Maaf agak melenceng sedikit.... Sebagai umat yang menjunjung semua Nabi Allah dan Kitabnya, memang semestinya umat Islam juga membaca/mempelajari Kitab Taurat Nabi Musa, Kitab Jabur (Mazmur) Nabi Daud, dll. saya juga heran kenapa tidak ada pak Ustadz (setidaknya saya belum pernah dengar) menyuruh membaca Kitab Taurat dan Kitab Jabur. Saya pernah diberi tahu katanya semuanya sudah dipalsukan tapi yang asli yang mana/yang bagaimana belum pernah ditunjukkan juga. Yang pernah saya baca sekilas dari sudara2 nasrani sih isinya sebagian sejarah bangsa Yahudi dan ritual2nya sebagian berisi hukum Taurat sebagian ada anjuran2/ajaran/filsafat untuk mendorong orang supaya baik adanya, saya kira terlepas masalah palsu atau tidak setidaknya isinya seperti itu. Dan hukum Taurat jelas di situ disebutkan antara lain (kalau tidak salah) : 1. dilarang memiliki illah lain selain Allah (aslinya kalau tidak salah Al-illah, kurang lebih = yang mengatasi semua illah, penguasa roh). 2. dilarang menyembah berhala 3. dilarang membunuh 4. dilarang berzinah 5. dilarang berdusta 6. dilarang menginginkan segala sesuatu milik orang lain 7. dilarang mencuri. dll. yang menurut pemahaman saya memperkaya semangat/spiritualitas untuk berbuat lebih baik dan lebih memperkaya khasanah kebenaran. Bagi saya: saya tidak ingin kebenaran saya hanya sebatas apa yang disampaikan orang lain, saya bisa membaca dan tidak ada yang bisa melarang saya untuk ingin tahu bacaan lain. Sejauh bacaan itu memberikan hal-hal baik menurut nurani saya. Jadi oleh sebab itu sebetulnya tidak ada alasan untuk membenci atau mencurigai atau bahkan mengancam/melarang orang nasrani beribadah atau mendirikan tempat ibadah sebagaimana banyak terjadi di negara kesatuan RI. Termasuk soal siapa gerangan Allah.. ? mari kita pahami melalui referensi2, pemahaman2, bahkan mythologi2 primitif sekalipun sebagai pemerkaya pemahaman kepada orang lain juga. Sehingga melihat orang lain bisa lebih fair lebih terbuka, bukan sekedar melihat dari baju agamanya saja.
Terima kasih. Wassalam. On 1/16/07, Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menurut etimologi bahasa: Kata Allah bukanlah nama jati diri, melainkan status, yaitu illahi. Status yang membedakan manusia dari yang illahi, malaikat dll. Bandingkan tumbuh-tumbuhan dengan binatang juga. Al, El berarti di atas atau dapat dimengerti tuan atau Tuhan. Ketika nabi Musa minta tanda kepada Ellohim yang mendatanginya dalam nyala api, Musa bertanya sipakah Engkau? Allah menjawab: "Aku adalah Aku" dalam bahasa Ibrani dilavalkan dengan YHWH. Inilah nama pribadi Ellohim atau Allah atau Tuhan. Yesus pernah berkata pada guru-guru besar Jahudi. Sebelum Abraham Aku adalah Aku Ego eimi), artinya selalu exist, tidak berawal dan tidak berakhir, juga tdk pernah berubah. Exo 3:14 Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." (YHWH atau dibaca Yahweh) Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." Bandingkan dengan ucapan Yesus Joh 8:58 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (ego eimi) Dan nama Yesus sendiri dalam b. Ibrani adalah Yehoshua, artinya Yahwe Yang Menyelamatkan. Tuhan dalam Alkitab bukan hanya memperkenalkan nama pribadinya, IA bahkan memperkenalkan kehebatannya pada Musa dan seperti DIA mendatangi Musa DIA di tengah api yang menyala-nyala, kemudian DIA datang dalam bentuk manusia biasa dalam diri Yesus dengan nama yang sama. Ia membuktikan bahwa dia dapat bangkit dari kematian, sesuai