tetap terbang dengan armada tipe KRL.... ____________________________________________________________________________________ Need Mail bonding? Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users. http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091
