Yang butuh bantuan itu siapa??? 
Kalau lebih kecil dari negara-negara lain juga apa masalahnya.
Di Indonesia ini bantuan Hibah dan utang numpuk, daya serap pemerintah untuk 
memanfaatkannya secara tepat cuma sekitar 50% .

APBN daya serapnya juga rendah....
jadi buat apa cari-cari bantuan ke sana kemari ?
Selain daya serap yang rendah, setiap bantuan hibah atau utang itu pasti punya 
konsekwensi alias persyaratan-persayaratan. 

Sebagian besar dari bantuan juga balik lagi ke negara pemberi bantuan, karena 
harus membayar konsultan asing dan membeli barang-barang dari negara pemberi 
bantuan.

Jadi kenapa Pak christian itu gelisah dengan kecilnya bantuan dari Amerika.
Makin kecil bantuan dari mana pun....makin mandiri kita. 
Makin asyik...nggak diatur-atur oleh negara-negara pemberi bantuan .....ya khan 


  ----- Original Message ----- 
  From: Danny Lim 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, January 16, 2007 6:05 PM
  Subject: [mediacare] Re: Palestina Lebih Prioritas daripada RI


  Haaaah ....... Indonesia menjadi teritorial AS? Jangan donk, kembali 
  menjadi koloni Belanda saja lagi, soal badai Katrina sih gecel buat 
  Belanda, wong laut North Atlantic aja bisa dibendung.

  Dijamin di Indonesia kagak ada banjir bandang lagi kalau Belanda 
  yang memerintah. Juga ngga bakal ada tuh kapal laut tenggelam karena 
  cuaca buruk. Minggu lalu ada storm di Belanda dengan kekuatan 9 
  alias kecepatan anginnya mencapai 120 km/jam, tapi semua 
  selamat 'tuh sebab Dinas Meteorologi Belanda telah mengeluarkan 
  alarm bahaya sehari sebelumnya yang disiarkan ke seluruh Belanda 
  oleh media Belanda. Hanya ada beberapa mobil ketiup angin masuk ke 
  selokan dan beberapa atap rumah beterbangan. Selebihnya beberapa 
  pengendara sepeda lecet-lecet karena dia dan sepedanya terbang 
  beberapa meter terbawa angin. Untuk menangani akibat Katrina 'kan AS 
  juga menyewa tenaga ahli dari Belanda, anda ngga tahu ya, ihik 
  ihik ...... :-).

  Salam hangat, Danny Lim, oooo I love my new country more and more 
  and more, ehm ehm ....... :-).