dengan namanya Yehoshua, Yahweh Yang menyelamatkan. Nabi Daud dalam Mazmur (Kitab Zabur)nya mewakili pengenalan bangsa Yahudi terhadap Yang Maha Kuasa dengan menggunakan tiga sebutan yang berbeda, ditujukan pada SATU, Yang Illahi: (Psa 136:1) Bersyukurlah kepada TUHAN (YHWH), sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (Psa 136:2) Bersyukurlah kepada Allah (Ellohim) segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (Psa 136:3) Bersyukurlah kepada Tuhan (Adonai atau raja, tuan) segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Pemazmur mengajak umat besyukur kepada YHWH yang memperkenalkan diri pada Musa di Padang Gurun. Itulah nama Allah atau Illah orang Jahudi. Karena mereka dilarang menyebut nama pribadi Allah dengan sembarangan (Baca 10 Hukum Taurat), maka tulisan YHWH itu selalu mereka baca Adonai (artinya Tuhan). Tapi dalam terjemahan, kata YHWH semua huruf selalu ditulis dengan huruf besar, tapi kalau Adonai, diterjemahkan dengan Tuhan, yaitu hanya hurup awal yang huruf besar. Ayat dua pemazmur mengajak umat bersyukur pada Allah, yaitu yang Illahi, Khalik Langit dan Bumi. Dia adalah pencipta, Dia tdk sama dengan Malaikat ataupun manusia. Dia adalah Allah. Ayat tiga, pemazmur mengajak umat untuk bersyukur kepada Adonai (Tuhan, tuan, raja, penguasa dari segala penguasa yang ada) Jadi ajakan bersyukur itu ditujukan kepada YAHWE (nama pribadi) yang adalah Allah dari semua yang diperallahkan manusia dan Tuhan atau Penguasa dari segala yang berkuasa. Belajar B.Arab (etimologi) dimana Pak? Salam Roslina Sebelum Islam, masyarakat sekitar Kabah menyembah ratusan Illah dengan nama-namanya, di Kabah tersebut, tetapi illah tertinggi dinamai Allah. H. Nadri Saaduddin wrote: > > Kalau Tuhan itu ada pasti Dia memperkenalkan diriNya . Dan kalau Tuhan itu > tidak ada , bagaimana mungkin Dia memperkenalkan dirinya. Tuhan > memperkenalkan dirinya lewat namaNya sebagaimana juga manusia > memperkenalkan > dirinya lewat namanya. > > Adalah Haji Nadri Saaduddin yang membuktikan dirinya dengan memperkenalkan > nama dirinya dengan Nadri. Nadri adalah nama diri dan hanya satu saja nama > diri atau proper name. Proper name manusia yang juga punya nama Uwan Oji > adalah Nadri. Uwan Oji sendiri bukanlah nama diri dan juga bukan proper > name. Uwan Oji hanya memeliki satu nama diri yakni Nadri. Dari nama > dirilah > kita bisa mengenal selanjutnya siapa sebeanrnya Uwan Oji dan bernama Nadri > itu. > > Tuhan hanya bisa dikenali dengan nama dirinNya yanjgy kita kenal dengan > Allah itu...Tuhan memperkenalkan dirinya dengan menyebut dirinya > dengan nama > Allah sebagaimana saya juga memperkenalkan dirinya saya dengan Nadri. > > Bukti adanya saya adalah saya memperkenalkan dirin saya dengan > menyebut nama > saya sendiri NADRI. Adanya nama Nadri sebagai bukti kebveradaan dan > eksistensi diri saya ini. > > Dengan demikian eksistensi Tuhan telah dibuktikanNya dengan memperkenalkan > diriNya dengan menyebut namaNya Allah. Nama Allah adalah sebagai bukti > adaNya Tuhan itu. > > WassalamH. Nadri Saaduddin > Jalan Imam Bonjol 12 A > Balaikandi Koto Nan Ompek > Telp. +62-0752-92367 > Mobile:081363259195 > Payakumbuh 26225 > Sumatera Barat > > __________________________________________________ > > __________________________________________________ > Apakah Anda Yahoo!? > Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik > terhadap spam > http://id.mail.yahoo.com <http://id.mail.yahoo.com> > >