  --- In [email protected], "Kuroda Takumi" <[EMAIL PROTECTED]> 
  wrote:
  >
  > Bwahahaha, lucu. Saya punya ide yg lebih lucu lagi. Bagaimana kalau
  > Indonesia sekalian memproklamirkan diri sebagai Teritori milik AS,
  > entah jadi negara bagian (kayaknya ga mungkin soalnya bintang di
  > benderanya dah penuh :P) atau persemakmuran (alias jajahan).
  > Anak2 muda akan direkrut masuk militer untuk dikirim berjuang dan 
  jadi
  > martir di negara2 teroris, dan kalau ada bencana seperti badai
  > katrina, penduduk daerah bencana akan memperoleh ujian survival 
  dari
  > pemerintah agar jadi lebih kuat dalam menghadapi bencana ... ^^###
  > 
  > On 1/15/07, Al-Mahmud Abbas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  > >
  > > Pak Danny salah, yang benar memang AS.. karena AS sudah 
  memprediksi bahwa kalaupun bantuan diberikan lebih ke Indonesia maka 
  oleh Indonesia kemungkinan sebagian toh akan diberikan kepada (untuk 
  membantu) 'saudara2nya' di Palestina. Jadi dari pada jalannya muter2 
  jangan2 malah habis dikorup lebih baik langsung saja. Mungkin juga 
  jangan2 AS sudah bisik2 dengan para tokoh di sini... 
  (????!!!!!!!!!!!!!!).. ihik..ihik... lucu kwadrat kan ?.
  > >
  > > Wassalam.
  > >
  > > On 1/14/07, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  > > >
  > > > DL - Haaah ..... bantuan AS ke Palestina lebih banyak 
  dibanding bantuan AS ke Indonesia? Mungkin itu sebabnya AS dicaci-
  maki setan oleh muslim Indonesia, AS bagi-bagi duitnya sedikit sih 
  ke Indonesia, he he he. Anyway, lucu kok tingkah laku muslim 
  Indonesia, bolehlah jadi bahan tontonan banyolan dari luar negeri 
  sini, ihik ihik .......... :-).
  > > >
  > > >
  > > > SUARA PEMBARUAN DAILY ________________________________
  > 
  > > > The Global Nexus
  > > >
  > > >
  > > > Palestina Lebih Prioritas daripada RI
  > > >
  > > >
  > > >
  > > > Christianto Wibisono
  > > >
  > > > Pada 15 Desember 2006 Or- ganization of Economic Cooperation 
  and Development (OECD) mengumumkan ranking prioritas bantuan luar 
  negeri AS ke Dunia Ketiga.
  > > >
  > > > Diluar Irak dan Afghanistan, Indonesia masuk sebagai juru 
  kunci dari 10 besar. Dan yang mengejutkan, Palestina di nomor 9 
  memperoleh bantuan US$ 180 juta. Sedang Indonesia hanya US$ 161 
  juta.
  > > >
  > > > Karena penduduk Indonesia lebih dari 220 juta, maka jelas per 
  kapita bantuan AS ke Palestina jauh berlipat ganda dibanding 
  Indonesia.
  > > >
  > > > Bantuan ke Irak melebihi US$ 10 miliar begitu pula Afghanistan 
  US$ 1,4 miliar. Di luar dua negara yang sedang perang itu, maka 
  Sudan menduduki ranking pertama dengan US$ 771 juta, Ethiopia 625 
  juta, Mesir 397 juta, Pakistan 362 juta, Yordania 354 juta , 
  Kolumbia 334 juta Uganda 242 juta, Serbia/Montenegro 181 juta.
  > > >
  > > > Setelah Palestina dan Indonesia, maka 8 negara lain ialah 
  Haiti US$ 154 juta, Eritrea dan Congo masing masing 141 juta, Kenya 
  138 juta, Afrika Selatan 137 juta, Meksiko 129 juta, Zambia 124 
  juta, dan Nigeria 120 juta.
  > > >
  > > > Angka bantuan itu di luar bantuan militer yang jelas sangat 
  besar untuk Pakistan dan Mesir dalam perang teror maupun dalam 
  perimbangan terhadap Israel.
  > > >
  > > > Perkembangan mutakhir kemelut internal Palestina mengungkapkan 
  bahwa Mesir memberi bantuan kepada kelompok Fatah pimpinan Presiden 
  Mahmoud Abbas untuk menandingi Hamas.
  > > >
  > > > Sebanyak 2.000 laras senjata laras otomatis dan 22.000 dengan 
  dua juta peluru diserahkan melalui Mesir kepada kelompok Fatah.
  > > >
  > > > Sementara di Teheran, Wali Kota Mohamad Baqer Qalibaf, 
  pensiunan Marsekal Angkatan Udara, menguasai DPRD Teheran dan hanya 
  menyisakan dua kursi untuk klik pendukung Presiden Ahmadinejad.
  > > >
  > > > Qalibaf sangat populer karena memperbaiki jalan raya Teheran 
  yang berkubang, membersihkan sampah, dan membangun rekreasi kanak-
  kanak di daerah kumuh di selatan Teheran.
  > > >
  > > > Ahmadinejad dinilai hanya pintar berpidato mengutuk AS, tapi 
  tidak melakukan tindakan konkret bagi perbaikan ekonomi dan nasib 
  penduduk miskin Iran.
  > > >
  > > > Menghadapi Iran, elite politik Arab Saudi juga terpecah dua. 
  Waperdam dan Menhan Pangeran Sultan termasuk garis keras yang tidak 
  ingin melihat Iran menjadi polisi regional Timur Tengah bersenjata 
  nuklir. Sementara kubu Menlu Saud al Faisal bisa menerima dialog 
  dengan Teheran.
  > > >
  > > > Akibatnya terjadi dualisme politik Arab Saudi yang tercermin 
  dalam heboh pergantian Dubes Arab Saudi di Washington DC. Selama 22 
  tahun, Pangeran Bandar (putra Pangeran Sultan) menjadi dubes 
  terlama di Ibukota AS.
  > > >
  > > > Baru 15 bulan lalu ia digantikan oleh Pangeran Turki bin 
  Faisal (saudara dari Menlu Pangeran Saud) yang ditarik dari Dubes 
  di London. Sebelumnya Turki adalah Kepala Dinas Intelijen Arab 
  Saudi, yang mengatur pengungsian keluarga Bin Laden dari AS , 
  segera setelah teror 911.
  > > >
  > > > Pangeran Bandar tetap mondar mandir ke Washington bahkan Dubes 
  Turki bin Faisal tidak tahu menahu kedatangan apalagi misi Bandar 
  ke Ibukota AS.
  > > >
  > > > Ternyata Bandar melakukan manuver langsung ke Gedung Putih 
  untuk tidak terlalu moderat dalam menghadapi Iran.
  > > >
  > > > Dubes Turki al Failsal mengundurkan diri dan akan diganti oleh 
  diplomat muda Adel Al Jubier alumnus Georgetown University 
  Washington DC. Adel sudah menjadi jubir dan public relations andal 
  untuk Arab Saudi, bahkan sejak era Dubes Bandar bin Sultan.
  > > >
  > > >
  > > >
  > > > Diplomasi Global
  > > >
  > > > Di tengah percaturan diplomatik global yang serba "selingkuh" 
  itu, bagaimana Indonesia bisa mencuat agar bisa mempunyai leverage 
  atau bargaining position yang kuat dan memperoleh prioritas dalam 
  ranking kepentingan global AS.
  > > >
  > > > Eduardo Lachica, mantan kolumnis The Wall Street Journal 
  adalah pengagum Susilo Bambang Yudhoyono.
  > > >
  > > > Ia heran mengapa ide cemerlang Yudhoyono tentang Irak yang 
  dilontarkan di Bogor tidak bergema. Saya menyatakan bahwa orang di 
  Indonesia semua sibuk dan was-was kalau ada insiden dalam kunjungan 
  mampir Bush ke Bogor.
  > > >
  > > > Jadi orang tidak mempunyai gagasan, wawasan, atau wacana untuk 
  memanfaatkan pertemuan itu secara substansial. Kecuali mengamankan 
  teater diplomatik itu secara audio visual.
  > > >
  > > > Substansi apa yang mestinya diperjuangkan oleh Indonesia dalam 
  diplomasi global yang begitu rumit bila kita terjebak pada sikap 
  apriori anti-AS, anti-Bush, anti-Barat, anti-asing dan segala macam 
  retorika yang lebih Hamas dari Hamas, lebih Hezbollah dari 
  Hezbollah, dan mungkin lebih Arab dari Arab Saudi sendiri.
  > > >
  > > > Hamas dan Hezbollah pun sekarang harus belajar berdiplomasi 
  jika ingin memasuki medan kekuasaan politik dan tidak bisa lagi 
  mengandalkan teorisme atau kekerasan.
  > > >
  > > > Fatah di bawah Mahmoud Abbas sekarang malah menjadi mitra yang 
  dipercaya AS dalam melahirkan Palestina yang bersedia 
  berkoeksistensi dengan Israel.
  > > >
  > > > Mesir dan Yordania dengan cerdik berdiplomasi dengan Israel 
  dan kemudian menagih kuitansi bantuan militer ekonomi ke AS, yang 
  jumlahnya tercermin dalam ranking yang diumumkan OECD. Begitu pula 
  Pakistan dan India, semuanya berbentuk kemitraan strategis bernilai 
  miliaran dolar.
  > > >
  > > > Pertanyaan Eduardo Lachica yang gagasannya untuk mengorbitkan 
  ide perdamaian Timur Tengah dari Jakarta tentu sulit saya jawab 
  karena publik dan elite di Jakarta, dalam persaingan domestik 
  kadang-kadang tidak memperhitungkan kepentingan nasional secara 
  arif bijaksana.
  > > >
  > > >
  > > >
  > > > Lebih Agresif
  > > >
  > > > Artinya, kalau Riyadh, Kairo, dan Amman berhati-hati dalam 
  menyambut kemenangan Hezbollah yang berarti dominasi Iran di Timur 
  Tengah yang semakin kokoh, maka elite Jakarta tampaknya malah lebih 
  agresif dari Arab Saudi, Mesir, dan Yordania dalam "mengagungkan 
  Teheran" sebagai kiblat dan model kekuatan mbalelo anti-AS.
  > > >
  > > > Dengan permainan diplomatik seperti itu, tentu saja Jakarta 
  sulit "menjual agenda strategis".
  > > >
  > > > Penasihat Presiden Dr Syahrir menyatakan tidak akan mungkin 
  kekuatan ekstremis radikal merebut kekuasaan di Indonesia. Kekuatan 
  moderat, toleran, dan pluralis akan tetap dominan, mayoritas, dan 
  menentukan politik luar negeri RI.
  > > >
  > > > Mudah-mudahan optimisme Bung Syahrir benar dan Jakarta bisa 
  tegak punya misi, visi, dan strategi sendiri untuk mengutamakan 
  kepentingan nasional Indonesia ketimbang menjadi "antek" siapapun.
  > > >
  > > > Mungkin kalau nanti ada waktu Eduardo Lachica yang akan 
  berkunjung ke Jakarta untuk menjual ide Jakarta Plan for Middle 
  East Peace Settlement, bisa bertemu Dr Syahrir dan juga Presiden 
  Yudhoyono.
  > > >
  > > > Tentu saja semua itu harus bermuara konkret supaya Indonesia, 
  tidak sekadar jadi "anak bawang". Melainkan benar benar memperoleh 
  posisi dan intangible maupun tangible benefit yang setara dengan 
  posisinya. Lucu sekali kalau demo di depan Hotel Indonesia memaki 
  AS dan membela Palestina.
  > > >
  > > > Sementara Palestinanya sendiri kebagian bantuan yang jauh 
  berlipat ganda dari RI yang malah cuma jadi footnote dalam daftar 
  bantuan AS. Semua hanya gara-gara kita kurang bisa berdiplomasi, 
  tapi ahli dalam demonstrasi hura maki tanpa manfaat.
  > > >
  > > >
  > > >
  > > > Penulis adalah pengamat masalah internasional
  > > >
  > -- 
  > Ezda
  > => S2D4 the World
  >



   

  __________ NOD32 1981 (20070116) Information __________

  This message was checked by NOD32 antivirus system.
  http://www.eset.com

Kirim email ke